Ayo Netizen

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Oleh: mufti wibowo
Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)

Hujan kerap datang dengan gerutu. Jemuran yang tak kunjung kering, sepatu yang basah, hingga kemacetan jalanan yang mendadak mekunci laju kendaraan. Jika saja kita bersedia menepi sejenak dan mengamati dengan tenang dari meja kedai kopi, kita bisa menemukan sebuah rahasia pencari hikmah bahwa hujan adalah salah satu bentuk kasih sayang alam yang paling jujur. Merawat rasa cinta pada hujan bukan sekadar soal bersikap romantis, melainkan wujud rasa syukur atas kehidupan yang terus berputar. Ironi memang, untuk mendapatkan sudup pandang/view romantis dan spiritual seperti itu, kita tetap harus bersedia merogoh kocek.

Secara historis dan kultural, hujan identik dengan kemakmuran. Air yang jatuh dari langit adalah napas bagi tanah, penjamin tumbuhnya benih-benih padi di sawah yang tak pernah kita kenali lagi, dan pengisi sumber air tanah yang kita minum setiap hari. 

Tanpa hujan, roda kehidupan di bumi akan berhenti berputar. Petani menunggu kehadirannya dengan penuh harap, sebab di setiap tetesnya ada janji tentang panen dan ketahanan pangan bagi jutaan jiwa. Hujan membawa pesan akan kehidupan yang sedang dirawat dan ditumbuhkan.

Tak hanya soal fungsi akademis dan ekonomi, hujan juga merupakan bahasa alam yang luar biasa indah. Ia berbicara melalui aroma petrikor—bau khas tanah basah yang menenangkan—serta alunan ritmis ketukan air di atas atap. Keindahan yang begitu personal inilah yang diabadikan dengan sangat anggun oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang legendaris, Hujan Bulan Juni. Sapardi melihat hujan bukan cuma sebagai fenomena cuaca, melainkan simbol ketabahan, kearifan, dan kasih sayang yang teramat rahasia. Jika seorang penyair besar mampu menangkap kebaikan tersembunyi dari tetesan air langit, mengapa kita sering kali gagal melihatnya?

Namun, mencintai hujan bukan berarti kita harus menutup mata dari kenyataan. Di balik segala potensi kemakmuran dan keindahannya, musim hujan memang menyimpan potensi bencana yang nyata. Banjir, tanah longsor, hingga luapan air sungai sering kali membayangi masyarakat setiap kali langit mulai menggelap.

Akan tetapi, apakah hujan yang layak disalahkan? Bencana akibat hujan sejatinya adalah cermin dari hubungan manusia dan lingkungan yang sedang retak. Air yang turun dalam jumlah besar hanyalah menjalankan hukum alamnya–mencari jalan mengalir dan meresap. Ketika resapan air kita beton, saluran air kita sumbat dengan sampah, atau pohon-pohon yang kita tebang suka-suka, maka berkah yang turun berubah menjadi musibah. 

Baca Juga: PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Musim hujan adalah momen pengingat yang jujur dari alam agar kita berbenah. Bencana tidak seharusnya membuat kita membenci hujan, melainkan menggugah kesadaran kita untuk lebih bijak menjaga bumi.

Mencintai hujan berarti belajar beradaptasi dan bersiap. Kita bisa memulainya dari langkah-langkah kecil, seperti membersihkan selokan di sekitar rumah, membuat lubang biopori, menanam pohon, disiplin membuang sampah. Ketika lingkungan kita siap dan terawat, musim hujan tidak lagi hadir sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan kembali pada kodratnya sebagai musim kemakmuran.

Mari kita ubah cara kita menyapa hujan. Saat langit mulai mendung dan titik air pertama jatuh ke bumi, jangan lagi menyambutnya dengan keluhan. Dengarkan bahasanya yang tenang, resapi kebaikan yang dibawanya, dan rawatlah lingkungan tempat tinggal kita. Sebab mencintai hujan adalah langkah awal untuk mencintai kehidupan itu sendiri. maca bacalah kutipan puisi sang penyair maestro  berikut: Tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan Juni/ Dirahasiakannya rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu// Tak ada yang lebih bijak/dari hujan bulan Juni/ Dihapusnya jejak-jejak kakinya/ yang ragu-ragu di jalan itu// Tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan Juni/ Dibiarkannya yang tak terucapkan/ diserap akar pohon bunga itu// (Sapardi Djoko Damono)

Reporter mufti wibowo
Editor Aris Abdulsalam