Ayo Netizen

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Oleh: Dias Ashari
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)

Perempuan di masa lampau seperti Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Din, Rahmah El-Yunsiah sudah banyak memperjuangkan hak-hak Perempuan agar memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Para pejuang Perempuan di masa lampau juga sudah memberikan banyak pencerahan dan perubahan bagi pandangan masyarakat kepada Perempuan itu sendiri. Kesempatan mengenyam pendidikan tinggi yang bisa dialami oleh Perempuan hari ini adalah hasil dari nilai-nilai yang ditanam sejak dulu.

Meski hingga hari ini kemerdekaan Perempuan belum benar-benar sepenuhnya didapatkan tapi tentu jauh lebih baik kondisinya dibandingkan dengan masa lampau. Perempuan hari ini bisa hadir mengikuti pembelajaran hingga bangku perkuliahan tak hanya itu bahkan sudah banyak perempuan yang mendapat gelar sampai doktor. Perempuan hari ini tak harus selalu tinggal di dalam rumah dengan berkutat dengan urusan domestik saja, melainkan perempuan bisa memiliki karir setinggi mungkin. Namun dibalik semua kemajuan tersebut, diam-diam banyak suara yang membuatnya mempertanyakan segala pencapaian dalam dirinya?

"Alhamdulillah aku bisa sekolah tinggi (tapi kira-kira ada ga ya laki-laki yang mau menikah denganku)"

"Gak ada waktu yang telat untuk menikah ( tapi usiaku sudah mau 30 apa ya kata tetanggaku nanti)"

" Aku mau punya bisnis sendiri agar menjadi perempuan yang berdaya ( tapi aku terlalu mandiri ga ya di mata laki-laki?)

"Aku mau ikut demo menyuarakan suara rakyat (tapi nanti aku dibilang terlalu vokal ga ya?)"

Berbagai macam pertanyaan perempuan yang sudah merdeka dalam memilih hidupnya tapi diam-diam takut mendengar penilaian sosial. Diluar tampak kuat tapi di dalamnya merasa kesepian karena isi kepalanya terlalu riuh dengan hal-hal yang belum terjadi. Bahkan penilaian yang dipikirkannya pun belum tentu dipikirkan orang lain.

Perempuan di era modern mungkin sudah banyak membebaskan dirinya dari berbagai hal tapi terkadang masih ada suara-suara riuh yang memaksanya untuk bernegosiasi dengan suara masyarakat yang tinggal di dalam kepalanya.

Padahal belum tentu juga apa yang dipikirkannya menjadi suatu hal yang diperbincangkan oleh masyarakat. Kalau pun masyarakat memberi label ini dan itu kepada perempuan yang berani memilih hidupnya sendiri , lantas kenapa ?

Bukan kah nilai diri seorang manusia, nilai diri seorang perempuan atau nilai diri siapapun tidak dihitung berdasarkan ocehan orang lain terhadap dirinya? Perempuan yang mau berdaya tetap perempuan yang punya value nya sendiri. Begitu juga dengan perempuan yang memilih hidupnya untuk punya peran sebagai istri dan seorang ibu. Semua punya perannya masing - masing di dunia ini yang membedakan hanya pilihannya saja.

Jadi siapapun perempuan yang sudah merasa merdeka jangan sampai makna kemerdekaan itu hanya sampai pada memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria. Tapi juga harus merdeka dengan segala label yang ditempelkan masyarakat. Karena perempuan merdeka tidak perlu meminta izin kepada masyarakat untuk menikmati kemerdekaannya. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam