Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menyeka kabut di langit Bandung Raya, saya sudah berdiri di peron stasiun. Sebagai penglaju abadi yang menggantungkan hidup pada Commuter Line Bandung Raya, rel kereta adalah urat nadi yang mengantarkan saya menjemput rezeki.
Namun, di tengah perayaan Hari Kereta Api Nasional dan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang mengusung tema besar "Semakin Melayani", realitas yang saya dan ribuan pelaju lain hadapi setiap hari di jam kerja justru jauh dari kata nyaman.
Realitas di Lantai Gerbong Bentuk Perjuangan Kaum Penglaju
Ketika kereta datang, perjuangan hidup yang sesungguhnya dimulai. Gerbong-gerbong besi itu seketika berubah menjadi lautan manusia yang penuh sesak. Jangankan berharap mendapatkan tempat duduk, untuk sekadar menegakkan badan dengan layak saja butuh perjuangan ekstra.
Di waktu-waktu krusial berangkat dan pulang kerja, saya harus rela menahan lelah berdiri dalam waktu yang cukup lama, berhimpitan, bahkan sesekali terpaksa duduk di lantai gerbong yang dingin bersama penglaju lainnya.
Lantai kereta telah menjadi saksi bisu betapa tingginya ketergantungan masyarakat pada moda transportasi ini, sekaligus cerminan bahwa kapasitas yang ada saat ini sudah melampaui batas kenyamanan manusiawi.
Padahal, jika melihat jangkauannya, layanan commuter di wilayah Bandung Raya kini sudah mengalami kemajuan pesat. Jalurnya tidak lagi sekadar menghubungkan Padalarang hingga Cicalengka, melainkan telah meluas sebagai sistem aglomerasi yang menyentuh Purwakarta di ujung barat laut hingga merambah ke Garut di sisi tenggara.
Konektivitas ini sebenarnya adalah sebuah berkah besar. Salah satu bukti nyatanya adalah peran strategis Stasiun Cimekar yang kini menjadi gerbang utama menuju Masjid Raya Al Jabbar dan Stadion GBLA, sekaligus menjadi simpul penyokong kawasan pertumbuhan Bandung Timur menuju Stasiun Whoosh Tegalluar Summarecon.

Namun, sebagai pengguna harian yang sering melintasi rute ini, saya juga melihat langsung bahwa modernisasi stasiun seperti Cimekar masih menyisakan kendala operasional yang nyata. Mulai dari aksesibilitas jalan sekitar stasiun yang kerap macet karena kurangnya fasilitas parkir memadai, kerawanan genangan air di area emplasemen saat hujan lebat khas kawasan Gedebage, hingga tantangan keamanan dan ketertiban tiket saat ada pertandingan sepak bola.
Harapan 2027: Menanti Era Kereta Rel Listrik
Kabar baiknya, Kementerian Perhubungan dan PT KAI telah resmi menargetkan proyek elektrifikasi jalur komuter sepanjang 42 kilometer rute Padalarang–Cicalengka ini rampung paling lambat pada tahun 2027.
Artinya, sistem Kereta Rel Listrik (KRL) massal seperti di Jakarta dan sekitarnya akan benar-benar diterapkan di Bandung Raya dalam waktu dekat. Bahkan, KAI berencana mempercepat transisi energi ramah lingkungan dengan mengujicobakan teknologi Battery Electric Multiple Unit (BEMU) di lintas ini, dengan target kedatangan rangkaian kereta baterai pertama pada kuartal II-2027.
Bagi kami yang setiap hari berdiri menahan guncangan gerbong, kehadiran KRL Bandung Raya ini menjanjikan pemangkasan waktu tempuh. Namun, percepatan proyek ini dan pembenahan fasilitas stasiun penyangga adalah kebutuhan darurat yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Kami butuh penambahan kapasitas, pemangkasan headway antarkereta, dan kepastian operasional segera agar tidak perlu terus-menerus terjebak dalam desak-desakan yang menguras stamina.
Teka-Teki Jalur Soreang: Mengurai Benang Kusut Kemacetan
Di sisi lain, saat saya memandang keluar jendela kereta yang bergerak lambat menembus kemacetan jalan raya Bandung, sebuah teka-teki besar kerap mengusik pikiran: Mengapa jalur kereta api ke arah Soreang hingga kini tetap mati dan belum juga diaktivasi?
Sebagai pelaju, saya tahu betul bahwa koridor Bandung menuju Soreang via Kopo dan Banjaran adalah salah satu jalur neraka dengan tingkat kemacetan lalu lintas paling parah di kawasan metropolitan ini. Menghidupkan kembali jalur selatan yang legendaris ini adalah solusi mutlak untuk memotong rantai kemacetan.
Memang, menghidupkan kembali jalur mati tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hambatan nyata seperti okupasi lahan di sepanjang bekas rel yang kini telah padat menjadi permukiman warga dan pertokoan membutuhkan biaya sosial serta ganti rugi yang luar biasa besar. Belum lagi tantangan rekayasa teknis pada jalur yang terputus infrastruktur modern. Kehadiran Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) pun terbukti belum cukup kuat membendung ledakan volume kendaraan roda dua di jalur arteri.

Mewujudkan Pelayanan yang Memanusiakan
Melalui refleksi 81 tahun usia KAI ini, saya berharap suara kami, para penglaju yang duduk di lantai gerbong, bisa didengar dengan jernih. Komitmen "Semakin Melayani" baru akan benar-benar terwujud secara nyata dan paripurna apabila KAI bersama pemerintah daerah berani mengambil langkah agresif.
Tidak hanya mengejar target operasional KRL rute barat-timur pada 2027 mendatang, tetapi juga berani mengurai benang kusut jalur selatan menuju Soreang serta menuntaskan fasilitas penunjang di stasiun penting seperti Cimekar. Kami tidak ingin selamanya merayakan hari jadi kereta api dari atas lantai gerbong yang penuh sesak, melainkan dari atas moda transportasi massal yang memanusiakan para penggunanya. (SRI)