Ayo Netizen

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Oleh: Marsya Nathifa Naurah
Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti. Melalui kolaborasi ini, Fore Coffe meluncurkan menu baru edisi special yang terinspirasi dari film Jumbo. Kehadiran menu kolaborasi ini tidak hanya menawarkan produk baru bagi konsumen, tetapi memberikan pengalaman yang berbeda.

Sebagai mahasiswa Digital PR, saya melihat bahwa kolaborasi antara Fore dan Animasi Jumbo ini menunjukkan adanya strategi komunikasi pada setiap platform digital yang digunakan. Website resmi berperan sebagai media yang menyampaikan informasi yang lengkap dan terstruktur, sedangkan media sosial berperan untuk membangun serta meningkatkan interaksi audiens terhadap campaign yang dijalankan. 

Setelah diamati, kata kunci yang sering di pakai pada website dan media sosial memiliki beberapa kesamaan untuk membangun identitas campaign kolaborasi. Adapun beberapa kata yang digunakan seperti "kolaborasi", "menu baru", "Fore Junior", dan "Jumbo" yang muncul sehingga public mudah mengenali tema campaign yang dipromosikan. Kesamaan kata ini menunjukkan bahwa tim digital public relations mencoba menjaga pesan maupun komunikasi pada seluruh platfotm publikasi resmi perusahaan. Saya menilai bahwa langkah ini cukup efektif karena konsistensi kata membantu meningkatkan popularitas brand serta memperkuat ingatan audiens terhadap campaign yang dipromosikan.

Jika dilihat dari Teknik penulisan, website resmi perusahaan menggunakan gaya penulisan yang cukup formal dan informatif dibandingkan dengan publikasi media sosial. Informasi utama langsung disampaikan pada bagian awal lalu diikuti dengan penjelasan mengenai detail produk, tujuan, serta bentuk kerja sama yang di lakukan. Teknik penulisan memperlihatkan bahwa publikasi menggunakan struktur piramida terbalik yang dimana inti informasi dalam publikasi di sampaikan di awal agar pembaca bisa memahami isi yang di publikasikan.

Berbeda dengan website resmi, publikasi di  media sosial Fore Coffe menggunakan penulisan yang lebih santai dan menarik. Caption yang digunakan tidak terlalu panjang, namun tetap mampu membangun rasa penasaran serta mendorong audiens untuk memberikan respons pada unggahan tersebut.

Meskipun website resmi dan media sosial Fore Coffe memiliki gaya penulisan yang berbeda, namun keduanya tetap menyampaikan pesan yang sama mengenai campaign kolaborasi dengan film Jumbo. Website resmi memberikan informasi yang lebih lengkap dan mendalam, sedangkan media sosial mempublikasikan informasi secara singkat dan menarik agar mudah diterima audiens.

Jika dikaitkan dengan teknik penulisan public relations, website resmi dan media sosial Fore Coffe berhasil menyampikan pesan yang konsisten dengan menyesuaikan karakteristik platform. Hal ini berhubungan pernyataan Abdurahman (2026) bahwa praktisi PR harus menterjemahkan satu pesan ke dalam format komunikasi digital yang sesuai dengan kebutuhan media dan audiens.  

Selain itu, publikasi pada website resmi fore menunjukkan struktur piramida terbalik, terutama dalam penyampaian informasi utama dalam bidang publikasi. Menurut Abdurahman (2026) bahwa praktisi PR struktur piramida terbalik membantu audiens memahami inti informasi secara cepat dan sesuai dengan pola komunikasi informasi masyarakat di era digital.

Hal ini menunjukkan bahwa Fore Coffe mampu menjaga konsistensi pada berbagai platform digital tanpa menghilangkan karakteristik masing – masing media. Abdurahman (2026) menjelaskan bahwa konsistensi komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam Public Relations karena dapat membantu membangun pemahaman, kepercayaan, dan citra positif di mata publik.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat di simpulkan bahwa Fore Coffe berhasil menjaga konsistensi pesan dalam publikasi kolaborasi bersama film Jumbo melalui website resmi dan media sosial. Meski menggunakan tekniik dan gaya penulisan yang berbeda sesuai karakteristik platform, keduanya tetap mampu menyampaikan informasi campaign secara efektif kepada audiens. (8)

Referensi

  • Abdurrahman, M. S. (2026). DIGITAL PUBLIC RELATIONS WRITING REVELENSI KEMAMPUAN MENULIS DI ERA AI

Reporter Marsya Nathifa Naurah
Editor Aris Abdulsalam