Ayo Netizen

Butiran Debu Kapur yang Mengundang Gangguan Saluran Pernapasan

Oleh: Dias Ashari
Pohon yang penuh debu halus dari pertambangan kapur. (Minggu, 19/06/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Beberapa bulan ke belakang saya pernah melewati Jalan Cipatat ketika akan menengok teman yang mengalami kecelakaan tunggal tidak jauh dari puskemas Rajamandala. Awalnya saya merasa baik-baik saja melewati jalan yang beroperasi sebuah pertambangan. Hanya saja ada sedikit kejanggalan dan keanehan yang pada mulanya saya mengira itu adalah hal mistis.

Namun beberapa hari ke belakang saya baru menyadari ketika kembali ke cianjur melewati kawasan ini. Vibes masuk jalanan ini memang sangat beda dibandingkan jalur sebelumnya. Ternyata rasa aneh yang sebelumnya saya rasakan adalah akibat dari butiran debu yang berterbangan. Rasanya memang meninggalkan rasa sesak di dada padahal kondisinya saya mengenakan masker. Mata saya rasanya sepet seperti ada kabut putih yang menghalangi pandangan.

Saat keberangkatan saya masih belum menyadari bahwa debu itu berasal dari pertambangan kapur tapi setelah pulang kembali menuju bandung, tak sengaja justru saya melihat di sebelah kiri jalan sebuah gerbang yang di dalamnya terdapat banyak gunungan batu kapur. Saya masih belum yakin sampai pada akhirnya pagi ini saya melihat tulisan yang ditampilkan di beranda portal ayobandung.

Saat melihat pohon-pohon di sekitar jalanan tersebut berwarna silver saya kira hanya karena hama. Namun setelah diperhatikan dengan seksama ternyata daun-daun tersebut tertutupi oleh butiran debu dari kapur yang melayang hingga hinggap di sejumlah pohon. Sepanjang pohon yang pernah saya lihat di jalanan raya yang lain belum ada yang sekotor di Jalan Cipatat.

Lalu dalam perjalanan tersebut saya berpikir dan mempertanyakan sesuatu.

Menulis ini mengingatkan saya pada sebuah meme di media sosial yaitu sebuah gambaran ai dengan narasi ketika Kabupaten Bandung Barat turun salju. Dalam foto tersebut lengkap dipenuhi dengan beberapa motor dan mobil yang melintas. Awalnya meme itu hanya guyonan saja tak menyangka setelah saya melewati kawasan tersebut ternyata ini adalah sebuah fakta.

Lewat fenomena tersebut saya menyoroti satu isu kesehatan yang berdampak kurang baik bagi masyarakat sekitar. Kehidupan manusia memang tidak pernah bisa lepas dari kehidupan lingkungannya baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Berdasarkan sebuah jurnal yang berjudul "Analisis Dampak Penambangan Batu Kapur terhadap Lingkungan di Kecamatan Nusa Penida" menyoroti sebuah UU No.32 Tahun 2009 ayat 1 tentang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang memepengaruhi alam itu sendiri baik kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Manusia dengan akal budinya mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi kondisi lingkungan hidupnya dan sebaliknya lingkungan hidup akan memepengaruhi manusia.

Perilaku manusia yang melebihi batas memang seringkali berdampak buruk bagi lingkungannya. Banyak dari manusia yang lebih sulit untuk menjaga dibandingkan dengan mengeksploitasi kekayaan lingkungan. Padahal ketika lingkungan berubah maka manusia pun akan mendapatkan akibatnya. Salah satunya melalui kondisi Jalan Cipatat hari ini di mana hak manusia atau warga yang tinggal di lingkungan sekitar kehilangan hak untuk mendapat udara yang bersih.

Sebagaimana yang sudah banyak dijelaskan dari sisi medis bahwa debu atau polusi yang terus menerus terhirup akan mempengaruhi kesehatan pernapasan manusia. Debu kapur yang berhamburan di udara mengandung kalsium karbonat dan partikel silika yang bisa menembus saluran pernapasan. Dalam jangka waktu yang lama tentu akan mengakibatkan gangguan pernapasan seperti ISPA, Pneumonokoniosis dan PPOK. Diantara semua dagnosa tersebut yang paling berbahaya adalah ketika sudah mengalami PPOK karena penyakit ini artinya kondisi paru-paru sudah rusak membuat penderitanya harus menjalani pengobatan jangka panjang hingga seumur hidup. Meski hari ini penyakit tersebut di klaim oleh BPJS tapi bayangkan jika semakin banyakpenderitanya apakah dana yang dianggarkan pemerintah akan mencukupi ?

Tentu mencegah lebih baik dibandingkan mengobati. Semoga melalui kejadian ini pemerintah setempat bisa peduli dengan kesehatan masyarakat uang tinggal disekitarnya untuk melakukan pengecekan kesehatan secara berkala. Bahkan jika bisa daeraj tersebut di evaluasi karena sudah menjadi tempat tinggal yang tidak layak untuk kualitas kesehatan. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam