Ayo Netizen

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Oleh: Malia Nur Alifa
Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)

Kisah-kisah pendudukan Jepang di Bandung saya dapatkan secara bertahap dalam masa riset tahun 2009 hingga 2022. Selain kisah-kisah masa lalu yang dialami langsung oleh kakek saya dalam masa pendudukan Jepang, saya pun mendapatkan kisah-kisah masa pendudukan Jepang dari dua orang narasumber utama. Yang pertama adalah om Billy Janz, ia adalah cucu dari administratur perkebunan kina Jayagiri dan pak Wibowo, seorang fotografer amatir yang menjalani masa pra remajanya di masa pendudukan Jepang.

Kisah-kisah lisan tersebut saya catat dalam beberapa buku catatan pribadi saya. Tidak berhenti sampai di sana, saya pun terus menggali data-data penunjang lainnya, seperti tulisan-tulisan di beberapa buku, majalah dan arsip, sehingga terlahirlah sebuah kesatuan kisah yang akan saya tuliskan sekarang.

Saya sangat penasaran dengan pendidikan di Bandung yang terjadi di masa pendudukan Jepang, sehingga mungkin yang akan saya angkat sekarang adalah soal pendidikan terlebih dahulu, baru kemudian akan saya angkat pula tentang kisah-kisah propaganda yang terjadi di Bandung dalam masa pendudukan Jepang.

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri. Kendala yang paling sering ditemui pada saat itu adalah soal pengadaan alat-alat pelajaran, khususnya buku-buku yang harus diganti dan disesuaikan dengan keadaan.

Sampai bulan September 1942, jumlah sekolah yang dibuka di kota Bandung hanya 22 buah, termasuk 3 buah sekolah gadis dan sekolah kepandaian putri. Pada bulan Juli 1942, berarti baru genap 4 bulan Jepang menduduki Bandung, sekolah putri dibuka menempati bekas gedung Mulo di jalan Jawa (sekarang SMPN 5 Bandung), kisah ini diceritakan dengan rinci oleh pak Wibowo pada akhir 2017 di rumahnya di bilangan Stiabudhi, Bandung. Beliau masih ingat betul ketika akan memasuki sekolah, para siswa-siswa tersebut harus melakukan salam ala Jepang dengan membungkukkan badan, apabila ada yang kurang membungkuk kepala mereka akan terus diketuk oleh tongkat kayu, hingga salam penghormatan itu bisa sempurna dilakukan para siswa.

Para siswa yang diterima di sana harus melakukan beberapa persyaratan, antara lain adalah berijazah HIS (Hollandsch Inlandsche School), HBS (Hogere Burgerschool), Van Deventer School, HIK (Hogere Lager Kweekschool) dan Volksschool. Pada saat itu siswa di sekolah putri berjumlah 276 orang. Sekolah ini hanya memiliki dua kelas dengan tujuh buah kelas. Lama pendidikan di sekolah ini adalah 3 tahun.

Bagi murid yang lulus menempuh ujian dapat menempuh ujian untuk masuk ke Sekolah Rumah Tangga Menengah. Selain itu pun di waktu yang bersamaan dibuka sekolah pertukangan di kawasan Ciroyom (SMKN 12). Murid-murid yang diterima di sekolah pertukangan ini ialah murid-murid yang harus memiliki ijazah Schakeschool atau sekolah teknik dan Ambachtschool. Murid yang diterima tidak terbatas dari dalam kota Bandung saja, namun mereka pun datang dari kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa.

Lalu terdapat juga sekolah menengah yang dibuka di jalan Gelriasstraat no 22 (sekarang Jalan Bahureksa). Sekolah ini menerima siswanya dengan syarat harus memiliki ijazah atau pernah menempuh pendidikan di HBS, Lyseum, HIS dan MULO. Satu yang menggembirakan dalam penerimaan murid sekolah masa pendudukan Jepang di Bandung ialah tidak lagi ada diskriminasi antara anak-anak pribumi dan nonpribumi dan anak-anak golongan menak ataupun rakyat biasa. Demikian juga dengan guru-gurunya yang terdiri dari beberapa lulusan dari macam-macam sekolah pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dipersamakan haknya. Semuanya dilakukan untuk mengejar prestasi bagi semua anak-anak dalam semua lapisan.

Semuanya diharapkan meningkatkan semangat belajar dengan dihapuskannya garis pemisah yang selama ini dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Tujuan pemerintah Jepang adalah memanfaatkan sumber daya manusia untuk kebutuhan prajurit. Propaganda-propaganda pun digaungkan di kalangan para guru sehingga dapat menularkan hal tersebut kepada para siswanya. Selain guru, pihak Jepang juga mencekoki propaganda kepada masyarakat melalui para pemuka agama, pemuka masyarakat dan tokoh politik.

Lalu pada 1 Agustus 1943 dibukalah kursus membaca dan berhitung. Dalam hal ini ditunjuklah Sumitro dari Prianganshu, Jayawia dari Bandungshiyakucho, Tjokro Suharto dari putra cabang Prianganshu dan Ki sastra dari redaksi Tjahaja. Pada tanggal 5 Februari 1943 kantor pengajaran Kotapradja Bandung membuka pelajaran bahasa Jepang yang bertempat di:

  • Sekolah Rakyat no 34 di Verlengde Regentsweg 18 (sekarang Jalan Dewi Sartika), untuk guru-guru di kota Bandung, para pekerja Kotsubu Bunsitsu, kantor telepon, pajak, rumah gadai.
  • Sekolah Rakyat no 6, yang berada di Gang Asmi (SD Asmi) untuk pegawai Kogyo Jimusho, Seibu Denki Jigyo Kosha dan campuran.
  • Sekolah Rakyat no 3, di Jalan Lengkong Besar (SD Lengkong), untuk campuran.
  • Sekolah Rakyat no 13, di Nieusstraat (SMP 1 Jl. Kesatriaan), untuk pegawai Rikugun Kinine Seizoso (pabrik kina) dan campuran.
  • Sekolah Rakyat no 8, di Javastraat (SMP 5) untuk para pegawai rumah gadai.
  • Sekolah Rakyat no 32, Schoolweg (SD Banjarsari) untuk campuran.
  • Sekolah Rakyat no 33, di jalan Titimplik untuk campuran.
  • Bekas gedung loji St. Jan, untuk campuran.

Kursus-kursus bahasa Jepang tersebut tidak gratis, semua siswanya harus membayar sebesar f.0,50 untuk pegawai yang berpenghasilan f. 25 dan f. 0,25 untuk para pegawai yang berpenghasilan di bawah f. 25.

Jadi warga Bandung saat itu diwajibkan mengikuti kursus bahasa Jepang, dan mulai dilatih berbahasa dan menulis kanji Jepang dalam keseharian. Sebuah kisah yang jarang sekali kita dengar bahkan jarang dibahas dalam buku sejarah di sekolah. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam