Ayo Netizen

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Oleh: Kin Sanubary
Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun. Kertasnya mulai menguning, cetakannya tak lagi setajam majalah masa kini, tetapi setiap halaman seolah menyimpan suara, cerita, dan suasana dari sebuah zaman yang telah lama berlalu.

Begitulah kesan ketika membaca kembali Mangle edisi Agustus 1962 terbitan 64 tahun silam.

Majalah yang ketika itu masih menyandang keterangan “Madjalah Panglipur Basa Sunda” tersebut terbit dari Bogor. Edisi ini tercatat sebagai No. 58 Tahun V, Agustus 1962, dengan harga eceran Rp12,50.

Namun, yang segera menarik perhatian adalah sosok perempuan muda yang menghiasi halaman sampul: Tatty Kartika, mojang Bandung kelahiran 16 September 1945.

Namanya kemudian diperkenalkan lebih jauh melalui rubrik “Sekar Mangle”, dengan untaian kalimat berbahasa Sunda yang khas, puitis, sekaligus penuh semangat:

Daweungna semu nu nangtang,

sanes nangtang perang tanding.

Nangtang soteh ngadjak tandang,

tandang di kalangan seni, seni tawis binangkit.

Binangkit nawiskeun luhur,

luhurna ka-Sundaan, nu misti dipusti-pusti,

dina rangka Budaja Indonesia.

Neng Tatty Kartika,

linggih di Gang Sitimunigar, Bandung.

Kalimat-kalimat tersebut terasa lebih dari sekadar pengantar untuk memperkenalkan seorang mojang Bandung. Di dalamnya tersirat ajakan untuk berani tampil dan berkarya, tandang di kalangan seni, sekaligus menjunjung tinggi kesenian dan kebudayaan Sunda sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.

Membaca Mangle terbitan 1962 terasa seperti memasuki lorong waktu.

Dari lembar demi lembar, kita dapat merasakan bagaimana bahasa Sunda pada masa itu digunakan sebagai bahasa jurnalistik, sastra, hiburan, sekaligus medium untuk merekam kehidupan masyarakat.

Ada sesuatu yang menarik dari majalah lama: ia tidak hanya menyimpan tulisan, tetapi juga menyimpan cara sebuah generasi memandang zamannya.

Pilihan kata, gaya bahasa, tema tulisan, hingga cara memperkenalkan seorang tokoh seperti Tatty Kartika, semuanya menjadi potongan kecil dari kehidupan sosial dan kebudayaan Tatar Sunda pada awal dekade 1960-an.

Mangle sendiri memiliki perjalanan panjang. Majalah ini mula-mula lahir di Kota Bogor sebelum kemudian menemukan denyut kehidupan barunya di Bandung. Perjalanannya menjadi bagian penting dari sejarah pers berbahasa Sunda.

Sebab, pelestarian bahasa daerah bukan semata-mata soal mempertahankan kosakata atau tata bahasa. Bahasa adalah bagian dari ingatan kolektif. Di dalamnya tersimpan cara berpikir, nilai kehidupan, humor, kesantunan, dan identitas kebudayaan sebuah masyarakat.

Karena itu, kehadiran media berbahasa Sunda memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan bahan bacaan. Media membuat bahasa ibu tetap hadir di ruang publik, dibaca, ditulis, dibicarakan, dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks itulah perjalanan Mangle menjadi menarik untuk dikenang.

Nama Mangle sendiri memiliki makna yang indah: ranggeuyan kembang, atau untaian bunga.

Majalah ini pertama kali terbit pada 21 November 1957. Di balik kelahirannya terdapat sejumlah tokoh, antara lain Oetoen Moechtar, E. Rohamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Moechtar, dan Alibasah Kartapranata.

Kehadiran Mangle meneruskan tradisi panjang pers Sunda yang telah tumbuh jauh sebelumnya.

Sejak akhir abad ke-19, pers berbahasa Sunda telah memiliki jejak melalui berbagai penerbitan, antara lain Sunda Almanak pada 1894 dan Panemu Guru pada 1906. Masa pendudukan Jepang kemudian menjadi salah satu periode sulit bagi penerbitan dalam bahasa daerah.

Setelah Indonesia merdeka, pers Sunda kembali menggeliat. Dekade 1950 hingga 1970-an bahkan menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan media berbahasa Sunda.

Nama-nama seperti Pajajaran (1949), Panghegar (1952), Warga (1954), Candra (1954), Kiwari (1957), Sari (1963), Sangkuriang (1964), Campaka (1965), Kutawaringin (1966), Baranangsiang (1966), hingga Pelet (1966), ikut meramaikan dunia pers Sunda.

Sampul muka Majalah Mangle era 1960-an, ketika majalah berbahasa Sunda tersebut masih diterbitkan di Bogor. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)

Namun, zaman terus bergerak. Satu demi satu penerbitan tersebut akhirnya berhenti terbit. Nama-nama seperti Cupumanik, Seni Budaya, Ujung Galuh, Sunda Midang, Bina Da’wah, Iber, Balebat, Hanjuang Bodas, Logay, Panggugah, dan Sampurasun kini lebih banyak dikenang sebagai bagian dari sejarah panjang pers Sunda.

Di tengah perubahan itu, Mangle menjadi salah satu saksi yang masih bertahan.

Ada satu hal menarik dari perjalanan Mangle: besarnya minat masyarakat terhadap bacaan berbahasa Sunda pada masa kejayaannya.

Pada dekade 1970-an, oplah Mangle pernah mencapai sekitar 150 ribu eksemplar per bulan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa bahasa daerah pernah memiliki ruang yang begitu kuat dalam industri media cetak.

Mangle bukan sekadar tempat membaca cerita dan berita. Majalah ini juga menjadi ruang tumbuh bagi para pengarang Sunda.

Di bawah kepemimpinan redaksi M.H. Rustandi Kartakusumah dan Gondewa, berkembang sejumlah nama penulis seperti Rahmat M. Sas Karana, Tatang Sukanda, Us Tiarsa, dan Aam Amilia.

Dari halaman-halamannya, sastra Sunda modern memperoleh ruang untuk berkembang. Para penulis, budayawan, dan penggiat kesenian mendapatkan tempat untuk menyampaikan gagasan sekaligus berinteraksi dengan pembaca.

Dengan demikian, Mangle bukan hanya sebuah penerbitan berkala. Ia pernah menjadi semacam rumah bagi kreativitas, sastra, kebudayaan, dan literasi Sunda.

Dari Tatty Kartika hingga Hari Ini

Kembali kepada sampul Mangle Agustus 1962, sosok Tatty Kartika seakan membawa kita kembali kepada suasana Bandung dan Tatar Sunda pada zamannya.

Seorang mojang Bandung tampil sebagai “Sekar Mangle”. Ia bukan semata-mata sosok yang menghiasi halaman depan, tetapi juga digambarkan sebagai bagian dari generasi muda yang diajak untuk tandang di kalangan seni, berani tampil, berkarya, dan ikut menjaga kebudayaan.

Menariknya, pesan tersebut masih terasa relevan hingga hari ini.

Lebih dari enam dekade kemudian, tantangan terhadap bahasa Sunda memang telah berubah. Jika dahulu tantangannya antara lain berkaitan dengan keterbatasan penerbitan dan ruang baca, kini tantangannya datang bersama derasnya arus digital, perubahan pola konsumsi informasi, dan semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah di sebagian kalangan generasi muda.

Karena itu, pelestarian bahasa Sunda tidak cukup hanya melalui seremoni. Bahasa harus tetap digunakan, dibaca, ditulis, dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan di sinilah media seperti Mangle memiliki peran penting.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengetahui bahwa sosok yang pernah menghiasi sampul Mangle lebih dari enam dekade lalu itu hingga kini masih menyentuh dunia literasi.

Alhamdulillah, Bu Hj Tatty Kartika, yang kini menginjak usia 81 tahun, masih aktif menulis dan berkegiatan di lingkungan literasi. Kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis tetap terpelihara melalui puisi dan sajak.

Ia juga aktif dalam sejumlah komunitas, di antaranya HaikuKu Indonesia, Pustaka Sunda, dan Komunitas Negeri Poci.

Perjalanan tersebut seperti menjadi jawaban atas semangat yang pernah dituliskan Mangle pada 1962: tandang di kalangan seni.

Tatty Kartika yang dahulu hadir sebagai mojang Bandung di halaman Sekar Mangle, ternyata terus menjaga hubungan dengan dunia kata dan kesusastraan hingga usia senja.

Sebuah perjalanan yang menarik dari halaman majalah tua menuju kehidupan literasi yang terus berlangsung.

Perjalanan Mangle sendiri terus memasuki babak baru.

Tatty Kartika diusia 81 tahun masih aktif di dunia literasi. (Sumber: Istimewa)

Dalam perkembangan mutakhirnya, pengelolaan Mangle memasuki fase baru dengan keterlibatan Universitas Padjadjaran melalui Pusat Budaya Sunda Unpad. Pengelolaan tersebut diresmikan pada 20 Mei 2025 di Graha Sanusi Hardjadinata, sebagai bagian dari upaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengembangan kebudayaan daerah.

Penerbitan tetap berada di bawah Mangle, sementara arah redaksional diperkuat dengan konten kebudayaan dan pengetahuan. Majalah ini juga diarahkan untuk memberikan ruang kepada penulis dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun masyarakat umum.

Format dan rubrik pun diperbarui agar Mangle tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Sebuah ikhtiar agar “untaian bunga” itu tidak layu.

Untaian Bunga yang Tak Lekang

Membaca kembali Mangle Agustus 1962 pada hari ini bukan sekadar membuka majalah lama. Lebih dari itu, rasanya seperti berjumpa kembali dengan sebuah zaman.

Di sana ada Tatty Kartika, mojang Bandung yang wajahnya menghiasi sampul. Ada bahasa Sunda yang mengalir dengan indah. Ada kesenian, sastra, dan gagasan tentang kebudayaan. Ada pula jejak sebuah masyarakat yang pernah menjadikan membaca majalah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Enam puluh empat tahun telah berlalu. Dunia pers berubah. Cara orang membaca berubah. Teknologi bergerak begitu cepat.

Namun, ada sesuatu yang tetap penting: bahasa dan ingatan budaya harus selalu memiliki ruang untuk hidup.

Mangle telah melewati berbagai zaman dari lembaran kertas yang dibaca dengan tangan hingga era ketika informasi berada di dalam genggaman.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari namanya.

Mangle yaitu ranggeuyan kembang, untaian bunga.

Boleh berganti musim, tetapi selama bahasa Sunda masih digunakan, dibaca, ditulis, dan dicintai, bunga itu akan selalu memiliki alasan untuk kembali mekar.

Dari satu generasi ke generasi berikutnya, halaman-halaman Mangle menjadi pengingat bahwa bahasa ibu bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah bagian dari kehidupan kebudayaan yang terus tumbuh, bergerak, dan mencari tempatnya di masa depan.

Dan ketika sebuah majalah tua dibuka kembali 64 tahun kemudian, kita menyadari bahwa sesungguhnya yang sedang kita baca bukan hanya tulisan.

Kita sedang membaca jejak sebuah zaman dan menemukan bahwa sebagian dari jiwa zaman itu ternyata masih hidup hingga hari ini. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam