Ayo Netizen

Mata Ini Menjadi Berharga di Hadapan Kyai Umar

Oleh: Danang Febriansyah
Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)

#Cerpen

Kereta api KRD Kuda Putih tiba di stasiun Solo jelang matahari tepat berada di atas kepala. Cuaca kemarau membawa hawa panas di kota ini.

Dengan bercelana pendek kegemaranku, aku turun dari kereta dan berjalan di peron menuju pintu keluar. Kusibakkan rambut belah samping dengan sisir yang kuambil dari kantong belakang celana, dan kuusap mata sipitku agar rasa kantuk di kereta tadi segera sirna.

Mata banyak orang di sana terlihat sinis menatapku. Aku mengira mereka berpikir tentang celana pendekku, akan tetapi selain itu, aku seperti baru tersadar merasa bahwa mata sipitku seakan tidak berharga di hadapan mereka.

Meskipun begitu, aku harus bertahan, karena di kota kecil ini, aku mulai bertugas di perusahaan listrik negara, awal 1960.

 ***

            Aku sudah bekerja menagih biaya listrik pelanggan di sebuah kampung, di samping itu kadang pemilik rumah memintaku untuk memeriksa instalasi listrik yang rusak. Ini sudah berjalan tiga bulan aku bekerja sejak kedatanganku di kota ini yang disambut mata sinis di peron stasiun. Seperti biasa, beberapa kali pula aku mendapat perlakuan tidak mengenakkan saat menarik iuran listrik di rumah-rumah warga, karena mataku yang mungil ini.

Ketika bekerja, aku selalu mengenakan celana pendek – dan itu menjadi salah satu alasan warga bahwa aku tidak sopan –, tapi mata ini yang menjadi alasan terbesar mereka memandangku sebelah mata. Ada juga yang memperlakukanku dengan baik, meski aku berbeda dari mereka. Meskipun begitu, kucoba terus tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan, karena tugas negara lebih aku utamakan.

            Kulihat jam tanganku hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Perintah dari kantor, kemarin lusa pengasuh pondok pesantren meminta untuk diperbaiki beberapa instalasi listrik di pondok, karena khawatir jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi karena instalasi listrik yang tidak baik. Selain itu juga untuk menarik biaya penggunaan listrik bulan ini sesuai tugas utamaku.

Memasuki gerbang pesantren, suasana terasa damai, mungkin karena beberapa pohon tumbuh di samping kanan dan kiri jalan. Sampai di teras rumah yang berada di tengah pesantren, seorang berkopiah putih, berkacamata dan frame bagian atas agak tebal, mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan sarung juga berwarna putih. Di lehernya melingkar sebuah sorban. Kami bertatap muka, dia tersenyum. Senyum itu seakan menghujani hatiku yang panas karena hujatan beberapa warga. Begitu teduh.

            Belum sempat mengatakan tujuanku, dia bilang padaku untuk keliling ke rumah-rumah yang lain dulu yang belum kudatangi, nanti setelah selesai beribadah memintaku untuk kembali ke sini. Rupanya pengasuh pondok pesantren ini sudah mengetahui tujuanku. Dua kali aku menarik biaya langganan listrik di pondok ini, baru ketiga kali ini aku bertemu langsung dengan pengasuhnya. Daripada membuang waktu menunggunya beribadah, aku mengikuti sarannya untuk berkeliling kampung dulu menarik biaya listrik pada rumah-rumah di kampung ini.

            Di sebuah rumah, aku mengetuk pintu yang tertutup. Agak lama aku menunggu pemilik rumah keluar, sempat aku mengira penghuni rumah sedang pergi, namun kudengar gerutu dari dalam rumah. Pintu kemudian terbuka, seorang perempuan setengah baya dengan roll rambut di bagian atas keningnya. Daster menutupi tubuhnya yang agak besar. Pandangannya seketika sinis menatapku. Alisnya bertaut menambah wajah tak bersahabat.

            “Mau apa? Ganggu istirahat saja,” ucapnya dengan nada tinggi.

            Kukontrol hatiku agar tak ikut memanas.

            “Maaf, ibu. Saya mau menarik iuran listrik,”

            “Pegawai baru? Bukan pribumi!” ketusnya.

            Meskipun sudah tiga kali aku datang ke rumah ini, tapi ibu itu selalu mengatakan seperti itu yang masih membuatku menahan sakit hati.

            Tanpa berucap, ia masuk ke rumah. Beberapa saat kemudian ia menyerahkan uang padaku setengah dilempar. Aku menangkap uang yang hampir terjatuh.

            “Terima kasih,” ucapku.

            Tanpa menyahut, ia menutup pintu agak keras. Kuhela napas dan berjalan menuju rumah berikutnya.

            Hampir satu jam berkeliling, aku kembali ke pondok pesantren tadi. Rupanya pengasuh pondok tadi sudah menungguku di kursi teras. Melihat kedatanganku, dia memperlihatkan senyum yang sama seperti kedatanganku tadi. Sambil berdiri, dia mempersilahkanku duduk dan memperkenalkan namanya, yang kemudian kusebut Pak Umar atau Kyai Umar. Kuperkenalkan namaku juga agar mudah disebut, dan saling kenal.

Kyai Umar kemudian masuk ke dalam rumah. Tak menunggu lama, dia keluar dengan membawa segelas teh dan beberapa makanan ringan yang dihidangkan padaku. Namun aku mengatakan akan memeriksa instalasi listrik yang rusak dulu. Kyai Umar setuju dan mengantarku ke dalam pondok.

Selepas memperbaiki listrik, Kyai Umar menyerahkan uang pembayaran listrik. Rencanaku tadi setelah menerima pembayaran akan segera memeriksa instalasi listrik pondok yang rusak, namun karena Kyai Umar menahanku lebih dulu untuk sekadar menikmati hidangan yang sudah disediakan.

Aku menurutinya, sambal berbincang dengannya. Dia bercerita tentang kesederhanaan hidup, dan karena merasa nyaman aku sempat memberanikan diri menceritakan kejadian saat menarik iuran listrik di rumah dengan penghuni wanita dengan roll rambut di atas keningnya tadi.

Kyai Umar hanya tersenyum sambil menceritakan sebuah kisah masa lalu tentang pembawa agama yang dianut Kyai Umar yang dilempari kotoran oleh pembencinya, bahkan dihujat oleh seorang buta yang tiap hari disuapinya dengan lembut. Namun hujatan, dan siksaan itu diterimanya dengan kesabaran yang luar biasa, dia mengatakan untuk menerima apapun yang terjadi sesuai filosofi di Jawa “narima ing pandum” menerima yang diberikan Yang Maha Kuasa, dan dia mengatakan padauk untuk bersyukur dengan keadaanku, tanpa menghujatku yang berbeda. Aku merasa damai berbicara dengannya.

            Aku kemudian berpikir bahwa yang kuterima belum seberapa dibanding kisah yang diceritakan Kyai Umar. Karenanya hal itu membuatku termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi.

            Pertemuan itu cukup memberiku kesan yang sangat baik. Sama sekali dia tidak menampakkan raut wajah yang sinis seperti kebanyakan orang, tidak juga menyinggung kenapa aku mengenakan celana pendek. Tidak juga menyinggung bahwa keyakinan kami berbeda. Apalagi memandang aneh fisikku. Kami ngobrol dengan santai, dan kedatanganku itu cukup mengubah pandanganku bahwa kota ini sebenarnya menyimpan keramahan dari sosok Kyai Umar.

***

Ilustrasi masjid. (Sumber: Unsplash | Foto: Nouman Younas)

            Sampai kemudian, aku lebih sering bertemu Kyai Umar ketika menarik pembayaran listrik tiap bulannya. Dia tidak pernah memandangku sebelah mata, dia tahu cara menghargai dan menghormati sesama. Dari setiap pertemuan itu, pasti aku mendapatkan pelajaran yang sedikit banyak mengubah pandanganku tentang orang-orang dan kota ini. Aku merasa semakin kerasan dan nyaman tinggal di kota ini.

            Satu hal yang sering kuingat adalah nasehatnya tentang kerukunan, dia mengatakan kalau dalam hidup berdampingan ini akan jauh lebih baik bila kita semua guyub rukun, dan tidak saling berseteru. Guyub rukun akan menjadi kita semakin kuat. Pesan itu aku yakin akan sesuai di segala zaman.

            Aku menjadi sering bercerita tentang perilaku orang-orang padaku. Aku sadar, di era ini, orang-orang sepertiku ini menjadi bahan untuk memandang sinis dan menjadi gunjingan. Sejarah masa lalu memang tak bisa dihapus, meski tak sedikit yang juga mempunyai jasa untuk bangsa. Dan mendengar ceritaku selama di kota ini, Kyai Umar seringkali memberi nasihat-nasihat untukku yang membuatku berpikir bahwa dia adalah sedikit pengecualian yang begitu indag. Apapun agama dan suku seseorang, ketika kerukunan dijaga, maka tidak ada kekecewaan dalam hidup, pesannya di lain waktu.

            Mengingat apa yang dikatakan Kyai Umar ketika aku memperbaiki listrik di pesantren yang padam, pandanganku yang skeptis terhadap agama dan keyakinan mulai goyah karena Kyai Umar. Ketika suasana gelap karena listrik padam, dia mengatakan pentingnya cahaya. Begitupun hati manusia juga butuh cahaya. Seringkali manusia sibuk mencari cahaya di luar diri kita, seperti uang, pekerjaan dan validasi. Meskipun itu sangat penting untuk melanjutkan kehidupan, tapi sering juga melupakan untuk menyalakan cahaya di dalam diri, dalam hati.

            Perkataan Kyai Umar itu seakan menamparku, yang terlalu sibuk mengejar karierku agar semakin naik tanpa memikirkan kebahagiaan sejati. Aku terlalu memandang agama sebelah mata, sedangkan Kyai Umar memandang agama juga penting berjalan beriringan dengan pekerjaan. Tiba-tiba aku merasa kosong di dunia yang gemerlap ini.

 ***

            Sudah lama aku tinggal di kota ini, aku sudah mengenal banyak tentang kehidupan kota dan berbagai macam karakter warga di sini. Hari ini, aku berniat bertemu Kyai Umar meski bukan jadwal penagihan biaya listrik. Aku merasa hari ini harus berkunjung ke pondoknya.

            Di depan cermin, kupastikan penampilanku sudah pantas. Kemeja lengan panjang kumasukkan dalam celana panjang. Ini pertama kali aku mengenakan celana Panjang. Meski tak sekalipun Kyai Umar melarangku mengenakan celana pendek, tapi hari ini aku merasa sungkan padanya.

Seperti pada pertemuan pertama, aku sampai di pondoknya tepat saat akan menjalankan ibadah. Beliau sama sekali tak menunjukkan sikap berbeda meski penampilanku berbeda. Senyum teduh selalu diperlihatkan sekan tahu niatku mengunjunginya.

            Beliau memintaku menunggu di ruang tamu, namun aku mengikutinya menuju masjid tempatnya beribadah tanpa setahunya. Santri-santrinya sudah berkumpul di masjid itu, siap mengerjakan ibadah. Aku duduk di teras masjid menunggu Kyai Umar selesai beribadah.

            Kurang lebih lima belas menit beliau keluar diikuti santri-santrinya. Beliau melihatku, kemudian mendekatiku.

            “Menunggu di sini? Kenapa tidak di rumah?” tanyanya setelah duduk di depanku.

            “Sengaja aku ingin bertemu Kyai di sini,” jawabku.

            Kyai Umar duduk di depanku. Santri-santri berlalu lalang membawa buku kembali akan belajar. Beberapa yang berjalan di dekat Kyai Umar dan memberi salam dan hormat pada kyai mereka. Dadaku mengombak. Pemandangan yang asing bagiku, namun terlihat sungguh bersahaja. Rupanya, hidup tak hanya berkutat pada materi, bermanfaat bagi orang lain ternyata bisa membahagiakan diri.

            Selesai melayani salam santri-santrinya, Kyai Umar Kembali menatapku, “Sepertinya ada hal yang ingin kamu sampaikan?”

            Aku mengangguk, tak seperti biasanya perasaan hati ini begitu ingin lebih dekat pada Kyai Umar, hari ini niat yang kupendam harus keluar. Namun aku harus mengatakan niatku dengan segala pertimbangan yang luar biasa bergejolak. Aku merasa di hadapan Kyai Umar, mataku, hatiku, dan segala yang ada di diriku ini begitu berharga.

            “Katakan saja, sesederhana kamu datang setiap bulan ke sini.” Kyai Umar kulihat membaca kata hatiku.

            “Aku ingin berpamitan, sebentar lagi tugasku di kota ini habis, aku akan pindah ke daerah lain.”

            Kyai Umar tampak kaget dan ingin mengungkapkan pertanyaan, tapi aku segera melanjutkan apa yang menjadi tujuanku.

            “Kyai, aku telah memendam niat ini setelah dua atau tiga kali bertemu Kyai Umar. Dan semakin sering bertemu, niat ini memuncak untuk segera meminta bimbingan Kyai Umar.” Hatiku terasa penuh sebelum mengucap ini.

            Kami duduk di dalam rumah Tuhan ini. Berlantai ubin dilapisi karpet berwarna abu. Di hadapanku Kyai Umar dan beberapa orang di belakang beliau dan di belakangku. Kyai Umar membimbingku yang terbata dengan perlahan setelah memastikan niat utamaku.

            Langit di atas memberi keteduhan lebih diselingi angin yang pelan berhembus membawa ketenangan jiwa, seakan ikut memberikan kelegaan hatiku yang selama ini selalu ragu pada yang namanya agama. Aku merasa mata ini menjadi berharga di hadapan Kyai Umar. 

24 Februari 2024

Reporter Danang Febriansyah
Editor Aris Abdulsalam