Aku rutin jalan-jalan sendirian minimal sebulan sekali berangkat dari Purwakarta ke Bandung hanya untuk membeli kopi kesukaanku. Aku sengaja berangkat seawal dan sepagi mungkin biar udara masih bersih dari polusi dan tidak terhalang oleh kemacetan arus lalu lintas. Kadang-kadang aku pergi berdua bersama sopirku dan kadang-kadang pergi bersama isteriku, anakku dan sopirku.
Kalau aku pergi bersama keluarga, tentu saja itu untuk jalan-jalan yang lebih jauh dan lebih lama, baik seharian penuh atau menginap beberapa hari beberapa malam. Favorit kami sekeluarga biasanya pergi ke Bandung Selatan, baik ke Cimaung, Pangalengan, Pasir Jambu, Ciwidey, maupun Rancabali. Kami malah jarang pergi ke Bandung Utara, baik ke Lembang, Cisarua, Parongpong, maupun Cimenyan karena lebih rawan kemacetan arus lalu lintas.
Di tengah mulai ramai dan riuhnya geliat pagi Kota Bandung, masih tersembunyi jejak-jejak sejarah masa lalu Bandung. Bukan dari istana megah atau benteng gagah, tapi dari aroma kopi yang tak pernah lekang oleh waktu. Tujuan pertamaku tentu saja adalah Warung Kopi Purnama (Chang Chong Se atau Silakan Mencoba) yang didirikan oleh Yong A Thong pada tahun 1930 di Jl. Alkateri No. 22, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung yang terkenal dengan roti srikaya, kopi hitam dan suasana vintage bergaya peranakan (kopi tiam).
Secangkir kopi Robusta hitam pekat dan panas, sepiring kecil roti srikaya kukus hangat dan 2 butir telur rebus setengah matang panas lengkap dengan bumbu garam dan merica bubuk yang terasa sedap. Aku juga sering membeli 2 botol selai srikaya yang masih fresh. Bisa juga membeli bubur ayam khas Bandung yang berada di depan mintu masuk warung. Bahkan bagiku yang namanya bubur ayam khas Bandung jadi terasa “legend”.
Tak seberapa jauh dari Warung Kopi Purnama terdapat Toko dan Pabrik Kopi Aroma yang didikan oleh Tan Houw Sian di Jl. Bancuey No. 51, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung, pada tahun 1930, yang kini diteruskan oleh putera tunggalnya Bapak Widya Pratama Tanara (Tan Siok Hin) sebagai generasi kedua. Aku bersahabat dengannya. Pak Widya adalah seorang suami dan ayah yang baik, ramah dan sopan.
Di depan Toko dan Pabrik Kopi Aroma, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus rela berdiri mengantri untuk menanti sampai tokonya buku dan melayani. Biasanya aku membeli 1, 2, 3 atau 4 kilogram kopi, masing-masing kopi Mokka Arabika dan kopi Robusta dalam kemasan 250 gram dengan harga masing-masing Rp 60.000,00 dan Rp 40.000,00. Harganya memang naik setiap beberapa tahun sekali, namun itu masih terhitung wajar saja karena aroma dan rasanya yang begitu nikmat tak terkira.
Menurut keterangan pak Widya, produk kopi dari Kopi Aroma untuk biji kopi Arabika dengan kadar air 10%-12% disimpan atau diperam selama 8 tahun dan untuk biji kopi Robusta dengan kadar air 10%-12% disimpan atau diperam selama 5 tahun. Di Kopi Aroma, setiap biji kopi disangrai dengan proses sangrai tradisional mempergunakan kayu karet tua dengan mesin sangrai manual merek Probat buatan Jerman tahun 1930. Kesemua kopi ini disangrai selama 2 jam, dimulai sejak pukul 04.00 WIB sampai dengan yang terakhir kurang lebih pukul 12.00 atau 14.00 WIB.
Tak jauh dari Toko dan Pabrik Kopi Aroma terdapat Toko dan Pabrik Kopi Kapal Selam yang didirikan oleh Khin Hin Hoo Jl. Pasar Barat No. 42, Kebon Jeruk, Andir, Kota Bandung, pada tahun 1930. Toko kopi ini sekarang dikelola oleh Yuanto Chandra sebagai generasi ketiga. Di sini menjual kopi Arabika, kopi Robusta dan kopi House Blend dari berbagai daerah (origin) di Indonesia dengan harga yang wajar dan terjangkau. Dengan suasana otentik. memiliki tema atau konsep yang unik, nama ini cukup ikonik.
Tak jauh dari Toko dan Pabrik Kopi Kapal Selam terdapat Toko dan Pabrik Javaco Koffie yang didirikan oleh Lie Khay Hoo sebagai generasi pertama pada tahun 1928 di Jl. Kebonjati No. 69, Kebon Jeruk, Andir, Kota Bandung, dilanjutkan oleh Lie Kiem Gwan sebagai generasi kedua, kemudian Antonius Widjaja sebagai generasi ketiga dan Hermanto sebagai generasi keempat.

Di sini menjual kopi Arabika, kopi Robusta, kopi Melange (kopi Robusta grade 1 yang memiliki sedikit rasa dan aroma kayu manis), kopi Tip Top yang biasanya merupakan campuran kopi (House Blend) antara kopi Arabika dan kopi Robusta yang diproses dengan resep khusus dengan kopi Robusta grade 2, menghasilkan cita rasa yang khas dan konsisten. Toko dan Pabrik Javaco Koffie mengusung konsep klasik atau vintage dari namanya.
Tak jauh dari Toko dan Pabrik Javaco Koffie terdapat Toko dan Pabrik Kopi Malabar yang didirikan pada tahun 1920-an di Jl. Gardujati No. 27, Kebon Jeruk, Andir, Kota Bandung. Seperti biasanya jika mau beli kita tidak perlu antri, kita hanya tinggal ketuk pintu saja dan nanti akan dibuka oleh Rudi Kurnia Halim. Kita bisa beli kopi Arabika atau kopi Robusta. Toko dan Pabrik Kopi Malabar menyajikan kopi khas dengan suasana kuno, terinspirasi kawasan pegunungan Malabar, Pangalengan, Bandung.
Tak jauh dari Toko dan Pabrik Kopi Malabar terdapat Toko dan Pabrik Kopi Tjia Lie Hong yang didirikan oleh Tjia Lie Hong di Jl. Jend. Sudirman No. 165-167, Karanganyar, Astanaanyar, Kota Bandung, yang pada bagian lantai atasnya digunakan untuk tempat pub (karaoke televisi), karaoke music lounge Hollywood. Di sini kita bisa membeli kopi Arabika dan kopi Robusta sesuai yang kita inginkan. Toko dan Pabrik Kopi Tjia Lie Hong, nama yang kuat nuansa etnik Tionghoa tadisional tempat klasik atau heritage.

Dari nama-nama tersebut tadi, maka Kopi Aroma Bandung dan Javaco Koffie membuat bungkus kopi dengan logo berupa bangunan pabrik dan sekaligus tokonya. Tentu saja ini sangat ikonik dan menjadi daya tarik karena bangunan pabrik dan toko masuk ke dalam Cagar Budaya (herirage) Kota Bandung.
Jejak kopi Bandung akan selalu menyambut siapa saja yang mau berjalan menembus waktu, melintas masa dan menyeberang zaman. Terutama bagi yang suka pada suasana bangunan-bangunan tua, mesin-mesin sangrai tua, mesin-mesin giling tua dan kertas-kertas bungkus tua. Selamat datang di Bandung – kota dengan aroma kopi yang tak pernah hilang, tak lekang oleh zaman. (*)