Karena Fear of Missing Out (FOMO), Oktober membuat saya merasa perlu mengangkat tema peringatan Sumpah Pemuda. Ngomong-ngomong, kalau pada tahun 1928 sudah ada padel, saya yakin di sela rangkaian kegiatan para pemuda akan menyempatkan bermain padel atau nongkrong cantik di cafe. Hari ini, kita perlu menengok cara anak muda menyikapi perbedaan. Hampir seabad lalu, sekelompok anak muda bisa berkumpul di Jakarta dari berbagai daerah—Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, hingga Jong Celebes untuk menyelesaikan persoalan bersama–dalam kungkungan kolonialisme. Pertemuan itu jelas bukan untuk ajang adu gengsi gawai siapa paling canggih atau kendaraan siapa yang terkini.
Bagaimana momentum sumpah pemuda yang monumental itu dapat menjadi alat reflektor kehidupan pemuda kiwari. Pertama, terkait dengan isu persatuan. Jika Tahun 1928 musuh utama persatuan adalah provinsialisme—rasa bahwa daerah sendiri lebih unggul dari yang lain–hari ini batas-batas geografis itu sudah kabur oleh gelombang globalisasi, internet. Anehnya, prasangka tidak pernah mau ikut hilang begitu saja. Sebaliknya, sekatan baru justru muncul di ruang digital, kubu politik, echo chamber media sosial, hingga algoritma yang membuat kita cuma mau dengar apa yang ingin kita dengar.
Dulu, pemuda berjuang menurunkan ego kedaerahan demi jadi satu bangsa. Hari ini, tantangannya adalah menahan ego jempol kita agar tidak gampang memecah belah saat ada beda pendapat di kolom komentar. Dari ratusan bahasa daerah, bahasa apa yang bisa bikin orang dari Sabang sampai Merauke saling paham? Pilihannya jatuh pada Bahasa Melayu yang disepakati menjadi Bahasa Indonesia. Meski Bahasa Indonesia sudah kokoh sebagai bahasa nasional. Tapi di era globalisasi, kita menghadapi tantangan baru, bahasa serapan asing, istilah populer internet, hingga komunikasi yang makin serba cepat dan singkat.
Bukan melarang bahasa gaul atau bahasa asing, melainkan menjaga agar Bahasa Indonesia tetap punya ruang utama sebagai alat perekat—bahasa yang dipakai untuk memahami satu sama lain, bukan untuk menghujat.
Menariknya, di tengah tekanan penjajahan dan ancaman penangkapan oleh pemerintah kolonial, mereka tidak memilih untuk mengurung diri atau merasa berjuang sendirian. Mereka duduk bersama, merumuskan ikrar, dan saling menopang. Lalu, bagaimana kalau cermin 1928 itu kita arahkan ke Indonesia hari ini—khususnya ke dalam diri dan pikiran anak mudanya?
Di tengah dunia yang makin terhubung karena globalisasi dan gelombang internet, anak muda justru makin sering merasa terisolasi dan cemas. Ruang digital melahirkan standar hidup yang semakin tidak realistis. Fenomena FOMO, tekanan pencapaian di usia muda, hingga komentar negatif di media sosial menjadi "penjajah baru" bagi kesehatan mental kita. Jika pemuda 1928 berjuang menyatukan perbedaan fisik dan menyatukannya dengan gagasan, generasi hari ini berjuang agar mentalnya tidak pecah di bawah tekanan zaman.
Salah satu pemicu krisis kesehatan mental adalah rasa tidak didengar dan ketakutan untuk terlihat lemah. Semangat 1928 mengajarkan bahwa tidak ada perjuangan yang bisa dilakukan sendirian. Kita butuh ruang aman di mana anak muda bisa jujur mengakui kalau mereka sedang tidak baik-baik saja, tanpa takut di-judge atau dianggap kurang bersyukur.
Sidang kedua Kongres 1928 menekankan pentingya pendidikan tidak boleh cuma soal angka di atas kertas, tapi harus membentuk karakter dan rasa cinta tanah air melalui kegiatan seperti kepanduan. Lalu mengapa hari ini sistem pendidikan kita masih berorientasi pada nilai ujian dan pencapaian akademis semata-mata. Bukannya kita butuh anak muda yang bukan cuma cerdas secara teknis atau jago coding, tapi juga punya empati sosial, disiplin, dan kepedulian pada sesama. Bukankah kita tidak kekurangan contoh bahwa gelar akademik yang melekat pada seseorang tak pernah cukup mencegahnya melakukan korupsi.
Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar teks sejarah yang hanya dibaca berulang tanpa refleksi. Nilai terbesarnya ada pada keberanian untuk duduk bersama dan mencari titik temu di tengah perbedaan. Indonesia hari ini tidak lagi berjuang melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan ketimpangan, polarisasi, dan rasa acuh tak acuh. Kalau generasi 1928 berhasil menyatukan perbedaan yang begitu besar dengan keterbatasan teknologi, seharusnya kita yang punya segala kemudahan, hari ini, bisa berbuat lebih baik untuk menjaga rumah bersama, Indonesia.
Indonesia hari ini tidak hanya butuh anak muda yang kritis dan berprestasi, tapi juga anak muda yang sehat secara jiwa dan raga. Sebab, bagaimana mungkin kita bisa menjaga tanah air dan bangsa ini, kalau kita sendiri lupa cara menjaga diri sendiri dan teman di sebelah kita? (*)