Ayo Netizen

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Oleh: Dias Ashari
Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)

Beberapa waktu yang lalu muncul potongan video pendek di salah satu akun lambeturah yang memperlihatkan seorang perempuan muda yang meminta tolong kepada ibu-ibu karena mengaku dirinya dihipnotis seorang pria yang membawa ponselnya.

Alih-alih langsung meminta pertolongan, ibu-ibu tersebut justru merekam perempuan muda dan menginterogasi kronologis kejadian. Meski perempuan muda itu menjelaskan tapi ada banyak kekhawatiran yang menyelimuti dirinya dan terus berkata " Ibu tolongin saya". Namun ibu itu masih terus menyalakan kameranya dan menyakan banyak hal.

Pintanya lagi kepada seorang bapak yang belakangan diketahui kalau dirinya adalah suami dari ibu yang merekam. Pada awalnya bapak tersebut tampak kebingungan. Apalagi ibu itu kembali bertanya kepada anak tersebut, mau nolongin gimana ? mau dikejar ? udah engga ada. Namun sepertinya bapak yang kebingungan tadi mulai mengikuti apa yang diminta anak remaja tersebut dengan memboncengnya ke arah yang diminta. Sementara ibu tersebut masih menyalakan kamera dan berkata "Aduh bapak mau kemana ? ini saya mau ke pasar jadi gak bisa pergi"

Tak hanya itu biasanya ketika terjadi kecelakaan pun seringkali orang-orang yang berada di tempat kejadian lebih mengutamakan merekam dan memotret kondisi korban atau kendaraan yang rusak dibandingkan dengan menelepon ambulan dan menolong orang tersebut untuk dibawa ke rumah sakit

Fenomena lain juga terjadi ketika anak-anak menangis tapi orang tuanya justru memilih untuk mengabadikan dibandingkan dengan memeluk anaknya. Sebetulnya dokumentasi memang menjadi momen yang penting untuk menyimpan kenangan. Jika dahulu hanya beberapa orang yang mampu memiliki kamera, hari ini kita bisa memiliki semuanya. Menurut saya itu kenapa nilai kamera tidak seistimewa dahulu. Namun fungsinya justru lebih banyak digunakan hari ini.

Jika dahulu foto hanya disimpan dalam album dan hanya beberapa orang yang bisa melihat saat acara keluarga. Kehadiran media sosial hari ini justru membuat foto menjadi lebih berarti karena tidak hanya bisa disimpan untuk diri sendiri tapi disebarkan di media sosial dan sifatnya lebih abadi tidak lekang oleh suhu atau pun rayap.

Menurut saya ada gaya hidup baru yang lahir dari masyarakat. Dimana seseorang lebih mengutamakan dokumentasi dibandingkan menumbuhkan empati. Misalnya saja ketika seorang anak yang jatuh dan menangis-- orang tuanya akan lebih dulu mendokumentasikan dibandingkan dengan memeluk atau mengobati lukanya.

Kejadian serupa juga pernah terjadi kepada konten kreator yang memiliki anak yang aktif. Anak tersebut memang kerap viral karena selain tingkahnya lucu-- anak perempuan blasteran indonesia-australia itu sangat punya daya tahan yang kuat jika dibandingkan dengan anak perempuan yang sebaya denganya. Saat itu tampak sebuah video di posting dan memperlihatkan anak tersebut sedang memasukan sebagian badannya ke celah pagar lantai dua rumahnya. Bukannya langsung berusaha untuk mengambil anak tersebut. Justru orang tuanya mendokumentasikan dan hanya berkata "ayo sini jangan disana".

Video ini juga sempat menjadi viral dan dikomentari oleh seorang selebgram lainnya karena dirasa orang tuanya lebih mengutamakan konten dibandingkan dengan keselamatan anaknya. Namun itulah fenomena yang terjadi di masyarakat hari ini yaitu "Kamera dulu, peluk dan tolong kemudian". (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam