Ayo Netizen

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Oleh: Malia Nur Alifa
Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)

200 Ikon Bandung saya pilih untuk tema tulisan bulan September ini karena di bulan ini, tepatnya pada 25 September 2026, kota kita tercinta ini genap berusia 216 tahun. Tulisan ini merujuk pada buku 200 Ikon Bandung yang diterbitkan harian umum Pikiran Rakyat yang terbit pada 25 September 2020, tepat di 200 tahun Kota Bandung. Kini, saya akan menuliskan kisah-kisah dari ikon-ikon Bandung yang telah tiada, telah berhenti beroperasi atau telah almarhum.

Kisah ikon ke-6 kali ini saya pilih seorang sosok yang paling berjasa dalam melahirkan Kota Bandung, ya, betul sekali! Beliau adalah Raden Adipati Wiranatakusumah II. Coba tanyakan kepada remaja saat ini, apakah mereka mengenal Dalem Kaum? Beberapa remaja hanya menjawab “itu mah nama jalan”, tidak ada yang salah dengan jawaban mereka, karena Dalem Kaum memang identik dengan nama jalan di sekitar alun-alun Kota Bandung. Namun, ada satu hal yang terlewatkan di tengah hiruk-pikuk kawasan Dalem Kaum, terdapat makam sang pendiri Kota Bandung, ialah Raden Adipati Wiranatakusumah II, yang dikenal pula dengan nama Dalem Kaum.

Pada akhir abad ke-18, atau kira-kira tahun 1799, kekuasaan kompeni VOC berakhir di Indonesia karena bangkrut. Dengan demikian, berakhir pulalah kekuasaan VOC di Kabupaten Bandung yang dahulu masih beribu kota di Krapyak (Dayeuhkolot). Saat itu R.A. Wiranatakusumah II adalah bupati yang memegang kekuasaan di Kabupaten Bandung. Berakhir VOC bukan berarti runtuhlah kekuasaan asing di Indonesia, pada tahun 1808, pemerintah Hindia Belanda datang menggantikan pemerintah sebelumnya dan Herman Willem Daendels dipercaya sebagai Gubernur Jenderal pertamanya.

Pada awal kekuasaannya, Daendels memerintahkan untuk membangun jalan raya pos dari Ayer hingga Panarukan. Hal ini untuk melancarkan tugasnya, khususnya selama di Jawa. Wilayah “desa” Bandung adalah termasuk wilayah yang dilewati oleh jalan raya tersebut. Rakyat pribumi kemudian diperintahkan untuk membangun jalan tersebut di bawah pimpinan para bupati. Di Bandung Daendels tidak hanya memerintahkan bupati untuk membuat jalan, ia juga meminta adanya pemindahan ibu kota kabupaten Bandung, melalui surat tertanggal 25 Mei 1810. Hal ini untuk memudahkan kekuasaannya.

Sebetulnya, tanpa sepengetahuan Daendels, Bupati Wiranatakusumah II memang telah merencanakan pemindahan ibu kota. Kawasan pertama yang dipilih oleh Bupati Wiranatakusumah II adalah kawasan Cikalintu. Apabila diriset secara detail kawasan yang ternyata dipilih oleh Bupati Wiranatakusumah II adalah kawasan berbukit di utara Bandung yang sekarang letaknya merupakan sebuah kompleks perumahan Budi Sari (Jalan Setiabudi), namun akhirnya batal karena satu dan lain hal, lalu Cikalitu pun pernah menjadi ibu kota distrik Ujungberung Kulon.

Lokasi kedua yang dipilih adalah kawasan Cikapundung Kolot dan Kampung Bogor, namun lagi-lagi karena satu dan lain hal akhirnya batal. Lalu terpilihlah kawasan alun-alun Kota Bandung kini sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung, menggantikan Dayeuhkolot.

Wiranatakusumah II bisa dikatakan sebagai pendiri dan perancang Kota Bandung. Artinya, Kota Bandung tidak berdiri semata-mata atas titah Daendels, meskipun Daendels lah yang mengeluarkan surat keputusan resmi pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung tertanggal 25 September 1810.

Selama Bupati Wiranatakusumah II memerintah Kabupaten Bandung, kepemimpinannya dianggap menonjol. Pada masa awal kepindahannya, Bupati Wiranatakusumah II memprakarsai pembangunan, yaitu Masjid Agung beserta alun-alunnya, pendopo Kota Bandung dan beberapa Sumur Bandung, saat sang bupati membangun alun-alun dan segala penunjangnya ia tinggal di rumah sederhana yang dibangun di kawasan yang sekarang menjadi hotel Savoy Homann, karena agar memudahkan mengontrol pembangunan tersebut, kisah ini didapat dari kuncen kompleks makam Bupati Wiranatakusumah II, Abah Mansur. Sebelumnya Bupati Wiranatakusumah II memilih menetap di Cikalitu di kawasan Cipaganti sekarang, kemungkinan di kawasan seputaran Hegarmanah, yang nantinya dipakai sebagai tempat kepindahan dari koloni Suniaraja yang sekarang bertransformasi menjadi perkampungan warga di antara Jalan Setiabudi dan Hegarmanah.

Kepemimpinan Bupati Wiranatakusumah II berakhir pada 1829, ia wafat setelah memimpin Bandung selama 35 tahun. Setelah meninggal ia dimakamkan di belakang Masjid Agung. Saat kecil sang bupati terkenal dengan nama Indradiredja, lalu ia pun mendapatkan julukan Dalem Kaum. Nama Dalem biasanya dipakai untuk menak Sunda ketika telah meninggal dunia. Lalu julukan Dalem Kaum diberikan karena makam sang bupati berada di belakang kauman, yaitu wilayah sekitar masjid yang penghuninya beragama Islam.

Di dalam makam tersebut tidak hanya makam sang bupati saja, namun juga terdapat makam sang istri, beserta anak dan keturunannya. Apabila dihitung sekarang kemungkinan terdapat kurang lebih 40 makam di sana, dan makam patih Bandung (yang bermukim tidak jauh dari area makam yang sekarang dikenal dengan Jalan Kapatihan), wedana, bahkan makam Gubernur Jawa Barat ke-5 dan wali kota ke-14, Ukar Bratakusumah pun berada di sana.

Warga Kota Bandung tempo dulu mungkin banyak yang tahu keberadaan kompleks pemakaman di kawasan ini, khususnya makam Bupati Wiranatakusumah II yang telah sangat berjasa mendirikan Kota Bandung. Namun, bagaimana dengan generasi muda saat ini? Berapa banyak yang mengenal sosok Dalem Kaum? Mungkin yang sekarang mereka ketahui Dalem Kaum hanyalah nama jalan yang dekat dengan kawasan alun-alun Kota Bandung, jalanan yang selalu ramai oleh pedagang kaki lima dan jajaran pertokoan saja. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam