Ayo Netizen

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Oleh: Kin Sanubary
Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)

Bagi sebagian orang, stiker radio mungkin hanya benda kecil yang ditempel di kaca mobil, rumah, buku, atau tempat lainnya. Namun bagi pencinta radio, selembar stiker menyimpan cerita tentang stasiun favorit, program kesayangan, penyiar, dan masa yang pernah dilalui.

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Sebelum telepon pintar dan internet hadir, radio menjadi teman dalam kehidupan sehari-hari. Suaranya menemani orang di rumah, kendaraan, angkutan kota, warung kopi, hingga tempat kerja. Melalui radio, pendengar mengenal lagu baru, mengikuti berita, menikmati obrolan penyiar, dan menjelajahi dunia dari kejauhan.

Bagi penggemar radio, kenangan tersebut tidak hanya tersimpan dalam ingatan. Ada yang mengabadikannya melalui kartu QSL, surat, majalah, kaset, jadwal siaran, jingle radio hingga stiker radio.

Hobi mendengarkan radio sering bermula dari rasa ingin tahu. Memutar tombol tuning, mencari frekuensi, dan berusaha menangkap siaran di tengah noise, desis, atau gangguan teknis menjadi pengalaman yang mengasyikkan. Bagi penggemar Shortwave Listening (SWL), keberhasilan menangkap siaran dari daerah atau negara lain menghadirkan kepuasan tersendiri.

Pengalaman itu kemudian mendorong sebagian pendengar mengumpulkan memorabilia radio, termasuk stiker.

Pada masanya, stiker radio mudah diperoleh melalui kunjungan ke studio, acara off-air, kuis, pameran, konser, maupun kegiatan komunitas. Desainnya beragam, mulai dari logo stasiun, nama program, frekuensi, dan slogan, hingga call sign milik radio amatir atau radio komunikasi.

Bagi penggemar, call sign bukan sekadar rangkaian huruf dan angka. Ia dapat mengingatkan pada operator, komunitas, daerah, atau persahabatan yang terjalin melalui gelombang udara.

Karena itu, nilai sebuah stiker tidak selalu terletak pada desainnya, melainkan pada cerita bagaimana benda tersebut diperoleh. Ada stiker yang dibawa pulang setelah mengunjungi studio, diberikan penyiar seusai acara, atau diterima dari teman sesama penggemar radio.

Penulis saat berkunjung ke studio Hits Unikom Radio di Jalan Dipati Ukur No. 103, Bandung, untuk berburu stiker radio. (Sumber: Agus Wahyudi)

Mendatangi studio memiliki kenangan tersendiri. Penyiar yang selama ini hanya dikenal melalui suara akhirnya dapat ditemui secara langsung. Suasana ruang siaran, mikrofon, headphone, dan perangkat pemutar musik menjadi pengalaman yang berbeda dari sekadar mendengarkan radio di rumah.

Tak jarang, studio juga menjadi tempat bertemunya pendengar dan komunitas. Dari kegemaran yang sama, persahabatan pun tumbuh. Bertahun-tahun kemudian, sebuah stiker sederhana dapat menghidupkan kembali suasana studio, suara penyiar, dan wajah orang-orang yang pernah ditemui.

Memorabilia radio juga dapat berasal dari luar negeri. Pada masa kejayaan radio gelombang pendek, pendengar biasa mengirimkan reception report berisi informasi mengenai siaran yang berhasil ditangkap. Sebagai balasan, sejumlah stasiun mengirimkan kartu QSL, surat, brosur, jadwal program, dan terkadang stiker.

Bagi seorang SWL, menerima amplop dari stasiun yang berada ribuan kilometer jauhnya merupakan pengalaman istimewa. Kartu QSL dan stiker di dalamnya menjadi bukti bahwa sinyal dari tempat yang jauh pernah berhasil ditangkap di rumah.

Kini, kolektor juga mengenal kegiatan bertukar atau barter memorabilia. Stiker, kartu QSL, majalah, dan kaset dapat berpindah tangan, tetapi cerita di balik setiap benda tetap menjadi bagian terpenting. Sebuah stiker mungkin biasa bagi seseorang, namun sangat berarti bagi kolektor yang telah lama mencarinya.

Dunia radio terus berubah. Stasiun berganti nama, logo, frekuensi, bahkan ada yang berhenti mengudara. Dalam situasi tersebut, stiker lama menjadi penanda sebuah zaman.

Logo yang sudah tidak digunakan, slogan yang terlupakan, atau frekuensi yang telah berubah dapat mengingatkan kita pada perjalanan dunia penyiaran. Meskipun tidak tercatat dalam buku sejarah, stiker menyimpan jejak pengalaman pribadi dan perkembangan radio dari masa ke masa.

Agar kenangan itu tetap terjaga, stiker lama sebaiknya disimpan dalam album atau binder dengan lembar pelindung. Hindarkan dari kelembapan, panas, dan sinar matahari langsung. Stiker yang belum ditempel sebaiknya tetap disimpan bersama lapisan pelindung perekatnya.

Koleksi stiker radio swasta dari sejumlah stasiun radio di Jakarta dan Bandung. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)

Selembar Stiker, Sejuta Kenangan

Bagi banyak orang, radio tidak dapat dipisahkan dari masa muda. Sebuah lagu, suara penyiar, atau nama stasiun dapat membawa kembali kenangan tentang sekolah, perjalanan, persahabatan, dan suasana masa lalu.

Teknologi digital kini membuat siaran radio lebih mudah diakses. Namun, bagi mereka yang pernah menikmati radio analog, sensasi mencari frekuensi, mendengarkan suara di tengah gangguan sinyal, dan menunggu kartu QSL dari negeri jauh tetap memiliki romantisme tersendiri.

Para kolektor stiker radio yang cukup dikenal di komunitas pendengar radio yaitu Joe Alexander dan Ricky H Brataatmadja dari Jakarta, Ameen Rizal Fahrezi dan Huda Nur Hanif Prasetya dari Solo, Yayan Yess (Tangerang), Muhlisin (Semarang), Iwan Darma (Sukabumi) dan Kin Sanubary (Subang).

Pada akhirnya, mengoleksi stiker radio bukan sekadar mengumpulkan benda. Di dalamnya terdapat cerita tentang kunjungan ke studio, pertemuan dengan penyiar, persahabatan komunitas, hingga keberhasilan menangkap siaran dari tempat yang jauh.

Stikernya mungkin hanya selembar kertas, tetapi kenangan di baliknya merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah hobi: mendengarkan radio, mengenal dunia, dan menyimpan cerita dari gelombang udara.

Radio mungkin terus berganti cara untuk hadir. Namun bagi mereka yang pernah jatuh cinta pada suara dari balik speaker, sebuah stiker tua saja sudah cukup untuk membuat kenangan lama kembali mengudara. (*)

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam