Ayo Netizen

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

Oleh: Anton Solihin
Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)

Hubungan Sejarah dan Fotografi

Hubungan sejarah Indonesia dan fotografi tampak dalam banyak aspek, tidak sesederhana ‘paragraf yang seperti pidato tujuh belas agustusan’ sebagaimana dikutipkan pada artikel bagian 1. Barangkali catatan berikut ini akan membuat orang yang hidup di abad ke-21 akan terpana, misalnya Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1: Batas-Batas Pembaratan, menyoroti perdebatan serta cara pandang organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam memandang fotografi dan penggunaan kamera, di paruh pertama abad ke-20.

Muhammadiyah memutuskan untuk menenggang atau membolehkan penggunaan kamera dengan syarat tertentu, namun melarang anggotanya memajang foto sang pendiri, K.H. Ahmad Dahlan, sementara Nahdlatul Ulama (NU) mengambil sikap lebih ketat dengan memutuskan bahwa aktivitas memotret, mencetak, dan mencuci negatif film merupakan satu kesatuan proses yang dinilai secara tegas sebagai haram.

Pada masa berikutnya, menyangkut masa pendudukan Jepang, buku Masyarakat & Perang Asia Timur Raya (Sejarah dengan Foto yang Tak Terceritakan) mungkin mewakili hubungan sejarah-fotografi dimaksud. Ditulis dengan riset panjang oleh Aiko Kurosawa, perempuan penulis sejarah, yang kebetulan juga berkunjung di FIB Unpad (2016), atau hasil penelitian inspiratif selama lima tahun, juga oleh orang Jepang bernama Aoki Sumio berjudul Indonesia di Mata Jepang di Hindia Belanda 100 Tahun Yang Lalu Dalam Kartu Pos Bergambar Foto (2017) yang (kembali entah apakah harus disebut kebetulan) bekerjasama dengan Pusat Studi Bahasa Jepang - Universitas Padjadjaran). Di saat buku ini terbit, (anggaplah lagi lagi) suatu kebetulan bahwa seorang tukang buku dari Belanda bernama Olivier Johannes Raap beberapa kali berkunjung dan berbicara di FIB Unpad pada tiga sesi berbeda untuk membahas buku-bukunya Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe (Galang Pustaka, 2013), Kota di Djawa Tempo Doeloe (KPG: 2015) & Sepur Uap di Djawa (KPG: 2017). ‘Kebetulan’ yang absurd, karena bahkan riset sejarah-fotografi yang rata-rata unik itu tidak diketahui si penulis Meretas Sejarah Visual, padahal semuanya berlangsung di kampusnya. Sepertinya tidak ada satu pun riset sejarah-fotografi di atas yang menggunakan “semacam kritik fotografi” ala buku Meretas Sejarah Visual ini. Dan memang tidak perlu!. 

Di jagat global, dulu misalnya kita mengenal banyak buku-buku foto bagus yang ‘merekam sejarah dunia’ dan diterbitkan Majalah Life, atau belakangan oleh Dorling Kindersley (DK). Perkembangan terkait fotografi misalnya juga menyasar aspek lain terkait musik dan sejarah (kalau boleh dikatakan begitu). Tercatat album-album rekaman seperti Music! The Berlin Phonogramm Archiv 1900-2000 (Museum Collection Berlin-Wergo) berisi 4 cd dan 284 halaman foto bersejarah terkait perekaman lapangan dan pertunjukan musik langka di seluruh dunia, atau Parchman Farm – Photographs and Field Recordings 1947-1959 – sebuah kompilasi rekaman berikut foto-foto hasil jepretan terkenal dari folklorist Alan Lomax; atau juga Goodbye Babylon (berisi 135 lagu religius termasuk 25 rekaman khotbah yang dibuat antara tahun 1902 hingga 1960 dipadu dengan 200 foto lama dengan spirit yang sama dengan lagu-lagu dalam album); Termasuk juga album Listen to the Wind That Obliterates My Traces (Music In Vernacular Photographs 1880-1955). Ide unik menggabungkan 51 lagu lawas dari pedalaman AS - ph 78rpm yang diberi esei yang berusaha menciptakan suatu konteks sosial dan puitik, semacam inskripsi dari para penulis sejarah. Kita bisa merasakan bahwa foto dan lagu-lagu itu sekarang tidak lagi sekedar antik! 

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)

Jauh sebelumnya, sudah sejak tahun 1960-an batas antara fotografi dan film telah kabur. Film-film terutama La Jetee (1962), dan San Soleil (1982) dari Chris Marker contoh konkritnya. Batas-batas apa yang disebut dokumenter yakni semacam esei dari rangkaian foto-foto yang membentuk semacam kisah, montase, campuran beragam pernyataan dengan fiksi plus ungkapan-ungkapan filosofis, menciptakan atmosfir mimpi dan science fiction. Marker juga mengembangkan flm dengan kemajuan teknologi digital, misalnya melalui Level 5 5 (1996) dan Immemory (1998) dengan menggunakan multimedia interaktif CD-Room. Film-film berikut adalah contoh menarik terkait hubungan sejarah dan film: Blow-Up (166), Photo Wallahs (1992), Adventure of Photography-150 Years of Photographic Image (1998), War Photographer (2001), The Genius of Photography (2007), People Love Photos (2009), Serial: Photographers 1-6 (2012), atau 125 Anniversary Photos (National Geographic) (2025). Daftar album rekaman musik dan film lainnya terkait fotografi masih bisa diperpanjang.

Terakhir, judul film di bawah ini adalah contoh kasus terbaru yang juga menarik menyangkut visi, pengembangan gagasan yang berasal dari sejarah dan fotografi. Rua Aperana 52 (Aperana Street 52) adalah film Brazil (Julio Bressane, 2012). Sang sutradara mendokumentasikan lanskap suatu sudut Rio de Janeiro. Film terdiri dari rangkaian foto yang diambil dari foto-foto keluarga dan anggota masyarakat sekitar sejak tahun 1909 hingga 1955, lalu ditambah scenes dari beragam film yang mengambil lanskap tempat tersebut antara tahun 1957-2005. Bressane menekankan editing sebagai sebuah bentuk intristik pemikiran yang membuat penonton menjadi saksi baru lanskap yang bagaikan kisah fiksi. 

Dalam rentang itu, antara tahun 1940an, terutama mulai era 1970an hingga sekarang dunia fotografi begitu masif perkembangannya (lihat referensi) sehingga tidak mungkin dibahas di sini karena hanya akan membuat penuh halaman saja. Si profesor dengan begitu perlu membaca banyak ulasan sejarah fotografi daripada membuat kalimat bahwa (diulang sekali lagi) “dunia fotografi yang semula hanya menjadi milik mereka yang telah berusia dewasa kini menjadi milik segala usia. Tidak hanya dewasa tetapi juga remaja, bahkan anak-anak.”. OK-lah kalimat itu konyol namun ada nuansa lucunya juga sih! 

Belakangan kita menemukan penemuan-penemuan baru terkait fotografi dan sejarah yang juga menarik:

1) Sarah Helen Parcak merupakan  arkeolog Amerika, ahli Mesir Kuno, dan ahli penginderaan jauh, yang telah menggunakan pencitraan satelit yang diambil dari ketinggian 643 km untuk mengidentifikasi situs-situs arkeologi potensial di Mesir, Roma, dan tempat lain di bekas Kekaisaran Romawi. Proses analisa dilakukan dengan menyoroti bagian spektrum elektromagnetik yang tidak bisa dilakukan dengan kasat mata. Hal ini memungkinkannya untuk mencatat anomali yang bisa menunjukkan situs arkeologi tersembunyi di bawah tanah. Dari 2003 hingga 2004 Parcak menggunakan kombinasi analisis pencitraan satelit dan survei permukaan untuk mencari 132 situs potensial yang menarik, beberapa diantaranya berasal dari 3.000 SM.

2) Arsip Digital Sejarah

Para pelestari membuat rekaman digital dari bangunan-bangunan paling rawan di dunia dengan pemindai laser tiga dimensi jinjing termasuk rekonstruksi bangunan warisan dunia di Uganda yang sempat terbakar dan situs-situs warisan dunia lainnya (halaman 21, National Geographic Indonesia, Oktober 2010).

3) Lost Treasures of Maya -  the Series 1-4 (National Geographic, 2019)

Dalam film ini penjelajah Albert Lin meriset menggunakan scanning jarak jauh pada suatu wilayah di Guatemala dengan alat laser berteknologi tinggi yang disebut (Light Detection and Ranging) atau Lidar Map untuk memetakan kembali 60.000 struktur reruntuhan kuno - pertama kalinya setelah 1500 tahun. Pemindaian ini membantu para arkeolog untuk “melihat” menembus pohon-pohon lebat yang menutup rapat hutan rimba laiknya sinar-X untuk menciptakan peta berteknologi tinggi yang baru dan revolusioner. Hasil pekerjaan ini adalah penulisan kembali sejarah Maya - salah satu peradaban kuno paling misterius yang selama ini susah diungkap.

Belum lama saya juga menemukan riset fotografi-sejarah yang menarik dan berlokasi di tanah air, yang dikerjakan seorang teman, Kelana Wisnu terkait Teknik Geolokasi Arsip Visual dengan perangkat Mnemonik untuk lokasi persis kamp tahanan di Pulau Buru dan rekonstruksi 3D Penjara Plantungan, atau foto udara jalan sepanjang 135 km Wanam-Mutung terkait lahan gambut di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, yang disebut Kelana dengan menarik sebagai panjang dan tak berguna.

Berdasar contoh atas kajian-kajian visual baru di atas, apa yang dihasilkan nanti akan mengubah cara kita melihat budaya kuno selamanya, bahkan untuk dijadikan telaahan khususnya dalam meninjau sejarah dari perspektif zaman kita – misalnya kita bisa mereset ulang cara pandang kita untuk menyudahi polemik dibalik riset situs-situs yang sebagian khalayak menjelaskannya berdasar wangsit, dan menganggapnya misterius semacam Trowulan atau Gunung Padang, misalnya dengan berbasis kajian sejarah (visual) melalui teknik pemotretan terbaru nan canggih. 

Setelah semua uraian panjang lebar di atas, catatan luar biasa menarik dan mencengangkan ialah bahwa pada buku Meretas Sejarah Visual itu kita hanya  menemukan satu buku rujukan atau referensi terkait fotografi. 

Di zaman kita sekarang ini sebetulnya banyak perspektif dalam melihat hubungan sejarah dan fotografi. Referensi juga begitu terlihat tanpa batas. Meski begitu, entah mengapa referensi terkait fotografi yang dicantumkan pada buku Meretas Sejarah Visual tampak begitu malang - hanya satu, dan lucu:                                                                                                                                                                         Paulus Edison dan Laely Indah Lestari. 2012. Buku Saku Fotografi. Jakarta: Alex Media Computindo (mungkin maksudnya Elex). Ada juga contoh lain, referensi digital seperti ini: buchyarpelaminanminang.com, purwokertoantik.com, youtube.com 27 Juni 2013, atau google.com, 16 Maret 2015.                                            

Referensi sekedarnya semacam itu jelas tidak mencerminkan ditulis oleh seseorang yang mengaku dirinya sejarawan dengan wawasan visual (boro-boro wawasan fotografi).

Kita tentu akan bertanya-tanya apa sebabnya? Ada banyak kemungkinan untuk menjawab mengapa hal itu terjadi: si penulis meremehkan pembaca buku dimaksud, atau kemungkinan berikutnya (sebagaimana terlihat pada uraian di atas dan referensi yang dipakai) memang hanya mempunyai  wawasan sekedarnya terkait apa yang ditulisnya.

Contoh buku seperti Meretas Sejarah Visual ini merupakan cerminan betapa carut-marut dan buruknya ‘situasi yang tampak dianggap lumrah’ terkait apa itu yang disebut mata kuliah sejarah visual, buku teks ajar, termasuk perilaku para kolega yang bersangkutan - membiarkan keadaan semacam ini berlangsung begitu lama.

Saya, penulis artikel ini mengingatkan pembaca tulisan ini, artikel ini baru menggambarkan satu subyek saja dari kekacauan yang terjadi mengenai apa itu ‘Sejarah Visual’.

Supaya tidak dianggap menulis ‘pidato tujuh belas agustusan’ dan juga tidak sedang mengarang kisah fiksi, di bawah ini penulis urutkan referensi bacaan supaya kita tidak tersesat jalan mempelajari sejarah (visual) fotografi Indonesia. Dalam dunia di zaman kita yang rasanya seperti tanpa batas, referensi seperti yang saya urutkan di bawah dapat dengan mudah diakses, artinya tulisan dan foto-foto itu bukan barang langka dan antik! (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Adam, Asvi Warman. (2009). ‘Foto Pengubah Sejarah’. Dalam Membongkar Manipulasi Sejarah. Penerbit Kompas: 225-228.
  • Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Kalacitra. Dalam Bentara 2002. Jakarta: Kompas.
  • Ajidarma, Seno Gumira. 2003. Kisah Mata. Yogyakarta: Galang Press.
  • Amran, Rusli. 1988. Padang, Riwayatmu Dulu. Jakarta: CV Yasaguna.
  • Adams, Ansel. 1948. the-negative-photography-book. The Ansel Adams Publishing Right Trust.
  • Arsip Digital Sejarah. 2010. Majalah National Geographic Indonesia. Oktober: 21.
  • Bansky, Martin Bull. 2009. Locations and Tours A Collection of Graffiti Locations and Photographs in London-England. PM Press.
  • Barthes, Roland. Camera Lucida (photos).
  • Barthes, Roland. 1982. Camera Lucida- Reflections on Photography.
  • Baudrillard, Jean. 1999. Photography, or the Writing of Light. Paris: Galilee.
  • Benjamin, Walter*. Small History of Photography*. 1931.
  • Bijl, Paul. 2015. Emerging Memory Photographs of Colonial Atrocity in Dutch Cultural Remembrance. Amsterdam Univ. Press.
  • Bourdieu, Pierre*. 1990. Photography – A Middle-brow-Art. Cambridge: Polity Press.
  • Danarto. 1988. Perjalanan Fotografi Demmeni (Indonesia: Images from the Past). Dalam Majalah Tempo: 23 Juni.
  • Daston, Lorraine & Galison, Peter. 2007. Objectivity. New York: Zone Books.
  • Dekker, Niels A. Douwes. Banten - Photograph of Death Ritual. 1940-1947.
  • Dekker, Niels A. Douwes. *Borneo - Photograph of Death Ritual. 1940-1947.
  • Dermawan T., Agus. 1995. Menguak Misteri 350 Tahun (Resensi buku Lexicon of Artists Who Visualized Indonesia (1600-1950)). Dalam Majalah Gatra: 11 November.
  • De Tourist - Guide and Garoet - Express* (B - 909) June 15th-1923. Hlm. 22. 1923.
  • De Tourist - Guide and Garoet - Express* (B - 909) Mei 28-1923. Hlm. 13. 1923.
  • Eco, Umberto. 2004. On Beauty. London: Seeker & Warburg.
  • Eco, Umberto. 2007. On Ugliness. London: Harvill Seeker.
  • Faiq, Mohammad Hilmi. 2015. (Pameran) Warna Lain Sejarah Proklamasi. Dalam Harian Kompas: 14 Agustus.
  • Farr, Michael. Tintin (the Complete Companion). Jakarta: Gramedia.
  • Fotografien van Soerabaja (Uitgevers, G.H. Bartman). 1931.
  • Grant, Stephen. 1995. Former Points of View: Postcards of Literary Passages from Pre-Independence Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar.
  • Cartier-Bresson, Henri. 1998. Tete-A-Tete. Portraits by… Bulfinch Press dan National Portrait Gallery.
  • Istiqomati. 2006. Perjalanan Sebuah Kartu Pos. Dalam Koran Tempo: 18 Juni.
  • Hasby, Eddy. 2001. East Timor (the Long and Winding Road). Jakarta: AJI.
  • Hassanbasri, M. Sjafe’i. 2003. Pembodohan dan Pemalsuan Sejarah. Dalam Harian Kompas: 20 November.
  • Heryanto, Ariel. 2015. Identitas Asli adalah Fiksi. Wawancara Dalam Harian Kompas: 2 Agustus
  • Ichsan, Mochammad Firman. Realita Fotografi (Satu Cermin Balik Dunia Fotografi Kita). Dalam ‘Bentara’ 2003. Harian Kompas: 272-286.
  • James Natchwey. Harian Kompas, 10 November 2002.
  • Junaidy, Cahyo & Muhamad Nafy. 2005. Menyelamatkan Jejak Sejarah (Ipphos). Dalam Koran Tempo: 25 September.
  • Kayam, Umar & Harri Peccinoti. 1985. Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya. Jakarta: Gramedia.
  • Khastiti, Yemima Lintang. 2012. Seri Lawasan: Potret. Jakarta: KPG.
  • Kisah IPPHOS, Perekam Sejarah Bangsa yang Terlupakan. Dalam harian Kompas: 12 Agustus 2025.
  • Lapian, A.B. (penyunting). 1985. Semangat ’45 Dalam Rekaman Gambar Ipphos. Jakarta: Sinar Harapan.
  • Lefevre-Guibert-Lemercier.* 2011. Sang Fotografer (Memasuki Kancah Perang Afghanistan Bersama Doctors Without Border). Jakarta: Gramedia.
  • Leufold, Wolfgang. 2013. Memori dari Kalimantan (Memories from Borneo) 1921-1927. Zurich: Museum Etnographic of the University of Zurich.
  • Lombard, Dennys. 1996. Nusa Jawa I: Batas-batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia.
  • Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949. 1949.
  • McGlynn, John H., dkk. 2005. Indonesia In the Soeharto Years: Issues, Incidents, and Images. Jakarta: Yayasan Lontar.
  • Mengenal Peninggalan Sejarah dan Purbakala Zaman Indonesia Hindu. Jakarta - PT Priastu: 1984.
  • Mengobati Negara Lewat Sejarah. 2015. Dalam Harian Kompas: 18 Oktober.
  • Merrillees, Scott, 2019. Batavia - Greetings from Jakarta Merrillees (Postcards of A Capital 1900-1950). Hanusz Publishing.
  • Met De Camera Door Nederlansch Indie - E.W. Tt.
  • Monumental Java Photo Book. Tt.
  • Motuloh, Oscar. 2008. Sejarah (Fotografi Indonesia) – Citra Nan Tak Kunjung Padam. Dalam Harian Kompas: 25 Agustus.
  • Pasar Gambir Batavia. Bamboe en Atap verwerkt tot een geheel 1934.
  • Photo Album containing photographs of indigenous people, villages, landscapes, etc.
  • Tt. Picturesque Netherlands East Indies. 1920.
  • Pictorial History of Civilization in Java. 1927. the Java Institute and G. Kolff Co.
  • Prasetyo, Frans Ari. 2017. River In A Visual Short. Bandung: Brick-Center for Research on Infrastructure and Regional ITB-Ultimus.
  • Prasetya, Eric & Ayu Utami. 2015. Estetika Banal & Spiritualisme Kritis (Dialog Fotografi dan sastra dalam 13 Keping). Jakarta: KPG.
  • Protschky, Susie (edited by). 2015. Photography, Modernity and the Governed in Late-colonial Indonesia. Amsterdam: Amsterdam University Press.
  • Raap, Olivier Johannes. 2015. Kota di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG.
  • Raap, Olivier Johannes. 2013. Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe. Yogyakarta: Galang Press.
  • Raap, Olivier Johannes. 2017. Sepur di Djawa. Jakarta: KPG.
  • Raap, Olivier Johannes. 2013. Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG.
  • Rambey, Arbain. 2019. Kisah Foto-foto Jenderal Sudirman. Dalam Harian Kompas: 8 Juni.
  • Rambey, Arbain. 2004*. Kisah Sebuah Kamera Tua yang Bersejarah*. Dalam Harian Kompas: 15 Mei.
  • Rambey, Arbain. 2019. Potret Sebagian Pahlawan Kita. Dalam Harian Kompas: 28 Mei.
  • Rambey, Arbain. 2003. Sejarah Fotografi, Sejarah Teknologi. Dalam Harian Kompas: 20 Juni
  • Romance of the east, the comfort of the west in Java, Sumatra, Bali, the. 1931.
  • Seabad Kearsipan (Menunjang Pembangunan Bangsa Indonesia) (1892-1992). (1992). Katalog Pameran Arsip (Kertas-Foto-Film-Peta-Gambar-Pamflet-Piagam). Arsip Nasional Republik Indonesia.
  • Serangan Umum TNI di Makassar tahun 1950. 1950.
  • Sohn, David A. 1969. Pictures for Writing (A Visual Approach to Composition). New York/Toronto/London: Bantam.
  • Sonesson, Goran. 1989. Semiotics of Photography — On tracing the index. Lund: Lund University
  • Sontag, Susan. 1977. On_Photography. New York: Farrar, Straus & Giroux.
  • Suganda, Her. 2003. “Tanah Air Kita”, Sebuah Warisan Juru Foto Belanda. Dalam Harian Kompas: 8 November.
  • Sugiarto, Atok. 2011. Fotobiografi Kartono Ryadi. Jakarta: Penerbit Kompas.
  • Sumio, Aoki. 2017. Indonesia di Mata Jepang di Hindia Belanda 100 Tahun yang Lalu dalam Kartu Pos Bergambar Foto. Jakarta: the Daily Jakarta Shimbun & Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran.
  • Sunjayadi, Achmad. 2008. Mengabadikan Estetika (Fotografi dalam promosi pariwisata kolonial di Hindia Belanda). Wacana Volume 10 No. 2, Oktober (301-316).
  • Supartono, Alexander. 2008. Fotokopi Asli, Selintas Sejarah Fotografi Indonesia. Dalam Harian Kompas: 5 Januari.
  • Supartono, Alex. 2005. Rekaman Foto tentang Indonesia yang Sedang Menjadi (Catatan Fotografi Carl Oorthuys). Dalam Harian Kompas: 18 Juni.
  • Toekang potret 100 jaar fotografie in Nederlands Indië 1839-1939 = 100 years of photography in the Dutch Indies 1839-1939. 1939.
  • Wisanggeni G., Aryo. 2011. (Pameran) Politik Foto Para Pewarta Revolusi. Dalam Harian Kompas: 4 September.
  • Woodbury and Page. 1880-1885. Vues de Java. Photographiées Or. 27.358.
  • Zoelverdi, Ed. 1990. Ipphos, Riwayatmu Dilelang. Dalam Majalah tempo, 1 Desember.
  • Zoelverdi, Ed & Heddy Loegito. 1995. Pameran Cantik Menggelitik Fotografer Inggris Tentang Indonesia Seabad Silam…. Dalam Majalah Gatra, 13 Mei.
Reporter Anton Solihin
Editor Aris Abdulsalam