Ayo Netizen

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Oleh: Malia Nur Alifa
Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)

Bulan September untuk saya adalah bulannya kota Bandung tercinta ini. Karena pada tanggal 25 September nanti kota Bandung genap berusia 215 Tahun. Pada tahun 2010 silam Pikiran Rakyat, dalam rangka hari jadi Bandung yang ke-200 tahun membuat sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung, di mana ikon-ikon tersebut adalah sangat mewakilkan Bandung dari segala sudut pandang.

Hari ini ketika saya membaca kembali buku ini telah ada dari beberapa ikon-ikon tersebut yang telah hilang, bahkan generasi muda Bandung sekarang mungkin akan sangat awam pada ikon-ikon tersebut. Sebut saja C59, Mahanagari, Tobucil, Distro, Radio GMR dan beberapa tokoh legendaris yang menjadi ikon Bandung seperti Kang Ibing, Harry Roesli, M, Iming, Haryoto Kunto, Mang Koko, The Rollies dan masih banyak lainnya.

Tulisan saya pada bulan September ini akan membahas beberapa Ikon Bandung yang telah lama tak terdengar bahkan telah tiada, agar generasi muda Bandung dapat mengetahui dan kita-kita yang menjalani dapat sedikit bernostalgia. Tulisan ini dikutip dari buku 200 Ikon Bandung jilid pertama yang tidak pernah diterbitkan kembali.

Mahanagari

Produsen kaos dan merchandise Mahanagari menuliskan rumus ”F : V : P” dengan latar belakang berbagai rumus fisika lainnya dalam desain salah satu kaosnya. Rumus “temuan” Mahanagari tersebut adalah rumus khas yang mungkin bisa menunjukkan identitas orang Sunda umumnya yang sering melafalkan huruf F atau V dengan P. Desain itu adalah salah satu desain “Bandung Pisan” yang menjadi andalan Mahanagari.

Di balik berbagai macam desain “Bandung Pisan” yang ditawarkan Mahanagari, awalnya adalah cerita sederhana. Tahun 1998 sang pemilik Mahanagari mendapatkan sebuah beasiswa ke Singapura, untuk sekadar tukar menukar hadiah dengan para kenalannya di Singapura, ia pun mencari merchandise yang khas Bandung namun ia tak menemukannya. Lalu terbersit dalam benak sang pemilik untuk membuat kaos-kaos khas Bandung untuk oleh-oleh para pelancong juga. Ide ini baru dapat ia realisasikan pada 2002. Saat itu, Ben dan rekannya Hanafi Salman keluar dari tempat kerja untuk mendirikan Mahanagari.

Pada 2002 bisnis distro dan clothing tengah menjamur. Sebagian besar dengan semangat menjual content luar negeri dalam desainnya. Namun, pertanyaan yang muncul di benak mereka adalah bagaimana masyarakat lokal mau membeli produk mereka yang berupa kaos lokal yang memuat konten lokal yang nantinya akan memunculkan kebanggaan sebagai warga kota Bandung.

Sebagai langkah awal, dibuatlah beberapa desain content lokal yang diarahkan untuk pembeli wisatawan asing. Pada awalnya Mahanagari mendapatkan sebuah tempat di toko Setiabudi, yang memang banyak ekspatriat yang berkunjung ke toko tersebut. Saat itu mereka baru memiliki 5 desain, dan cukup untuk memutar roda bisnis mereka saja.

Ketika bom Bali 1 dan 2, Mahanagari pun ikut menjadi korban, mengalami mati suri selama dua tahun, karena jumlah wisatawan asing yang turun drastis. Pada tahun 2005, Ben dan Hanafi mengubah orientasi, karena wisatawan asing sedang surut bagaimana dengan mengubah pasar ke warga lokal saja.

Setelah melalui berbagai cobaan diketahui bahwa gaya visual ala distro tidak begitu laku, sebaliknya pendekatan desain yang menggunakan tema tradisional, kolonial, kontemporer, plus komemorasi ternyata lebih diterima. Dengan dilengkapi semangat ingin mengajak bangga kepada kotanya sendiri melalui desain, hasilnya adalah beragam desain “mahiwal” (Nyeleneh) yang “Bandung Pisan”, seperti desain angkot, si cepot, peta jalur kota, persib, hingga rumus F:V:P yang melegenda.

Desain mahiwal mengenai Bandung memang mendapatkan porsi tersendiri. Dan cenderung menjadi bahan obrolan warga dan tumbuh menjadi rasa penasaran dan akhirnya pun membeli. Agar terus mendapatkan masukan desain yang beragam, Mahanagari menerapkan pola bisnis khas anak muda. Selain menerima barang desain dari berbagai kalangan, mereka juga berkolaborasi dengan komunitas dan memanfaatkan pengembangan kearifan lokal. Saat itu telah ada 40 desainer yang berkontribusi untuk Mahanagari dari berbagai kalangan.

Semuanya dilakukan untuk mendekati tujuan sosial, agar masyarakat mencintai kota Bandung. Produk yang berbentuk edukasi adalah “Kala Bandung” sebuah timeline sejarah Bandung dalam rangkaian banner sepanjang 50 meter, berkolaborasi dengan para komunitas. Mahanagari juga mengeluarkan tur alternatif, seperti tur pasir pawon, Cibeureum lava tur, tur sepeda, tur heritage, tur urat emas dan tur Gunung Padang.

Kearifan lokal juga turut diangkat dan diperkenalkan dengan produk yang sesuai dengan kekhasan. Pengusaha wayang golek muda juga menjadi model kaosnya, ahli aksara kuno muda pun begitu. Shinta Ridwan dipilih menjadi model kaos dengan desain aksara Sunda, komedian Ronal Surapradja menjadi model kaos urang Bandung keur di Jakarta, dan seniman Tisna Sanjaya yang menjadi model dengan desain kaos dengan rumus F:V:P. Dengan adanya Mahanagari, pengetahuan, kepedulian warga terhadap kota Bandung semakin meningkat, karena sang pemilik Mahanagari selalu bertutur bahwa warga harus bangga dengan kotanya.

Namun, sayang sekali Mahanagari sekarang telah tutup, dahulu saya sering menyambangi tokonya di salah satu mall besar di Cihampelas, sangat menyenangkan melihat desain kaosnya, dan bahan kaosnya pun sangat awet hingga kini pun masih saya pakai di rumah. Semoga akan ada kembali para pengusaha muda yang memiliki kepedulian kepada kotanya yang datang melalui kreativitas dan dapat terus tumbuh untuk menciptakan rasa bangga pada kota Bandung kita tercinta ini. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam