Gunung Burangrang, sang saksi bisu purba, menyimpan pesona geologis yang luar biasa sebagai warisan Gunung Sunda. Keindahan alamnya terbagi menjadi dua wilayah strategis yang menakjubkan. Sisi Burangrang Utara membentang indah di perbatasan Purwakarta dan Subang, menawarkan lanskap hijau berbalut kabut yang memikat mata setiap petualang.
Sementara itu, kemegahan Burangrang Selatan berdiri kokoh menjaga wilayah Bandung Barat. Kawasan ini menyuguhkan panorama dataran tinggi yang asri dan sejuk. Pembagian geografis ini menciptakan keunikan karakteristik alam yang berbeda. Dinamika tersebut menjadikan kedua sisi gunung ini destinasi yang kaya akan potensi wisata alam mandiri.
Artikel ini akan mengupas tuntas pesona kedua wilayah legendaris tersebut. Kita akan menjelajahi potensi wisata, jalur pendakian, serta kearifan lokal masyarakat sekitarnya. Melalui catatan perjalanan ini, pembaca diajak mengagumi sisa kemegahan tebing purba Nusantara. Mari kita singkap tabir keindahan tersembunyi yang tersimpan di tanah Pasundan.
Warisan Gunung Sunda Purba: Gunung Burangrang
Gunung Burangrang merupakan sebuah gunung api mati yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Gunung Burangrang mempunyai ketinggian setinggi 2.050 meter. Gunung ini merupakan salah-satu sisa dari hasil letusan besar Gunung Sunda di Zaman Prasejarah sekitar 210.000 hingga 105.000 tahun yang lalu. Gunung Burangrang bersebelahan dengan Gunung Sunda.
Gunung ini berdekatan dengan Gunung Sunda dan terletak di wilayah Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat. Lokasi dan geografi, secara administratif, gunung ini berada di perbatasan di wilayah Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
Pariwisata dan pendakian Gunung Burangrang sering menjadi tujuan pendakian dan dianggap cocok untuk pemula. Jalur pendakian utama: via Legok Haji, jalur paling populer, dikenal dengan medan yang cukup terjal namun waktu tempuh singkat (sekitar 3-4 jam), via Komando (Cisarua), jalur ini sering digunakan untuk latihan militer (Kopassus), melewati kawasan Situ Lembang, via Pangheotan, jalur yang lebih panjang namun menawarkan pemandangan hutan yang lebih rimbun.
Etimologi, nama "Burangrang" diyakini berasal dari kata rangrang dalam bahasa Sunda yang berarti ranting kering. Gunung Burangrang merupakan salah satu gunung penting di Jawa Barat yang menjadi daerah tangkapan air (catchment area) bagi banyak sungai kecil hingga menengah. Aliran sungainya terbagi ke 2 (dua) arah besar: Utara, menuju Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang (Pantura) dan Selatan, menuju Kabupaten Purwakarta, Daerah Aliran Sungai Citarum dan Kabupaten Bandung Barat.
Tulisan ini adalah dari hasil penelitian dan pembacaan secara cermat sebuah peta Gunung Burangrang dan Gunung Tangkubanparahu masa Kolonial Hindia Belanda, Mei 1923 disertai penelitian lapangan sejak tahun 2001-2026. Banyak sekali diketemukan mata air, air terjun dan hulu sungai di Gunung Burangrang, baik di wilayah Kabupaten Purwakarta, Kabuapten Subang, maupun Bandung Barat.
Berikut daftar sungai-sungai yang diketahui berhulu atau memiliki anak sungai dari lereng Gunung Burangrang sebelah Utara, mengalir ke arah Timur, Timur Laut, Utara, Barat Laut dan Barat: Ciasem, Cibakom, Cibaros, Cibingbin, Cibojonghonje, Cigintung, Cigoel, Cihanjawar, Ciherang, Cikajar, Cikao, Cikeris, Cikoneng, Cilamaya, Cilandak, Cilangkub, Cimeja, Cinaya, Cinusa, Cipamalayan, Cipangasahan, Cipangkalan, Ciparigi, Cireundeu, Cisaat, Cisair, Cisalada, Cisarua, Cisasaran, Cisinduk, Cisomang, Citamiang dan Ciwapada
Berikut daftar sungai-sungai yang diketahui berhulu atau memiliki anak sungai dari lereng Gunung Burangrang sebelah Selatan dan Gunung Tangkubanparahu, mengalir ke arah Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya dan Barat: Cibisora, Cibitung, Cibodas, Cicaruk, Cicenang, Ciherang, Cihideung, Cikabul, Cikadalmeteng, Cikaso, Cikole, Cikoreak, Cikurutug, Cilangkub, Cileuleuy, Cimahi, Cimeta, Cipada, Cipalasari, Cipamalayan, Cipangasahan, Cipanguseupan, Cipogor, Cipuyung, Cisalada, Cisarua, Ciseuseupan, Cisomang dan Cisuren.
Banyak nama sungai di atas sebenarnya adalah "Ci" + nama lokal, khas bahasa Sunda (Ci = air/sungai). Sebagian merupakan anak sungai musiman atau cabang kecil, bukan sungai besar tunggal. Dalam arsip kolonial (peta topografi Hindia Belanda), beberapa nama bisa berbeda ejaan, misalnya: Tjikao (Cikao), kawasan ini sejak lama menjadi penting untuk: perkebunan kopi (abad ke-18-19) dan jalur air tradisional dan irigasi lokal.
Beberapa sungai yang berasal dari Gunung Burangrang di Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat, Gunung Tangkubanparahu, Kabupaten Bandung Barat dan gunung-gunung lain di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat yang menjadi Daerah Aliran Sungai Citarum: Cibalagung, Cibeureum, Cidurian, Cihaur, Ciherang, Cijati, Cijere, Cikao, Cikapundung, Cikeruh, Cikijing, Cikundul, Cilanang, Cilimus, Cimahi, Cimeta, Ciminyak, Cipamokolan, Cipanawuan, Cipicung, Cirasea, Cisangkuy, Cisokan, Cisomang, Citarik, Ciwalengke dan Ci Widey.

Jika Anda datang berkunjung ke Kabupaten Purwakarta, apalagi via Tol Cipularang atau Tol Purbaleunyi, maka Anda akan temukan sebuah gunung besar dan gagah perkasa serta tinggi menjulang. Nampak hijau dan kebiruan dari kejauhan. Angin gunung terasa sangat sejuk menerpa dan menyapa siapa-saiapa saja yang memandanginya dan mengagumi keindahannya. Bersyukurlah kami yang menjadi orang Purwakarta dapat melihatnya hampir setiap hari dengan terkadang diselimuti oleh kabut halimun dan awan-gemawan yang putih berarak perlahan. Gunung Burangrang yang menjadi legendan Sangkuriang bersama-sama Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Bukit Tunggul, semua sama-sama indah dan sedap dipandang mata dihiasi keindahan Sungai Citarum yang harum.
Menjelajahi kawasan Burangrang Utara hingga Selatan membuka mata kita akan megahnya sejarah geologi Nusantara. Di balik keindahan alamnya yang memukau saat ini, tersimpan jejak purba Gunung Sunda yang luar biasa dan memikat.
Kini, menjaga kelestarian bentang alam legendaris ini menjadi tanggung jawab bersama demi generasi mendatang. Potensi wisata alam dan edukasi sejarah yang ditawarkan harus dikelola secara bijak dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pesona Burangrang bukan sekadar destinasi liburan, melainkan monumen alam sakral yang menghubungkan manusia dengan sejarah bumi. Mengunjungi tempat ini mengingatkan kita pada keagungan warisan Gunung Sunda yang abadi. (*)