Ayo Netizen

Tasikmalaya sebelum Kota Benar-benar Terbangun

Oleh: Djoko Subinarto
Salah satu sudut Kota Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Djoko Subinarto)

TANDA waktu di ponselku menunjukkan pukul 05.34 saat aku menyeret kakiku menuju halaman depan Masjid Agung Tasikmalaya, Jawa Barat. Langit belum sepenuhnya terang. Udara masih menyisakan kesejukan yang beberapa jam lagi mungkin bakal menghilang bersama padatnya kendaraan dan riuhnya aktivitas warga.

Kala aku mendekati Masjid Agung itu, Tasikmalaya belum benar-benar bangun. Jalanan di depan masjid yang siang hari dipenuhi sepeda motor dan mobil kini hanya sesekali dilintasi kendaraan. Yang lebih banyak kulihat justru sejumlah orang yang memilih memulai hari dengan tubuh yang bergerak. Ada yang berjalan santai. Ada yang berlari dengan langkah teratur, serta beberapa yang menggunakan sepeda kayuh dan melintas menikmati jalan yang masih lapang.

Tidak ada klakson yang saling bersahutan. Tidak terdengar suara pedagang menawarkan dagangan. Kota seolah sedang menarik nafas panjang sebelum memulai kesibukan hari itu.

Masjid Agung Tasikmalaya. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Di seberang jalan, tak begitu jauh dari pagar sisi timur Masjid Agung, aku melihat seorang petugas kebersihan sedang menunaikan tugasnya. Sampah yang semalam berserakan mulai disapu dan dimasukkannya ke dalam tong sampah. Perlahan, trotoar dan bahu jalan terlihat bersih, seakan tidak pernah menjadi tempat lalu lalang ribuan orang beberapa jam sebelumnya.

Ketika pandanganku bergeser ke sisi jalan yang berbatasan dengan taman kota, tepat di seberang Masjid Agung, kondisi terlihat sedikit berbeda. Di sana, sampah berupa kantong plastik, gelas minuman, bungkus makanan, dan puntung rokok, yang merupakan sisa aktivitas semalam, masih menghiasi trotoar dan bahu jalan lantaran belum sempat dibersihkan. Sampah itu tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kota selalu memiliki cerita yang berbeda hanya dalam jarak beberapa puluh meter.

Jalan KHZ Mustofa di pagi hari. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Sebagian ruas jalan di depan taman itu, sepanjang siang hingga malam, biasa menjadi tempat mangkal para pedagang, khususnya pedagang makanan. Pagi itu para pedagang belum datang dan beraktivitas. Taman pun masih sunyi.

 Tanpa banyak polesan

Jujur saja, aku selalu menyukai suasana kota pada waktu-waktu sebelum banyak aktivitas rutin dilakukan, di kala matahari belum tinggi, dan keramaian belum mengambil alih, serta kehidupan masih bergerak dengan tempo yang alon

Pada jam-jam awal itulah kota – seperti Tasikmalaya – terasa memperlihatkan kepribadiannya tanpa banyak polesan, sebuah kota yang apa adanya, yang  tenang dan lalu perlahan-lahan bersiap menyambut hari yang sebentar lagi akan benar-benar dimulai.

Dari depan Masjid Agung, aku beringsut ke mulut Jalan KHZ Mustofa. Bagi warga Tasikmalaya, nama jalan ini tentu tidak asing. Inilah salah satu urat nadi pusat kota Tasikmalaya. Di kiri dan kanan jalan berjajar pertokoan,serta berbagai usaha yang setiap hari menjadi tujuan ribuan orang. Namun, pagi itu, sebagian besar pintu-pintunya masih tertutup rapat. Jalan yang biasanya sibuk justru terasa lapang.

Replika kelom gelis. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Trotoar Jalan KHZ Mustofa cukup lebar. Berjalan di atasnya menghadirkan rasa nyaman karena tidak harus berebut ruang dengan kendaraan. Pagi itu, sesekali hanya terdengar suara rantai sepeda yang berputar atau langkah kaki para pejalan pagi. Di kejauhan, cahaya matahari mulai menyentuh ujung bangunan, memberi warna sedikit keemasan yang pelan-pelan memupus sisa-sisa gelap malam.

Bakiak cantik

Di sepanjang Jalan KHZ Mustofa terpasang replika payung Tasik. Bentuknya sederhana, tetapi mudah menarik perhatian. Di sepanjang trotoar juga dipasang replika kelom geulis (secara harfiah berarti bakiak cantik), yang sekaligus difungsikan sebagai bangku atau tempat duduk. 

Payung Tasik dan kelom geulis sendiri lahir dari tradisi kerajinan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tasikmalaya. Maka, ketika replika keduanya dihadirkan di ruang publik, boleh jadi ia bukan sekadar ornamen. 

Warga berolahraga di Jalan KHZ Mustofa. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton dan aspal, tetapi juga oleh ingatan kolektif tentang keterampilan, budaya, dan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap kota memang memiliki caranya sendiri untuk memperkenalkan diri. Ada yang melakukannya melalui gedung pencakar langit. Ada yang lewat taman-taman kota. Ada pula yang memilih menghadirkan simbol-simbol budaya di ruang publik seperti yang aku lihat pagi itu di Jalan KHZ Mustofa. 

Pedestrian bergaya Malioboro

Dari Jalan KHZ Mustofa, aku langkahkan kaki menuju Jalan Cihideung, yang juga menjadi urat nadi kehidupan pusat Kota Tasikmalaya. 

Kini, wajah Jalan Cihideung sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam. Kawasan yang dahulu didominasi kendaraan bermotor itu telah bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih ramah bagi pejalan kaki. Banyak orang bahkan menyebutnya sebagai kawasan pedestrian bergaya Malioboro karena suasananya yang mengundang orang untuk berjalan santai sambil menikmati deretan toko dan aktivitas di sekitarnya.

Kawasan pedestrian Cihideung. (Sumber: Dokumentasi pribadi. | Foto: Djoko Subinarto)

Koridor pedestrian sepanjang sekitar 370 meter di Jalan Cihideung dilapisi batu andesit yang membuat langkah kaki terasa lebih nyaman. Dari lebar jalan sekitar 12 meter, sebagian besar ruang kini diberikan kepada pejalan kaki dan aktivitas niaga. Jalur kendaraan dipersempit menjadi sekitar tiga meter sehingga kendaraan tetap bisa melintas, tetapi tidak lagi mendominasi ruang jalan.

Pagi itu, kawasan Cihideung belum dipadati pengunjung. Yang lebih dulu hadir justru para pedagang. Beberapa di antaranya sedang menurunkan kardus dan karung plastik dari motor. Sebagian lain mendorong troli berisi barang dagangan menuju jongko masing-masing. Ada pula yang sibuk membuka rolling door

Suasananya mengingatkanku bahwa sebuah kawasan perdagangan sebenarnya mulai hidup jauh sebelum pembeli berdatangan. Sebelum etalase tertata rapi dan lampu toko dinyalakan, ada banyak tangan yang bekerja dalam senyap. 

Aku berhenti sejenak memperhatikan aktivitas di Cihideung. Tidak ada keramaian seperti yang biasa terlihat menjelang siang atau sore. Namun, justru pada jam-jam seperti inilah denyut kehidupan Jalan Cihideung terasa paling nyata. Aku bisa menyaksikan proses bagaimana sebuah kawasan perdagangan perlahan sedang membangunkan dirinya sendiri.

Akrab aroma kuliner

Dari Cihideung aku lantas menyusuri kawasan Pasar Wetan dan kemudian berbelok ke kanan ke Jalan Yudanegara. Jika Jalan KHZ Mustofa dan Jalan Cihideung identik dengan kawasan perdagangan, Jalan Yudanegara terasa lebih akrab dengan aroma kuliner, yang biasanya mulai memenuhi udara ketika matahari semakin tinggi. Akan tetapi, pagi itu, jalan tersebut masih menyimpan kesunyian pula.

Beberapa kendaraan memang mulai melintas, tetapi jumlahnya masih bisa dihitung jari. Deretan kedai dan gerai makanan yang pada siang hingga malam hari menjadi magnet bagi warga maupun pendatang masih tertutup pintunya. Tidak ada antrean. Tidak ada kepulan asap dari dapur. Belum terdengar denting peralatan makan saling beradu.

Sulit membayangkan bahwa beberapa jam lagi kawasan ini akan berubah wajah. Kursi-kursi akan terisi. Obrolan akan mengalir dari satu meja ke meja lain. Aroma kopi, soto, bubur ayam, hingga harum aneka jajanan akan bercampur menyesaki udara. Jalan yang pagi itu terasa lengang perlahan bakal menjadi salah satu titik paling hidup di pusat Kota Tasikmalaya.

Aku benar-benar menikmati suasana Jalan Yudanegara dalam keadaan seperti ini. Ada semacam jeda yang membuat mata lebih leluasa menangkap hal-hal kecil. Rambu-rambu jalan terlihat lebih jelas. Bentuk bangunan tidak tertutup keramaian. Bahkan cericit burung liar masih mampu mengalahkan deru kendaraan yang mulai berdatangan.

Perjalanan pagi itu membuat aku berpikir bahwa setiap kota sebenarnya memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama adalah yang biasa dilihat orang banyak—ramai, sibuk, penuh transaksi dan pertemuan. Kehidupan kedua berlangsung beberapa jam sebelumnya, ketika kota masih bergerak pelan, seolah sedang melakukan pemanasan sebelum memasuki ritme yang lebih cepat.

Memiliki jam terbaiknya

Banyak pelancong datang ke sebuah kota pada jam-jam ketika semua aktivitas sudah berjalan. Mereka melihat restoran yang penuh, toko yang ramai, dan lalu lintas yang padat. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja, mereka mungkin melewatkan satu bab yang menarik, yakni ketika kota masih berbicara dengan suara yang jauh lebih lirih.

Aku pun jadi teringat dengan kebiasaanku dalam bersepeda jarak jauh. Hampir setiap perjalanan bersepedaku selalu dimulai sebelum matahari terbit. Awalnya, semata-mata untuk menghindari panas. Lama-kelamaan, aku menyadari ada “hadiah” lain yang datang tanpa direncanakan, yakni kesempatan melihat kota-kota dalam suasana yang belum banyak disentuh hiruk-pikuk.

Pada momen seperti itulah aku sering menemukan hal-hal sederhana yang tak jarang kemudian mengendap lama dalam ingatanku. Misalnya, seorang penyapu jalan yang bekerja tanpa banyak suara, penjual bubur yang baru membuka gerobaknya, atau seorang nenek yang sedang berjemur bersama cucu di depan rumahnya.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak bakal pernah masuk brosur wisata. Pun tidak ada yang menjadikannya objek swafoto. Tidak ada pula papan penunjuk yang mengarahkan orang untuk datang melihatnya. Namun, justru di momen seperti itulah sebuah kota memperlihatkan dirinya secara alami, tanpa perlu dipolas-poles untuk menyenangkan pengunjung.

Aku percaya bahwa setiap kota, kecil maupun besar, memiliki jam terbaiknya sendiri. Dan khusus, bagi Tasikmalaya, setidaknya dari jalan kaki singkat yang aku lakukan pagi itu, pesonanya di mataku muncul beberapa saat setelah azan Subuh usai berkumandang, ketika jalanan masih memberi ruang untuk berjalan perlahan dan udara masih menyimpan kesejukan malam. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam