Surat terbuka untuk Gubenur Jabar Dedi Mulyadi (KDM):
Pak Gubernur yang saya hormati, akhir Agustus 2026 menjadi momen kelam bagi dunia peternakan sapi perah di Jawa Barat. Dago Dairy, sebuah peternakan legendaris yang kokoh berdiri sejak 2015 di Buniwangi, Lembang, resmi menyatakan gulung tikar.
Pahitnya, peternakan milik pasangan Mark Hallett dan Yanti ini terpaksa tutup bukan karena bangkrut secara finansial atau produk susunya kalah bersaing di pasar, melainkan akibat krisis internal yang sangat struktural, mereka kehabisan tenaga kerja.
Selama dua tahun terakhir, lowongan kerja di peternakan tersebut kosong melompong. Minimnya minat generasi muda untuk melakoni pekerjaan fisik yang berat, seperti membersihkan kandang dan memerah susu sejak pukul 3 pagi tanpa libur, membuat sang pemilik harus bekerja sendirian hingga dua shift.
Kelelahan fisik (burnout) yang berujung penutupan Dago Dairy ini hanyalah puncak gunung es dari sebuah paradoks besar yang sedang menggerogoti sektor peternakan nasional kita.
Di satu sisi, kita menghadapi krisis regenerasi SDM dan melambungnya biaya operasional terkhusus komponen pakan. Namun di sisi lain, ada ceruk bisnis raksasa berputar lambat yang justru dikuasai asing karena kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan di hulu pertanian dan peternakan.
Paradoks Industri dan Jerat Impor Triliunan Rupiah
Sektor peternakan dan pakan hewan di Indonesia sebenarnya adalah ladang perputaran uang yang sangat masif. Saat ini, industri manufaktur pakan ternak (feedmill) domestik sangat kuat dengan kapasitas produksi melebihi 20 juta ton per tahun.
Ditambah lagi, tren pet humanization, yakni fenomena masyarakat urban yang memperlakukan hewan peliharaan layaknya keluarga, memicu ledakan pasar pakan hewan kesayangan (pet food). Pasar makanan kucing dan anjing premium di Indonesia kini bernilai hingga Rp 3 triliun per tahun.
Sayangnya, potensi yang gurihnya luar biasa ini menjadi rapor merah kedaulatan pangan kita. Setiap tahun, Indonesia harus merogoh kocek hingga Rp 53 triliun untuk mengimpor bahan baku pakan berprotein tinggi, seperti bungkil kedelai dari Brasil dan Amerika Serikat.
Ironisnya lagi, sekitar 60 persen pasar pet food di pet shop yang menjamur saat ini dikuasai oleh produk impor asal Thailand dan Cina. Mengapa kita membiarkan banjir impor ini merajai pasar, padahal Indonesia kaya raya akan sumber daya alam yang melimpah?
Jawabannya ada pada rantai pasok pendidikan kita yang tidak sinkron (mismatch). Selama ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Diploma Peternakan di Indonesia umumnya hanya berfokus pada lini konvensional, seperti teknik budidaya (breeding), pemeliharaan, dan penggemukan hewan. Sangat sedikit level vokasi kita yang menyentuh teknologi hilirisasi pencampuran nutrisi (feed processing).
SMK Produksi Pakan: Solusi Krisis Pekerja dan Substitusi Impor
Melihat rontoknya peternakan seperti Dago Dairy dan jerat ketergantungan impor, sudah saatnya Indonesia, khususnya Jawa barat melakukan terobosan radikal dengan mentransformasikan dan mendirikan SMK Produksi Pakan. Langkah ini bukan lagi sekadar opsi pendidikan, melainkan urgensi strategis untuk mengatasi pengangguran lulusan muda sekaligus menyelamatkan masa depan peternakan melalui tiga peran utama :
Penyedia Operator Industri Masa Depan: Ratusan pabrik pakan raksasa di Indonesia (seperti Japfa, Charoen Pokphand, dan Malindo) membutuhkan tenaga siap pakai di era Industri 4.0. Lulusan SMK ini akan dicetak menguasai komputerisasi formula pakan berbasis biaya terendah (least-cost formulation), pengoperasian mesin grinding, mixing, hingga teknologi ekstrusi untuk membuat pakan apung ikan dan kibble hewan peliharaan.
Inovator Substitusi Bahan Baku Lokal: Alih-alih bergantung pada kedelai impor, tangan-tangan terampil lulusan SMK ini dididik untuk mengolah kekayaan hayati lokal secara massal. Mulai dari pemanfaatan maggot (Black Soldier Fly), bungkil inti sawit, dedak padi berkualitas tinggi, hingga tepung ikan lokal yang difermentasi menjadi pakan bernutrisi tinggi.
Penggerak Bank Pakan di Pelosok Daerah: Pada Juli 2026, Kementerian Pertanian menyebut telah memfasilitasi 843 Bank Pakan di 34 provinsi demi memitigasi krisis pakan akibat kemarau ekstrim. Namun, Bank Pakan ini hanya akan menjadi pajangan jika tidak ada SDM kredibel di pelosok daerah yang mampu mengelolanya. Lulusan SMK inilah yang akan menjadi motor penggerak ketahanan pakan di tingkat tapak.
Mengubah Wajah Sektor Peternakan
Krisis pekerja kasar yang dialami Dago Dairy memberikan pelajaran berharga: sektor peternakan tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara lama yang menguras fisik tanpa sentuhan teknologi modern. Generasi muda hari ini tidak akan tertarik ke kandang jika citra yang ditampilkan hanyalah kerja kasar tanpa masa depan yang jelas.
Dengan menggeser fokus pendidikan peternakan ke arah industri pengolahan pakan (feedmill) dan pet food berbasis teknologi tinggi, kita tidak hanya mengubah wajah sektor peternakan menjadi lebih keren dan menjanjikan bagi milenial serta Gen Z. Lebih dari itu, kurikulum yang adaptif dan terintegrasi dengan dunia usaha (link and match) akan melahirkan wirausahawan UMKM pakan mandiri yang mampu memotong tingginya biaya pemeliharaan hewan akibat dominasi barang impor.
Kasus Dago Dairy di Lembang adalah alarm keras bagi kita semua. Jika kita terus membiarkan sektor hulu peternakan berjalan tanpa pasokan SDM yang kompeten dan adaptif, maka mimpi mencapai ketahanan pangan mandiri akan selamanya terkubur. Membangun SMK Produksi Pakan adalah investasi nyata untuk memutus rantai impor, menyediakan lapangan kerja yang relevan, dan memastikan tidak ada lagi 'Dago Dairy' lain yang harus menyerah di tanah yang kaya raya ini. (*)
Demikian Pak Gubernur KDM, semoga segera mendapat perhatian yang konkret.
Salam Hormat.
Totok Siswantara ( Netizen AyoBandung )