Ayo Netizen

Kala Dingin di Bandung Jadi Tidak Adil

Oleh: Djoko Subinarto
Ilustrasi suhu dingin di Kota Bandung. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)

BANDUNG sedang dingin-dinginnya saat ini. Banyak yang bilang ini romantis. Kopi panas, jaket tebal, udara segar. Tapi, kalau dilihat lebih dekat, dingin di Bandung saat ini tidak dirasakan sama oleh semua orang. Ada yang menikmatinya. Ada juga yang harus menahannya.

Di kota yang sama, suhu mungkin bisa terasa berbeda. Ini bukan gara-gara termometer berubah, melainkan karena cara kita tinggal yang berbeda.

Coba bayangkan ada dua tempat di Bandung. Satu rumah di kawasan elite, dengan bangunan rapi, dinding tebal, ventilasi terkontrol, mungkin pula ada pemanas air dan pengatur suhu ruangan. Satu lagi rumah di permukiman padat, berdinding tipis, ventilasi seadanya, lantainya pun kadang masih lembap.

Secara angka, suhu mungkin sama, katakanlah 16 derajat Celcius di pagi hari. Tapi, secara pengalaman, bakal berbeda jauh. Inilah yang disebut ketimpangan termal. Ia bukan sekadar soal suhu panas dan dingin, tapi soal siapa yang bisa mengendalikan lingkungannya, dan siapa yang hanya bisa menerima.

Di malam hari, ketika suhu semakin turun, rumah dengan material yang baik akan lebih stabil. Dinding menyimpan panas dari siang hari, pelepasannya lebih lambat. Suhu di dalam ruangan tidak ikut turun drastis.

Sebaliknya, di rumah dengan material ringan -- seng, papan tipis, atau tembok tanpa insulasi -- panas siang bisa cepat hilang. Begitu matahari tenggelam, suhu langsung ikut anjlog. Udara dingin pun masuk tanpa hambatan.

Kehilangan panas

Pada dasarnya, perpindahan panas terjadi melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Rumah yang “bocor” secara termal akan kehilangan panas lebih cepat. Dan banyak rumah di permukiman padat memang berkarakter seperti itu.

Belum lagi yang menyangkut soal kepadatan. Rumah berdempetan memang bisa sedikit menahan angin, tapi juga sering minim sirkulasi udara sehat. Lembap, dingin, dan kadang pengap jadi satu paket komplet.

Sementara itu, di kawasan elite, ruang antarbangunan umumnya lebih lega. Sirkulasi udara lebih baik, dan juga lebih terkontrol. Ada pilihan untuk membuka atau menutup diri dari udara luar.

Alhasil, warga dengan kemampuan ekonomi berlebih punya opsi untuk melawan udara dingin. Mereka bisa beli jaket hangat berkualitas. Bisa minum air panas kapan saja. Bahkan bisa menambah perangkat pengatur suhu ruangan.

Sementara di sisi lain kota, adaptasi sering kali bukan soal pilihan, tapi soal bertahan. Misalnya, selimut mungkin terbatas. Pakaian hangat tidak selalu tersedia. Air panas bukan sesuatu yang otomatis ada. Dingin yang bagi sebagian orang “nyaman”, bagi yang lain bisa jadi tekanan.

Soal kesehatan

Ditilik dari aspek kesehatan, udara dingin bisa memicu penyempitan saluran nafas. Bagi penderita asma atau masalah paru, ini bukan hal sepele.

Karenanya, ketimpangan termal bisa pjuga berubah jadi ketimpangan kesehatan. Dan yang sering tidak terlihat, dampaknya bersifat akumulatif. Bukan sekali dua kali dingin, tapi paparan berulang setiap malam selama musim kemarau.

Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

Bagi warga kelas menengah atas, mereka mungkin bisa mengatur aktivitas. Contohnya, tidak keluar malam, bangun lebih siang, atau bekerja dari ruang yang nyaman.

Sementara bagi banyak pekerja informal, mereka justru harus tetap aktif di saat dingin menyelimuti Bandung. Misalnua, pedagang yang harus ke pasas dini hari, pengemudi, buruh pasar. Mereka berada di luar saat suhu paling rendah menyergap kota ini. Artinya, bagi mereka, dingin bukan pilihan, tapi kondisi kerja.

Tidak semua wilayah

Karena Bandung berupa cekungan, udara dingin cenderung mengalir turun dan berkumpul di area tertentu. Imbasnya, tidak semua wilayah merasakan intensitas dingin yang sama. Wilayah yang lebih rendah, lebih padat, bisa jadi lebih “menyimpan” dingin. 

Bisa dibilang ketimpangan termal jarang masuk percakapan publik. Kita selama ini lebih sering bicara banjir, macet, atau polusi. Dan banyak kebijakan kota memang belum benar-benar menyentuh aspek ketimpangan termal ini. 

Faktanya, perumahan masih dilihat dari sisi kepadatan dan legalitas, belum dari kenyamanan termal. Padahal, desain bangunan, material, dan tata ruang sangat menentukan.

Hal-hal sederhana seperti arah bangunan, bukaan jendela, atau jenis atap bisa mengubah pengalaman suhu secara signifikan. Tapi,  ini pun butuh pengetahuan dan sering kali butuh biaya. Di sinilah ketimpangan kembali muncul. Pengetahuan dan sumber daya masih tidak tersebar merata.

Akibatnya, sebagian warga Bandung pun harus menerima kondisi yang sebenarnya bisa diperbaiki.

Akan tetap dingin

Bandung mungkin tetap akan dingin setiap musim kemarau lantaran itu bagian dari alamnya.

Tapi, bagaimana dingin itu dirasakan, hal ini bukan semata urusan alam, melainkan hasil dari cara kota ini dibangun, diatur, dan -- yang paling penting --dibagi.

Dan selama pembagian itu belum merata, maka suhu dingin di Bandung bakal selalu punya dua cerita, yakni satu yang nyaman, dan satu lagi yang harus ditahan diam-diam. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam