Ayo Netizen

Lomba Agustusan Bukan Soal Menang-Kalah, tapi tentang Kebersamaan dan Kebahagiaan

Oleh: Dudung Ridwan
Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu (Sumber: Wikimedia)

Menjelang bulan Agustus tiba, baik di kampung maupun di kota, para penjual bendera Merah Putih, spanduk, baliho, dan ornamen keperluan untuk menyambut perayaan Hari Kemerdekaan RI mulai tampak. Mereka datang tak diundang dari berbagai daerah—kebanyakan dari Kadungora dan Leles, Garut—menjajakan dagangannya di pinggir jalan dan di tempat-tempat kosong.

Memasuki bulan Agustus, di mana-mana semua terasa Merah-Putih, kibaran bendera di setiap rumah; baner-baner terbentang; gapura-gapura menghiasi jalan masuk; dan jika malam hari, lampu-lampu berkelap kelip menambah kesemarakan menyambut datangnya 17 Agustus hari Kemerdekaan RI. Semua rakyat bergembira. Semua bahagia.

Semua itu dilakukan dengan kesadaran dan kekhlasan—sebab pada hakikatnya menyambut Kemerdekaan itu merupakan suatu kebahagiaan.

Untuk menambah rasa bahagia itu, masyarakat mensyukuri dan menyelenggarakan berbagai macam kegiatan dan perlombaan seru. Lomba ini biasanya diikuti oleh semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu, mulai dari kategori untuk anak-anak, ibu-ibu, hingga umum. Di antaranya lomba yang legendaris: Lomba Membuat Tumpeng; Balap Karung; Tarik Tambang; Lomba Makan Kerupuk yang Digantung; Estafet Tepung; Lomba Memasukkan Paku/Pensil ke Botol; Lomba Membawa Kelereng dengan Sendok.

Ada lomba khusus untuk ibu-ibu: Lomba Fashion Show Memakai Daster; Lomba Merias Suami dengan Mata Tertutup; Lomba Melipat Pakaian, Lomba Karaoke, dan lain-lain.

Semua kalangan antusias mengikuti perlombaan. Para peserta bertingkah lucu. Para penonton tertawa melihat tingkah peserta lomba yang lucu. Dalam permlobaan ini, mencari hadiah bukan tujuan. Kalah dan menang tidak menjadi ukuran. Yang penting kebersamaan bisa terjalin, kegembiraan dan kebahagiaan bisa tergapai.

Namun, menyelenggarakan semua lomba itu tentu saja panitia perlu dana. Ini yang tetap menjadi pro dan kontra setiap tahunnya. Ada cara-cara yang kurang terpuji panitia dalam mencari dana—ada yang dengan cara meminta di tengah jalan kepada pengemudi kendaraan yang lewat atau meminta dana secara ‘setengah memaksa’ secara langsung ke masyarakat.

Sebenarnya, banyak cara aman dan efektif dalam mencari dana lomba 17 Agustus, di antaranya adalah menggunakan kas RT/RW, proposal sponsor ke toko/perusahaan sekitar, sumbangan sukarela warga, atau aksi kreatif di jalanan yang menghibur.

Gunakan sisa dana rutin bulanan warga untuk anggaran dasar. Bikin proposal singkat dan jelas ke pemilik toko, ruko, atau minimarket, atau pengusaha lokal. Tidak usah memaksa. Seikhlasnya. Gunakan cara-cara persuasif—sebab sekali lagi, pada dasarnya masyarat rela mengeluarkan dana untuk menyambut Hari Kemerdekaan, Hari Kemenangan, yang membuat mereka bahagia. (*)

Reporter Dudung Ridwan
Editor Aris Abdulsalam