Ayo Netizen

Bendera Berkibar Janji Ditebar

Oleh: Muh Husen Arifin
Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Usia kemerdekaan negeri kita memiliki catatan yang tidak dapat disebut sederhana. Catatan ini menyambung lidah harapan dari pejuang dan pahlawan yang gugur. Kegelisahannya yang diusung sejak awal merdeka sampai saat ini masih belum tuntas terbayarkan. Rasanya kita perlu mendiskusikannya dalam bentuk apapun. Termasuk dalam narasi yang tertuliskan. 

Harapan kita semua jika merdeka dari setiap permasalahan merupakan tujuan utamanya. Indonesia sebagai negara kepulauan yang menjanjikan banyak sekali keuntungan bagi siapa saja. 

Negara yang memiliki kapasitas kekayaan sumber daya alam yang sangat mewah, tidak terbatas, bahkan mengutip dari Prof. Mahfud MD, menyebutkan seandainya sumber daya alam negeri ini tidak dikorupsi, maka rakyat pasti sejahtera, untuk kebutuhan sehari-hari tidak lagi bingung. Pemerintah sejahtera, juga rakyatnya lebih sejahtera.

Maka nikmat Tuhan yang diberikan kepada Indonesia sungguh luar biasa. Pejuang kemerdekaan tidak menagih tetapi sudah seharusnya masyarakat merdeka dalam segala hal, dalam ekonominya, dalam bentuk apapun sudah merdeka. 

Akan tetapi, menjadi pertanyaan dari tahun ke tahun. Kenapa negeri kita tidak seperti negara lainnya? Negeri kita memiliki sejarah dan harapan. Tetapi kenapa negeri ini untuk bangkit saja seolah-olah sakit? 

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Mungkin kita terlalu berharap, hingga pemerintahan berganti hanya sekadar formalitas. Rakyatnya tidak berubah nasibnya. 

Amanah pejuang tentu mengiringi, jika kelak negeri ini merdeka, maka merdekalah masyarakatnya. Semoga jalan itu ada, begitulah kira-kira. Namun nasib rakyat masih aib. Selalu diiringi dengan kekalahan. 

Kalah di ekonomi, tidak menang dimanapun. Apa yang diharapkan dari dirgahayu negeri kita?

Optimisme di Tubuh Rakyat

Ya, kesekian kalinya. Rakyat tetap optimis di segala sektor. Rakyat memandang jauh, Indonesia adalah negara kebanggaan. Bangsa yang besar untuk mengembangkan keterampilan terbaru. Konsepnya dalam melakukan pekerjaannya sebagai salah satu rakyat yang merdeka. Rakyat memiliki terobosan. Rakyat tidak berhenti dari keluhan dan terpaan. Setiap proses permasalahan dijadikan pembelajaran. Rakyat memiliki keunggulan dan kemampuan di atas rata-rata. Tidak menunggu kepastian yang tidak pasti atas nama kebijakan yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan rakyat. 

Apakah rakyat masih berada dalam lingkup yang optimis? Tentu saja masih optimis bahwa rakyat sekarang mendapatkan perlakuan yang tidak biasanya, rakyat tetaplah pada ketegasan dan keteguhannya membela negara tercinta. 

Rakyat tahu mana yang memahami situasi atau sekadar menjaga citranya sendiri. Keberadaan media sosial sudah merubah sudut pandang rakyat. Media sosial sudah menyediakan fisik yang berbeda. Fisik yang jujur atau fisik yang kamuflase. 

Rakyat mampu menilai tindakan yang tidak dapat diterima. Sementara pemimpin diharapkan rakyat agar membela hak-hak kewarganegaraan seperti yang disampaikan undang-undang.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Meski rakyat menganggap bahwa negeri ini masih belum mencapai pada tahap kebijaksanaan. Namun rakyat sadar jika negeri ini bisa diarahkan kepada negara yang dicita-citakan. 

Kemakmuran rakyat yang merdeka pada hakikatnya adalah salah satu cita-cita dari pahlawan dan pejuang. Gambarannya adalah setiap individu memiliki hak dan kewajibannya. Hak rakyat tentu sudah berkaitan dengan ekonomi, hak sosial dan hak politiknya. 

Tertanggal pada naskah proklamasi bahwa secepatnya kemerdekaan ini benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat bukan hanya sebagian. Maka dari itu, di setiap detik-detik pengibaran bendera pada tanggal yang sakral, rakyatlah yang wajib dijadikan sebagai simbol kedaulatan. 

Janji Adil dan Makmur

Keadilan bagi rakyat bukan hanya tertuang dalam kertas perjanjian namun lebih dari itu. Keadilan bagi rakyat sebagai identitas negara. Keadilan di semua sektor. Keadilan yang tidak dapat ditawar. Setiap tahun kita mendapatkan suguhan pengadilan yang belum adil di mata awam. Rakyat tidak tahu mengapa terjadi pemborosan anggaran demi satu program sementara hukum tidak seadil nasib rakyat. 

Adil dalam makna mampu membuat rakyat mendapatkan kesempatan yang sama. Adil tidak pilih-pilih. Adil di sektor manapun. 

Rakyat tidak muluk-muluk meminta keadilan, namun perlakukan keadilan di atas kepentingan tertentu seperti yang diungkap oleh Hakim Artidjo Alkostar dan Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Dua sosok yang keberadaannya sangat dirindukan dalam membawa nahkoda keadilan. 

Jika keadilan masih diinginkan dan direalisasikan. Maka kemakmuran memiliki definisi yang berbeda. 

Kemakmuran tidak perlu diuraikan berlapis-lapis. Rakyat hanya ingin makmur yang merata. Di antaranya tentang kecukupan materi. Kebutuhan dasar manusia pada umumnya seperti sandang, papan, dan pangan. Yang wajib terpenuhi oleh hadirnya pemerintah. 

Kesehatan jiwa, mental, dan fisik juga bagian dari kemakmuran. Sebab rakyat bukan benda, maka realisasi kesehatan ini harus dibarengi dengan kolaborasi pemerintah dengan rakyat.

Kecukupan spiritual ini berkaitan dengan agama-agama yang dianut rakyat. Tanpa ada diskriminasi dan pentingnya toleransi. Nggak ada istilah persekusi di dalam mencukupi jiwa spiritual.

Pada prinsipnya rakyat juga menggambar kemakmuran dalam bingkai kestabilan sosial, realitas sosial yang turun temurun mesti diwaspadai. Rakyat yang dalam kategori desil rendah harus sesuai nggak sekadar memilih kepentingan. Bermusyawarah dengan rakyat merupakan jalan ninja kemakmuran. 

Masihkah rakyat harus dijanjikan obral tentang kemakmuran? Benarkah kita merdeka dari segala aspek? Kapankah kita memaklumi lagi janji-janji? 

Bendera Indonesia akan selalu berkibar di hati rakyat, pemerintah menyiapkan janji lima tahunan. Entahlah, siapakah yang sebenarnya merdeka? (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam