RIVALITAS olahraga menjadi kian kuat ketika pertandingan membawa-bawa identitas kolektif.
Klub sepakbola kebanggaan urang Jawa Barat, Persib Maung Bandung, bersua lagi Macam Kemayoran Persija Jakarta. Secara teknis, pertandingan itu tetap hanya berlangsung 90 menit. Ada 11 pemain di masing-masing sisi. Satu bola. Dua gawang. Dan tiga poin yang saling diperebutkan.
Akan tetapi, bagi banyak orang, hitung-hitungan itu terasa tidak cukup untuk menjelaskan kenapa pertandingan ini selalu mempunyai bobot emosional yang lebih besar.
Kamis (10/9/2026) kemarin, ribuan Bobotoh sengaja ngaleut dan berkumpul di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) menjelang pertemuan Persib dengan Persija pada pekan kedua Super League 2026/2027.
Tentu para bobotoh itu tidak akan ikut merumput. Mereka bahkan tidak akan berada di tribun dan motah ketika pertandingan dihelat di kandang sang Macan, di Jakarta. Namun, mereka datang untuk menyampaikan pesan yang sederhana: berjuang habis-habisan. All out. Bebeakan.
Kemenangan pribadi
Seorang penonton sebenarnya tidak pernah mempunyai hubungan langsung dengan hasil pertandingan. Pasalnya, ia tidak mengoper bola. Tidak melakukan tekel. Dan tidak menentukan strategi. Tetapi, ketika klub yang didukungnya menang, kemenangan itu dapat terasa seperti kemenangan pribadi. Ketika kalah, kekalahan itu juga dapat terasa menyakitkan.
Dalam psikologi sosial, gejala semacam ini dapat dijelaskan melalui social identity theory. Manusia tidak hanya melihat dirinya sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok.
Klub sepak bola menyediakan salah satu bentuk kelompok yang sangat kuat karena identitas itu dapat dirasakan, dipertontonkan, dan dijalankan bersama. Studi mengenai fandom sepak bola bahkan menunjukkan bahwa dukungan terhadap klub dapat menjadi komponen penting dalam identitas seseorang.
Walhasil, bobotoh tidak sekadar berarti orang yang membeli tiket pertandingan. Identitas sebagai pendukung Persib dapat menjadi bagian dari cara seseorang menjawab pertanyaan sederhana: "Siapa saya?"
Identitas tersebut boleh jadi berkaitan dengan tempat, terutama Bandung, sekaligus dengan konstruksi kesundaan. Namun, identitas itu tidak bersifat tertutup. Di era digital, ia juga terus dinegosiasikan oleh orang Sunda, pendatang di Bandung, maupun pendukung Persib yang berada jauh dari Jawa Barat.
Dan itu menjelaskan satu hal penting bahwa Persib memang berasal dari Bandung, tetapi identitas Persib tidak berhenti di batas-batas administratif ngan saukur Kota Bandung. Faktanya, ada Bobotoh di berbagai kota, termasuk mereka yang hidup jauh dari Jawa Barat.
Bahkan, di ibukota Jakarta, yang menjadi kandang Persija, mempunyai komunitas pendukung Persib karena banyak orang Jawa Barat merantau dan tinggal di sana.
Maka, rivalitas Persib dan Persija akhirnya tidak hanya mempertemukan dua kesebelasan, tetapi juga mempertemukan dua simbol kota dan pengalaman sosial yang berbeda.
Akibatnya, laga Persib–Persija mempunyai karakter khusus. Rivalitas membuat identitas kelompok menjadi lebih kentara karena selalu ada pembanding.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat sekaligus menjadi warga Bandung, orang Sunda, pekerja kantoran, ayah, ibu, mahasiswa, penggemar musik, dan pendukung Persib. Semua identitas itu dapat hidup berdampingan tanpa masalah.
Tetapi, ketika Persib berhadapan dengan Persija, sebagian identitas tersebut seolah mengerucut. Studi mengenai suporter olahraga menemukan bahwa identitas yang biasanya berlapis dapat menjadi jauh lebih eksklusif ketika seseorang berhadapan dengan rival. Pada saat itulah perbedaan antara "kami" dan "mereka" menjadi lebih tebal dan terasa.
Itulah sebabnya kalimat yang dilontarkan Marc Klok yang menegaskan bahwa pertandingan Persib-Persija menyangkut "harga diri" tidak perlu dibaca secara harfiah sebagai persoalan hidup dan mati.
Harga diri dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai nilai simbolik. Artinya, pemain bukan hanya membawa nama klub. Mereka juga membawa ekspektasi kelompok yang merasa mempunyai hubungan emosional dengan klub tersebut.
Masalahnya, identitas kolektif selalu mempunyai dua sisi. Ia dapat menghasilkan solidaritas yang luar biasa, tetapi juga dapat memperkeras batas antara kelompok.
Dinamika suporter sepakbola Indonesia saat ini menunjukkan bahwa sebagian besar suporter tetap mendukung tim secara damai, sementara perilaku antisosial jauh lebih terkait dengan kelompok dengan tingkat identity fusion yang tinggi. Artinya, tidak tepat menyamakan kecintaan terhadap klub dengan kekerasan.
Tetapi, semakin kuat identifikasi kelompok, semakin penting pula kemampuan mengelola batas antara loyalitas dan permusuhan.
Karena itu, sorakan Bobotoh di GBLA sebenarnya mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar membakar semangat pemain Persib sebelum mereka makalangan di Jakarta. Sorakan itu adalah sebuah ritual sosial. Orang-orang berkumpul, menggunakan simbol yang sama, meneriakkan dukungan yang sama, lalu merasakan bahwa mereka merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Penelitian terbaru mengenai budaya suporter Indonesia juga menemukan bahwa stadion berfungsi sebagai ruang ritual, tempat identitas diekspresikan melalui nyanyian, koreografi, maupun atribut.
Menariknya, ritual semacam itu tetap mempunyai arti meskipun pertandingan berlangsung ratusan kilometer jaraknya dari Kota Bandung. Bobotoh tidak selamanya perlu berada di GBK, atau di Stadion Patriot Candrabhaga, atau di Tambaksari untuk merasa menjadi bagian dari pertandingan Persib.
Menunggu hasil
Tentu saja, pesan para bobotoh yang menyemut di GBLA dapat menjadi semacam "kehadiran psikologis". Pemain Persib mengetahui bahwa ada ribuan orang yang menunggu hasil pertandingan dan menganggap perjuangan mereka penting.
Tetapi, ingat juga, dukungan juga bukan obat ajaib. Pemain profesional tetap harus berhadapan dengan taktik, kondisi fisik, kualitas lawan, kesalahan sendiri, dan situasi pertandingan.
Dukungan bobotoh tidak otomatis selalu menghasilkan kemenangan. Bahkan dalam olahraga elite, dukungan yang terlalu besar bisa berubah menjadi tuntutan dan dapat menambah tekanan terhadap tim dan pemain. Tantangannya tentu justru bagaimana pemain mengubah ekspektasi itu menjadi energi tanpa membiarkannya mengganggu konsentrasi mereka.
Perseteruan Persib dan Persija tetaplah terkait sepak bola. Tidak ada teori sosial yang bisa mengubah satu gol menjadi dua gol atau sebaliknya. Tetapi, sepak bola mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki banyak olahraga lain, yakni mengubah pertandingan menjadi pengalaman kolektif.
Orang-orang yang tidak saling mengenal dapat merasa mempunyai kepentingan yang sama hanya karena mengenakan warna jersey yang sama atau meneriakkan yel yel yang sama.
Mungkin itu sebabnya istilah "harga diri" terasa begitu kuat dalam pertandingan seperti yang dilakoni Persib-Persija. Yang dipertaruhkan bukan cuma angka di papan skor atau posisi di klasemen. Ada kebanggaan, ingatan, identitas, dan perasaan menjadi bagian dari suatu kelompok.
Persib tidak harus menjadi representasi seluruh Jawa Barat untuk mempunyai makna sebesar itu. Cukup bagi jutaan orang untuk merasa bahwa ketika Persib bermain, ada sebagian dari dirinya yang ikut bermain.
Karena itulah perjumpaan Persib–Persija seharusnya tidak diukur hanya dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Rivalitas menjadi berarti ketika ia membuat pertandingan lebih hidup, identitas lebih terasa, dan dukungan lebih kuat, tanpa harus menghilangkan rasa hormat kepada pihak yang berbeda.
Sebab, pada akhirnya, harga diri sebuah klub tidak hanya terlihat dari keberaniannya menghadapi rival, tetapi juga dari kemampuannya menjaga agar rivalitas tetap sebatas bagian dari olahraga, bukan berubah menjadi permusuhan abadi di luar lapangan -- apalagi sampai diwariskan secara turun temurun.
Artinya, setelah piriwit akhir dibunyikan, tak ada lagi perseteruan, tak ada lagi rivalitas. Yang tersisa hanya persahabatan dan persaudaraan -- tanpa batas.***