Ayo Netizen

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti
Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Periode 1950 hingga 1979 di Indonesia bukan sekadar babak awal pascakemerdekaan, melainkan medan tempur kultural untuk mendefinisikan jati diri bangsa. Dalam perspektif sejarah gastronomi, buku resep yang terbit pada era ini bertransformasi menjadi instrumen strategis yang memediasi transisi dari hegemoni kolonial menuju kedaulatan nasional yang mandiri. Meja makan menjadi panggung di mana narasi politik identitas dimainkan.

Sebelum periode ini, literatur kuliner didominasi oleh pengaruh Belanda yang memosisikan selera Eropa sebagai standar tertinggi. Namun, proklamasi kemerdekaan menuntut pemutusan rantai budaya tersebut. Dapur bukan lagi sekadar ruang domestik, melainkan manifestasi kedaulatan pangan. Penulisan resep menjadi upaya sadar untuk menginventarisasi kekayaan agraris Nusantara sebagai pilar "berdiri di atas kaki sendiri".

Semangat dekolonisasi inilah yang memicu ledakan literatur resep pada dekade 1950-an, sebuah fase di mana aroma bumbu lokal mulai menggantikan dominasi mentega dan tepung terigu dalam narasi literatur kita.

Dekade 1950-an: Fondasi Identitas dan Refleksi Ekonomi

Menginjak dekade 1950-an, dunia perbukuan resep masakan di Indonesia menggeliat. Buku Masakan Thursina karya Siti Mukmin menjadi salah satu yang paling fenomenal pada masa itu. Sejak terbit pertama kali di awal 1950-an, buku ini sukses dicetak ulang hingga 21 kali sampai 1981, bahkan belakangan direvisi dan dilengkapi resep baru oleh Dahniar Jatim. Kepopuleran dan kontribusinya pun mendapat apresiasi tinggi ketika resmi diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1954.

Pada dekade pertama kedaulatan penuh Indonesia ini, buku masak hadir tidak sekadar sebagai panduan dapur, melainkan sebagai instrumen "restorasi kultural". Kehadirannya menghidupkan kembali naskah dan tradisi kuliner yang sempat terhenti akibat kelesuan literatur sepanjang Perang Dunia II dan masa revolusi fisik. Lebih dari itu, deretan buku masak pada era ini merefleksikan upaya awal bangsa untuk merajut berbagai fragmen etnik menjadi satu identitas nasional yang hibrida namun tetap autentik.

Jejak transisi tersebut terekam jelas dalam beberapa karya monumental era 1950-an. Terbit di Bandung, Buku Masakan karya W.C. Keuner (1950) hasil terjemahan A. Awal menjadi saksi sosiologis awal kemerdekaan dengan menyandingkan resep Indonesia, Belanda, dan Tionghoa—sebuah potret nyata dari fase di mana pengaruh kolonial masih berkelindan erat dengan semangat nasionalisme yang baru tumbuh.

Dua tahun berselang, Ny. Sitti Nur Zainuddin – Moro merilis buku Nasi dan Sambal-sambalan (1952). Melalui lebih dari 460 resep yang berfokus pada elemen fundamental kuliner lokal, buku ini menegaskan bahwa nasi dan sambal adalah elemen pemersatu yang melintasi batas strata sosial, menghubungkan masyarakat dari pelosok negeri hingga kota besar.

Peran penting perempuan dalam menjaga akar tradisi juga semakin tampak lewat Buku Masakan karya Ny. B. Abdulkadir (1954). Hal yang paling menarik secara historis dari buku ini adalah penyertaan resep Slametan dan Jamu. Sang penulis memberikan legitimasi medis pada jamu dengan mencantumkan bahwa suaminya—seorang dokter berpengalaman praktik selama 50 tahun—mengintegrasikan "obat Jawa" ke dalam pengobatan modern, menciptakan sebuah bentuk sinkretisme antara ilmu pengetahuan dan tradisi di awal masa kemerdekaan.

Tak hanya urusan tradisi dan dapur, buku masak masa itu bahkan bertindak sebagai artefak ekonomi makro. Hal ini terlihat pada buku Membuat ICE CREAM dan PUDDING karya Suryati (1959). Penurunan harga buku yang tercetak pada sampulnya, dari Rp70 menjadi Rp10, bukanlah sekadar diskon komersial, melainkan dampak langsung dari kebijakan Sanering (revaluasi mata uang) pada Agustus 1959. Buku ini menjadi bukti sejarah konkret tentang bagaimana gejolak moneter mampu menyentuh hingga aspek terkecil dalam kehidupan rumah tangga.

Pada akhirnya, pelbagai inisiatif individual di era 1950-an yang berfokus pada pemulihan tradisi ini berhasil meletakkan fondasi kokoh. Jejak-jejak sejarah dalam buku resep tersebut menjadi landasan penting bagi lahirnya proyek dokumentasi kuliner nasional yang berskala sentralistik dan sarat dengan agenda politis pada dekade berikutnya.

Dekade 1960-an: Mustikarasa dan Puncak Nasionalisme Kuliner

Memasuki tahun 1960-an, literatur kuliner mencapai "prestasi tertinggi" melalui proyek negara yang bersifat masif. Dapur tidak lagi dipandang secara atomistik, melainkan sebagai bagian dari ketahanan nasional.

Buku kumpulan resep masakan Mustikarasa terbit pada tahun 1967. Proyek ini bermula dari instruksi Presiden Sukarno kepada Menteri Pertanian, Brigjen dr. Azis Saleh, pada tahun 1960. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Puncak dari era ini adalah lahirnya buku kumpulan resep masakan Mustikarasa (1967). Proyek ini bermula dari instruksi Presiden Sukarno kepada Menteri Pertanian Brigjen dr. Azis Saleh pada 1960. Visi besar di balik buku ini dirangkum dalam pernyataan tajam Bung Karno: "Negara zonder (tanpa) politik pangan", yang mengisyaratkan bahwa tanpa kedaulatan meja makan, kedaulatan bangsa hanyalah ilusi.

Keterlibatan Hartini Soekarno menjadi kunci penting dalam penyusunan ini. Dengan antusiasme besar, ia mempelopori Festival Makanan Indonesia untuk mencari alternatif pengganti beras dan menguji resep-resep dari penjuru Nusantara. Meski sempat terhambat peristiwa politik 1965, buku setebal 1.123 halaman dengan 1.600 resep ini akhirnya terbit sebagai manifesto politik "Berdikari".

Sebagai kontras, literatur populer seperti Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia Khusus Jawa (Ida S) dan Kursus Kilat Masak2an Tanpa Guru (Djamilah Nurdin, 1960) tetap menjaga narasi domestik. Dengan motto seperti "Masakan seorang isteri dapat memikat tjinta suaminja", buku-buku ini menunjukkan bahwa meski negara bicara tentang kedaulatan pangan, di tingkat akar rumput, dapur tetap menjadi instrumen stabilitas emosional keluarga. Standarisasi domestik ini kemudian berkembang menjadi standarisasi institusional di dekade berikutnya.

Dekade 1970-an: Institusionalisasi dan Diversifikasi Pangan

Pada dekade 1970-an, literatur resep di Indonesia mengalami proses formalisasi melalui institusi pendidikan dan organisasi sosial. Pada era ini, penulisan resep tidak lagi dipandang sekadar sebagai hobi atau dokumentasi pribadi, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian penting dari kurikulum pembangunan nasional.

Semangat pergeseran tersebut terekam dalam berbagai penerbitan buku masak yang membawa misi-misi strategis. Pada tahun 1972, Ny. H. Oeis menerbitkan Resep Masakan Kuwe Singkong yang berfokus pada agenda diversifikasi pangan. Buku yang diterbitkan penerbit Al-Ma’arif Bandung ini secara khusus mempromosikan singkong sebagai komoditas lokal yang mampu menjadi substitusi terigu dengan kualitas yang setara secara gastronomi.

Dua tahun kemudian, F. Gouw Tjoe Nio dan S. Ardipradja menyusun Resep Masakan Dapur Sederhana (1974). Buku ini lahir dari hasil praktik selama 12 tahun di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP) Bandung sebagai langkah standarisasi pedagogis demi menciptakan kesatuan resep di tingkat nasional.

Selanjutnya, buku lain yang sangat populer pada era pertengahan dekade ini adalah dua jilid Pandai Memasak (1975) yang disusun oleh Nyonya Rumah alias Julie Sutarjana. Karya ini menjadi penanda penting bagaimana kepiawaian mengolah hidangan mulai disebarluaskan secara masif dan terstruktur kepada masyarakat luas.

Upaya formalisasi dan edukasi gizi ini juga didorong oleh organisasi sosial serta lembaga pendidikan kejuruan lainnya. Melalui buku Mina Rasa: Kumpulan Masakan Ikan dari Sabang Sampai Merauke (1977), organisasi wanita PERISKATANI (Persatuan Isteri Karyawan Departemen Pertanian) mengusung kampanye gizi dari Sabang sampai Merauke untuk menasionalisasikan konsumsi protein masyarakat melalui pelbagai olahan ikan dan udang.

Buku "Mina Rasa: Kumpulan Masakan Ikan dari Sabang Sampai Merauke" (1977) bertujuan mengusung kampanye gizi guna menasionalisasikan konsumsi protein masyarakat lewat beragam olahan ikan dan udang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Pada tahun yang sama, Ny. Tuty Latief menerbitkan Resep Masakan Daerah (1977) yang mendokumentasikan masakan khas dari seluruh penjuru Indonesia guna memenuhi kebutuhan pembelajaran formal di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA) Surabaya.

Secara keseluruhan, analisis terhadap periode ini menunjukkan bahwa keterlibatan sekolah kejuruan seperti SKKP dan SKKA, serta organisasi istri seperti PERISKATANI, bukan sekadar upaya sederhana untuk berbagi resep masakan. Keterlibatan tersebut sejatinya merupakan sebuah proyek teknokrasi yang bertujuan mendefinisikan standar nutrisi serta tata kelola ekonomi rumah tangga yang seragam secara nasional.

Profil Tokoh dan Transisi ke Penulisan Resep Modern

Transisi dunia kuliner Indonesia menuju era profesionalisme ditandai oleh hadirnya tokoh-tokoh visioner yang berhasil mengubah otoritas dapur domestik menjadi sebuah institusi bisnis berdaya pengaruh tinggi. Mereka tidak hanya membagikan resep, tetapi juga membangun industri, membentuk standar baru, dan membawa kepiawaian mengolah makanan ke ranah publik yang lebih luas.

Salah satu pilar utama dalam gerakan ini adalah Julie Sutarjana, yang lebih dikenal dengan nama pena Nyonya Rumah. Selain mengasuh rubrik "Dapur Kita" di harian Kompas dan mengelola bisnis restoran di Bandung, ia juga tercatat memulai kiprahnya di majalah Star Weekly pada tahun 1951.

Julie Sutarjana menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan tradisi literatur kuliner era kolonial menuju masa modern. Melalui karya monumentalnya, Belajar Memasak (1978)—yang menghimpun 500 resep multikultural—serta seri Pandai Memasak (1975), Nyonya Rumah membuktikan kepiawaiannya dalam mengintegrasikan kekayaan tradisi kuliner lokal dengan gaya hidup dan kebutuhan praktis masyarakat urban yang kian berkembang.

Langkah profesionalisasi ini semakin diperkuat oleh kehadiran Elly dan Nila Chandra. Dua bersaudara asal Surabaya ini tampil sebagai pionir dalam merintis dan memodernisasi kursus memasak di Indonesia. Elly Chandra mengawali langkahnya dengan membuka kursus masak pada tahun 1971, sementara Nila Chandra berhasil membawa profesi ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Popularitas Nila Chandra memuncak hingga namanya tercatat dalam Guinness Book of Records pada tahun 1988 atas prestasinya membuat kue raksasa—sebuah capaian yang kian mengukuhkan posisi seni memasak sebagai ajang kompetensi profesional.

Di balik pesatnya perkembangan ini, pengaruh masyarakat etnis Tionghoa memegang peranan yang tidak bisa dianggap remeh. Karya-karya seperti 50 Chinese Recipes (1957) bahkan membawa dimensi diplomatik yang unik karena diterbitkan sebagai suplemen majalah China Reconstructs. Kehadiran literatur semacam ini menegaskan sebuah fakta historis bahwa sejak dahulu, khazanah kuliner Indonesia selalu bersifat terbuka dan inklusif, dengan mudah menyerap serta menyatukan pelbagai pengaruh luar yang telah berakar kuat di tengah masyarakat.

Evolusi Teknis dan Warisan Budaya Kuliner Nusantara

Evolusi teknis buku resep sepanjang pertengahan abad ke-20 merefleksikan proses modernisasi teknologi serta transformasi pemikiran masyarakat Indonesia. Dari sisi takaran, terjadi pergeseran perlahan dari "takaran rumah tangga" yang relatif tak presisi—seperti cangkir, mangkuk, atau piring—menuju standar gramasi modern yang lebih terukur.

Buku Masakan Aneka Warna (1969) karya Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio yang diterbitkan PN. Balai Pustaka menjadi titik balik penting dalam transisi ini karena mencantumkan dua jenis takaran sekaligus (metrik gram/liter dan takaran gelas/sendok) untuk membantu pembaca beradaptasi.

Penting untuk dicatat, narasi dapur sepanjang era ini konsisten menempatkan wanita sebagai subjek tunggal. Penggunaan istilah populer seperti "Nyonya Rumah" hingga penargetan siswi SKKP menegaskan bertahannya peran gender tradisional dalam urusan domestik, jauh sebelum koki pria mendominasi panggung kuliner publik di akhir abad ke-20.

Peran para perempuan ini tidak bisa dipandang sebelah mata; lewat lembaran kertas sederhana, mereka sejatinya melakukan tindakan politik yang subtil namun mendalam dengan merajut persatuan bangsa melalui standarisasi rasa dan bumbu.

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. Rekaman sejarah ini membuktikan bahwa identitas kuliner kerap kali jauh lebih awet dan bertahan ketimbang sebuah rezim politik. Meskipun kepemimpinan nasional terus berganti, resep-resep yang terabadikan dalam karya monumental seperti Mustikarasa maupun catatan Nyonya Rumah tetap menjadi kompas kedaulatan pangan bangsa.

Semangat untuk menghargai bahan lokal serta merayakan keberagaman rasa di masa lalu tetap menjadi artefak sejarah yang sangat relevan bagi tren gastronomi hari ini—sebuah bukti bahwa melalui literatur kuliner, Indonesia tidak hanya merdeka secara politik, melainkan juga merdeka di atas meja makannya sendiri. (*)

Reporter Badiatul Muchlisin Asti
Editor Aris Abdulsalam