Di tengah zaman yang semakin modern -- alternatif hiburan memang semakin banyak tersaji. Bahkan hari ini , hiburan tak selalu harus pergi dari rumah untuk menuju tempat wisata tapi cukup scrolling di media sosial dan menonton lewat layar pintar.
Membicarakan soal menonton film pastinya orang di zaman sekarang memilih untuk melakukannya di rumah. Biaya lebih murah bahkan beberapa orang bisa memilih menontonnya di website ilegal. Saya juga pernah mengobrol dengan salah satu teman. Menurutnya menonton di bioskop itu sudah tidak worth it kecuali menonton film horor.
Meski demikian ketika saya berkunjung ke bioskop untuk sesekali waktu -- masih ada pengunjung lain yang juga memilih bioskop sebagai sarana hiburan. Mulai dari anak muda, pasangan hingga keluarga masih nampak terlihat. Meski perlu diakui pengunjungnya memang tidak sebanyak zaman ketika media sosial belum masif. Ada pun sesekali bioskop terlihat penuh jika film yang tayang sedang viral dibicarakan di media sosial. Jika tidak biasanya hanya terdapat 6-15 orang dalam studio.
Bagi beberapa orang menonton di bioskop mungkin hanya sekedar hiburan tapi bagi saya bioskop bisa menjadi ruang untuk berefleksi juga istirahat sejenak dari bisingnya media sosial.
Ketika ada waktu luang di weekend saya pribadi sering sengaja menonton sendirian tanpa teman. Selain bisa memilih film yang benar-benar kita suka. Menonton sendirian juga menjadi pengalaman seru yang wajib dicoba siapa saja.
Bagi saya bioskop bisa menjadi tempat singgah sementara. Meski kita mendengarkan percakapan dari adegan di layar tapi ada ruang senyap yang membuat tenang. Mungkin efek lampu yang mati juga menambah kesan bahwa bioskop adalah tempat yang sunyi. Sambil merebahkan diri di kursi yang cukup nyaman selama 2 jam. Saya pun cukup suka dengan hawa dingin yang di setting dalam bioskop.
Sambil menikmati tontonan-- saya pribadi selalu menemukan ruang atau sesuatu hal yang membuat diri saya merefleksikan sesuatu. Dalam sebuah film selalu ada pesan yang bisa kita ambil jika kita mau memperhatikannya.
Nilai-nilai hidup yang seringkali tidak selalu bisa didapatkan di ruang akademis sekalipun. Namun lewat film kita bisa merefleksikan pesan itu menjadi nilai hidup yang biasa kita alami sehari-hari. Contohnya ketika sore itu saya menonton film berjudul Agensi Rumah Tangga.
Fenomena yang cukup sering terjadi -- ketika orang tua menginginkan anaknya untuk mengambil suatu bidang pekerjaan yang dianggapnya paling stabil dan bisa memberikan penghidupan yang layak. Padahal setiap anak -- setiap manusia punya jalannya sendiri yang tidak bisa dipaksakan mengikuti standar kebanyakan masyarakat. Dalam film ini misalnya ada keyakinan bahwa PNS adalah satu-satunya jalan yang bisa membuat seseorang sukses. Padahal seseorang bisa sukses ketika dia benar-benar menjalani sesuatu sesuai dengan keinginan dan kebiasaannya.

Namun karakter dari film ini tetap memilih jalan hidupnya sendiri dan pada akhirnya bisa sukses dengan caranya sendiri. Meski bukan berarti kita tidak akan mengalami rintangan.
Lewat film ini juga saya bisa merefleksikan diri bahwa dalam hidup ini kita memang tidak akan benar-benar terhindar dari pembicaraan dan pandangan orang lain. Namun satu hal yang pasti kita punya kewenangan untuk memilih. Mau mendengar- menyaring- lalu merefleksikan menjadi sebuah tindakan perbaikan. Atau mau mendengar dan menelan mentah-mentah informasi yang kita dapat lalu melakukan segala hal yang orang lain minta tanpa benar-benar ingin melakukannya. (*)