Ayo Netizen

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Oleh: Dias Ashari
Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)

Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak terlalu penting tapi cukup membuat penasaran-- yang mungkin pertanyaan ini belum pernah masuk dalam agenda rapat "Penangulangan Kebakaran Hutan".

"Kalau hutan kalimantan kebakaran , bagaimana dengan nasib para kuyang?"

Sayangnya kuyang tidak pernah tercatat dalam data kependudukan. Jadi kita tidak bisa memperhitungkan berapa jumlah kuyang yang terdampak, mati untuk ke dua kalinya atau yang berhasil melarikan diri dari hutan kalimantan. Tidak ada sensus yang mensurvei kuyang, tidak ada disdukcapil yang bisa mencetak ktp kuyang sehingga sejauh ini tidak pernah terdengar pemerintah membagian bantuan sosial khusus bagi kuyang yang terkena dampak asap kebakaran. Bahkan hal sederhana seperti masker pun rasanya sulit dianggarkan. Dibandingkan menanggulangi dampak asap bagi kesehatan paru-paru kuyang-- nampaknya mengeluarkan uang untuk program yang berakhir menjadi limbah sampah jauh lebih penting bagi pemerintah saat ini.

Kuyang memang makhluk gaib tapi mereka juga tak cukup gaib untuk menghindari kebakaran hutan. Masalahnya saat kebakaran hutan terjadi tidak ada batas antara makhluk yang dipercayai masyarakat dan mahkluk yang diakui secara ilmu pengetahuan. Kedua pertanyaan yang mempertanyakan eksistensi keduanya selalu menjadi hal yang ingin terjawab.

Orangutan mungkin tidak bisa mengurus data administrasi kependudukan ketika pohon yang menjadi tempat tinggalnya terbakar. Burung-burung tidak bisa mengajukan permohonan relokasi ketika habitat aslinya berubah menjadi abu dalam sekejap mata. Para trenggiling tidak memiliki lembaga advokasi ketika ingin menuntut atas kematian koloninya. Bahkan kuyang pun yang ditakuti masyarakat tak cukup mampu menahan keserakahan manusia.

Ironisnya di kolom komentar media sosial banyak yang mempertanyakan bagaimana nasib kuyang bukan nasib nyata flora dan fauna yang tinggal didalamnya. Negara kita memang terlalu stress jika setiap hari kita menjadi manusia yang serius dan kaku. Tapi jangan sampai lawakan dan bahan bercandaan yang niatnya sebagai hiburan semata justru menutupi isu yang seharusnya kita suarakan.

Kuyang bisa menjadi bahan cerita dan banyak ditakuti oleh masyarakat yang mempercayai keberadaannya. Bisa menjadi sebuah legenda yang diturunkan dari satu generasi ke genarasi lainnya. Tapi bagaimana dengan orang utan, trenggiling, bekantan dan spesies langka lainnya yang mungkin tidak terhitung jumlahnya tapi tidak menjadi cerita yang diturunkan kepada generasi agar tetap dijaga kelestariannya.

Kenapa nasib kuyang dipertanyakan ? mungkin karena bukan berarti dia benar-benar berpatroli di udara setiap malam melewati batas pepohonan. Melainkan karena pertanyaan tentang tempat tinggalnya yaitu hutan yang membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih nyata.

Jika hutan terus terbakar atau mungkin sengaja dibakar, sebenarnya siapa yang sedang kehilangan rumah ?

Jika isu kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun--barangkali nanti kita tidak lagi menemukan kuyang di hutan. Bukan karena masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada cerita rakyat tapi hutan yang menjadi latar cerita yang dibangunnya sudah tidak ada. Sementara penghuninya yang benar-benar nyata tidak bisa berubah menjadi legenda untuk menyelamatkan diri.

Barangkali manusia memang memiliki kecenderungan yang aneh: jauh lebih takut kepada sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh logika dibandingkan dengan sesuatu yang dapat dipahami tetapi menguntungkan bagi para oknumnya.

Barangkali kuyang dan mahluk nyata lainnya tidak memiliki kepentingan ekonomi. Mereka tidak membutuhkan lahan untuk membuka perkebunan sawit. Mereka tidak membutuhkan kayu untuk kepentingan industri. Mereka tidak peduli dengan mendirikan perusahaan. Mereka tidak memiliki konsesi. Bahkan mereka tidak tercatat sebagai wajib pajak. Yang mereka miliki hanya hutan yang menjadi tempat tinggalnya. Yang mereka tahu bahwa hutan adalah tempat bernaung dan melestarikan keturunannya. Bukankah manusia juga selalu menginginkan kedamaian ? jika bisa berbicara mereka pun pasti menginginkan hal yang sama.

Semua mahluk hidup yang ada dibumi sebetulnya memiliki tugas yang sama yaitu beribadah sesuai dengan kemampuan dan akal yang diberikan. Manusia dengan akal yang lebih sempurna seharusnya bisa menjadi pemimpin dan penjaga bumi yang baik. Hewan bertasbih dengan suara yang khas ketika berbincang dengan Tuhan. Mereka juga menjadi mahluk yang menjaga keseimbangan alam dan rantai makanan terus hidup. Begitu pun dengan pohon yang bersujud Kepada-Nya dengan menghasilkan udara yang bersih dan oksigen yang melimpah. Bahkan ketika mahluk lain sedang beribadah kepada Tuhannya kita sebagai manusia masih banyak menerima manfaatnya. Sementara apa yang dilakukan oleh manusia ? selain eksploitasi dan rasa haus yang tak pernah puas sampai hidungnya tertutup oleh kapas.

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam