Fenomena menarik yang selalu digemakan di bulan kemerdekaan tanpa diketahui muasalnya sering tiba-tiba dan menjadi diskusi akan memunculkan perdebatan. Namun uniknya adalah perdebatan yang tidak sampai mengeluarkan urat–urat, atau sampai bergelut hebat.
Sekadar lucu-lucuan atau komedi sesaat menjadi kenapa hal tersebut dapat didiskusikan dengan jenaka. Akankah hal ini menggema sejak lama? Ataukah justru sebagai lambang bahwa setiap hal unik di bulan kemerdekaan menjadi sesuatu yang dirindukan.
Tak pelak kita sering menduga, jangan-jangan masyarakat sudah enggan mengomentari tindakan serius atau menunggu hal baru yang tampaknya lebih menyenangkan.
Kita menyebutnya sebagai salah satu pilihan bagi masyarakat yang sudah digariskan untuk gembira dan tidak boleh menangisi nasib yang tumpang tindih.
Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.
Tidak berlebihan memang, tetapi nama tersebut menjadi sesuatu yang unik. Nama yang disebut sederhana namun secara kultur memberikan nuansa berbeda.
Kita sering mendengar nama Agus bagaikan sebuah nama yang menunjukkan bahwa orang tersebut sebagai penanda, jika orang tersebut lahir di bulan Agustus.
Uniknya pula di bulan Agustus ini nama yang disematkan sangat membantu seolah-olah menjadi penanda semangat juang, patriot, berprinsip kemerdekaan.
Jika dikutip dari alasannya adalah agar memberi dampak positif tentu sangat baik dan memberi nilai tambah.
Memasuki era tahun 2000, terdapat pergeseran citra, fase yang disebut dekonstruksi penamaan akibatnya terjadi kejenuhan. Anggapan ini muncul, karena nama Agus sangat kuno, jika bisa dibilang terlampau jauh, eranya sudah berubah, terlalu umum. Nama yang disematkan sangat tradisional, kurang modern, kurang ke-kotaan.
Generasi di era 2000 ini nama anak menjadi penciri yang dilabeli ke-barat-baratan. Bahkan nama Agus sudah dihilangkan dari pilihan nama anak. Kurang memberi kemewahan, kehilangan daya keunikan, banyak orang tua kurang tertarik akibat di dalam pergaulannya di lingkungan sudah ditinggalkan pemberian nama yang terlampau pasaran.
Kebangkitan Nilai dari Sebuah Nama

Memang tidak bisa dilepaskan dari muasalnya, jika pemberian nama Agus akan mendongkrak nilai dari sebuah nama. Tanpa ditunggu lama, di beberapa tahun terakhir mulai hidup kembali.
Nama Agus dan yang berkaitan dengan bulan Agustus marak dan dapat dibilang berbondong-bondong untuk dicetuskan lagi. Nama Agus yang dianggap kuno dan kurang estetik pun makin menjadi buah cerita asal muasal nama tersebut dipilih oleh orang tua.
Hubungan nama Agus dan Agustus seperti direkonstruksi ulang secara masif bahkan oleh peranan media sosial. Atas peranan media sosial ini memberikan fenomena kultural yang menggugah atas pemberian nama Agus.
Pertama, berhubungan dengan nama Agus tentang kemudahan akses atau yang sering disebut privilege, kemudahan dalam memeroleh sesuai dengan kebutuhan, hak istimewa ini dikarenakan nama Agus.
Setiap bulan Agustus pada nama Agus direkonstruksi tidak sekadar kartu akses, tapi kelebihannya dibandingkan nama lain, nama Agus bisa mendapatkan nilai ekonomis tertentu semisal diskon di setiap pembelian barang atau jasa, mendapatkan tiket eksklusif di setiap kegiatan yang diselenggarakan pada bulan Agustus.
Kedua, bukan sekadar komoditas yang dieksklusifkan pada nama Agus. Tetapi munculnya solidaritas kolektif yang menjadi komunitas. Kesadaran komunal yang ada di identitas nama Agus ini memunculkan nama kelompok Agus-Agus Bersaudara.
Akibat kesamaan nama, gerakan sosial ini memberikan dampak positif, kegiatan tahunan yang diselenggarakan menjadi wadah berkumpul dan berserikat yang berfaedah.
Situasi ini menekankan bahwa kolektivitas nama Agus ini menurut banyak pandangan, merupakan langkah awal yang baik dan memberikan dukungan kepada masyarakat bahwa bulan kemerdekaan bulan Agustus ini merupakan kesadaran bahwa nama Agus mampu memberikan kontribusi terhadap hal-hal yang dipandang sebagai solusi bersosial yang berkelanjutan.
Simbol Kedaulatan
Hubungan Agus dan Agustus bukan sekadar urusan akta kelahiran atau perayaan. Melainkan simbol kedaulatan yang guyub, bergotong royong, peduli sesama, berserikat, sekaligus mengultuskan peradaban yang bernilai, manifestasi dari sebuah nama.
Nama Agus yang dianggap tradisional, kolot, pasaran ternyata memberikan seporsi nilai adiluhung. Nama Agus menjadi ikon yang menjunjung kebersamaan di bulan kemerdekaan. Secara psikologis, nama Agus mampu membangkitkan semangat juang yang mendarah daging, mampu meningkatkan semangat merasa memiliki atas nama negeri, dedikasi yang tinggi.

Nama Agus ini pula menjadi ajang dialektika kebernegaraan. Mampu menembus batas teritorial negara. Membawa nama baik di dunia global. Mengharumkan nama negeri ini di kancah internasional.
Secara organik, nama Agus mengubah stigma di masyarakat bahwa nama yang dianggap kurang menarik justru mendatangkan viralitas yang konsisten menghasilkan nilai tambah baik secara finansial maupun spirit kemerdekaan.
Andai Anda diberi kesempatan menyebutkan satu nama yang mampu membawa perubahan bagi negeri ini, tidak ada salahnya nama Agus dituliskan. Penyebutan nama bukan hanya tanda tetapi menjadi identitas sosial versi terbaiknya, maka apalah arti sebuah nama. (*)