Ayo Netizen

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)

Kondisi musim Kemarau yang ekstrim membuat tanaman rumput dan pohon yang menghasilkan daun untuk pakan ternak semakin langka. Perlu menyiapkan alternatif pakan.

Selama ini ada kesalahan yang perlu dihindari, yakni baru mencari alternatif pakan ketika persediaan hijauan sudah menipis. Perlu penyimpanan cadangan pakan sejak sebelum periode kemarau agar ketersediaan pakan tetap terjaga ketika produksi hijauan menurun.

Salah satu solusi yang jitu adalah melalui penguatan Bank Pakan, yaitu sistem penyediaan cadangan pakan yang dapat dimanfaatkan ketika produksi rumput menurun akibat kemarau panjang.

Pada Juli 2026, Kementerian Pertanian menyebut telah memfasilitasi 843 Bank Pakan yang tersebar di 34 provinsi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pakan nasional.

Peternak dapat mengkombinasikan beberapa strategi, seperti menanam hijauan yang adaptif terhadap kondisi kering, membuat silase atau hay, memanfaatkan sumber pakan lokal dan limbah pertanian yang sesuai, serta menyiapkan cadangan sebelum memasuki periode kekeringan.

Solusi utama mengatasi krisis pakan saat kemarau ekstrim dan bencana adalah dengan melakukan pengawetan pakan hijauan, memanfaatkan limbah pertanian, serta menanam varietas tanaman yang tahan kering.

Membuat Silase prosesnya dengan mengawetkan hijauan segar atau tebon jagung melalui fermentasi tanpa udara (anaerob) di dalam drum atau silo. Pakan ini tahan disimpan hingga bertahun-tahun.

Membuat Hay dengan cara mengeringkan rumput atau hijauan hingga kadar airnya sangat rendah agar bisa disimpan dalam waktu lama sebagai cadangan. Bisa juga memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami padi, daun ubi kayu, onggok, atau bungkil sawit sebagai sumber pakan alternatif pengganti rumput segar.

Betapa pedihnya hati kita menyaksikan penderitaan hewan pada saat terjadi bencana kekeringan, banjir bandang dan tanah longsor. Penderitaan hewan akibat bencana alam perlu dicarikan solusi.

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar. Untuk itu diperlukan infrastruktur untuk mengungsikan ternak saat terjadi bencana. Termasuk bencana kekeringan.

Perlu membangun infrastruktur untuk ternak yang terdiri atas sistem transportasi dan prasarana untuk pengungsian ternak. Termasuk mencukupi kebutuhan pakan selama mengungsi dengan cara membangun pabrik atau mesin produksi pakan ternak skala kecil atau mini yang mudah dirakit dan dipindahkan.

Bencana alam telah berdampak pada usaha peternakan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha pertanian masyarakat di pedesaan. Perlu program untuk rehabilitasi dan rekonstruksi usaha peternakan.

Konkritnya berupa rehabilitasi sarana pengadaan tata guna air, pengadaan inovasi pakan komplit, rehabilitasi kebun hijauan pakan, pengelolaan limbah ternak menjadi biogas dan kompos, inovasi kandang portabel atau knock down untuk mengantisipasi bencana, serta memantau kemungkinan terjadinya penyakit ternak menular dan kronis.

Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi usaha peternakan diharapkan dapat segera memulihkan perekonomian peternak dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Banyak warga selama ini enggan mengungsi di tengah ancaman bencana alam karena merasa berat hati meninggalkan ternaknya. Bencana alam mengakibatkan binatang ternak banyak yang sakit, kelaparan hingga banyak yang mati. Kondisi yang mengenaskan juga terlihat dengan penurunan berat badan ternak sapi secara drastis di daerah bencana.

Dibutuhkan sistem transportasi dan karantina bagi ternak yang diungsikan. Ini agar kondisi ternak terjaga serta terhindar dari risiko penyebaran penyakit dan dampak lainnya.

Sistem dan prosedur pengungsian ternak perlu integrasi moda angkutan yang terdiri dari truk, kapal laut, hingga kereta api. Serta penyiapan tempat-tempat karantina dan tenaga kerja yang memadai. Tugas karantina ternak dalam pengungsian adalah pemberian pakan dan mencegah terkena penyakit.

Dibutuhkan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah pakan ternak akibat bencana alam. Apalagi kini kondisinya semakin sulit karena industri pakan ternak juga sedang ada masalah produksi karena terkendala bahan baku. Akibatnya harga pakan ternak pabrikan terus melambung disaat terjadi bencana beruntun.

Bencana alam menyebabkan banyak peternak yang menjual murah ternaknya atau memotong ternak indukan yang masih produktif. Hal ini tentunya akan menjadi masalah serius terkait dengan terdegradasinya populasi ternak produktif di negeri ini.

Menghadapi bencana alam yang bertubi-tubi, pentingnya pemerintah mencari solusi yang tepat antara lain memberikan insentif kepada industri pakan ternak rakyat serta menggalakkan inovasi teknologi tepat guna untuk mencukupi pakan ternak. Seperti contohnya dengan menyediakan pakan tambahan awetan atau silase yang merupakan hasil fermentasi hijauan yang melimpah di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang bebas bencana.

Diperlukan solusi cepat dan komitmen yang tinggi dari pemerintah untuk sedapat mungkin menjaga ketersediaan pakan yang berkualitas dan harganya murah untuk usaha peternakan rakyat. Dengan kondisi di atas sebaiknya pemerintah memberikan insentif bagi daerah terdampak bencana.

Terkait dengan penyediaan pakan ternak alternatif untuk usaha ternak rakyat dengan memperbanyak pendirian pabrik pakan ternak skala kecil atau mini feed mill. Pemerintah daerah sebaiknya membangun di setiap desa atau kecamatan yang rawan bencana alam. (TS)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam