Ayo Netizen

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Oleh: mufti wibowo
DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)

Sebagai orang yang lahir di Purbalingga–bagian dari Banyumas Raya–saya menemukan beberapa keunikan yang membuat saya tertarik mencari referensi keterkaitan antara Banyumas dengan Sunda. Studi pustaka enteng-tengan itu, saya jadikan bahan menulis artikel yang Anda baca sekarang.

Banyumas kiwari adalah kelanjutan dari sejarah pentahbisan Jaka Kaiman sebagai Adipati Mrapat. Wilayah Kadipaten Wirasaba dipecah menjadi 4 dengan persetujuan Sultan Hadiwijaya (Pajang). Jaka Kaiman sendiri menjadi salah satunya dipimpin di salah satu wilayah yang kini disebut sebagai Kabupaten Banyumas. Oleh Sultan Hadi Wijaya Jaka Kahiman dengan gelar Warga Utama II melanjutkan kekuasan mertuanya, Warga Utama I.

Jika membaca lebih jauh kebelakang, Banyumas juga punya kedekatan yang tidak sederhana dengan Sunda. Menarik untuk mengulik secara enteng-entengan perkara yang menjadi indikasi kedekatan dan keterkaitan keduanya.

Pertama, Raden Kamandaka yang merupakan salah satu folklor ikonik di Banyumas yang tertuang dalam Babad Pasir Luhur. Kadipaten Pasir Luhur dinyatakan sebagai kerajaan Galuh yang merdeka karena tidak dibawah kekuasaan kerajaan lain, baik Sunda (Pajajaran) maupun Majapahit. Folklor ini juga memberi penjelasan bahwa Pasir luhur dan Pajajaran memiliki hubungan kekerabatan. Konon, wilayah Pasir Luhur mulai dari Gunung Sindoro Sumbing sebagai batas di sebelah timur sampai dengan Sungai Citarum sebagai batas di sebelah barat.

Kisah Raden Kamandaka sebenarnya merupakan varian lokal dari legenda Lutung Kasarung di Jawa Barat. Cerita bermula di Kerajaan Pajajaran, putra mahkota yang bernama Banyak Catra diperintahkan oleh ayahnya, Prabu Siliwangi, untuk mencari istri yang parasnya mirip dengan mendiang ibunya sebagai syarat untuk naik takhta. Dengan petunjuk dari Ki Hajar Wirangrang, Banyak Catra mengembara ke arah timur hingga memasuki wilayah Kadipaten Pasir Luhur (sekarang wilayah Purwokerto Barat/Karanglewas, Kab. Banyumas). Demi keamanan dan agar bisa membaur, ia menyamar menjadi rakyat biasa dan berganti nama menjadi Kamandaka.

Di Pasir Luhur, Kamandaka jatuh cinta pada Dewi Ciptarasa, putri dari Adipati Pasir Luhur–Adipati Kandadaha. Sang putri pun menaruh hati pada Kamandaka. Namun, hubungan mereka terhalang restu karena Kamandaka hanyalah dianggap sebagai orang biasa.

Kisah itu kemudian masuk ke babak komplikasi, kelindan intrik politik, adu kesaktian, hingga momen Kamandaka dikejar-kejar oleh prajurit kadipaten. Dalam masa pelariannya, ia bahkan harus menyamar menggunakan pakaian berbulu menyerupai kera hitam atau Lutung Kasarung untuk tetap bisa mendekati dan melindungi Dewi Ciptarasa.

Setelah melalui berbagai ujian, termasuk membongkar penyamaran dan membuktikan bahwa dirinya adalah anak raja, identitas aslinya pun terungkap. Banyak Catra akhirnya diizinkan menikahi Dewi Ciptarasa. Ia kemudian menetap dan naik tahta menggantikan mertuanya menjadi Adipati Pasir Luhur.

Folklor Kamandaka sebenarnya dapat menjadi bukti kultural kuat bahwa secara historis, dinastikal, dan emosional, Banyumas purba memiliki ikatan darah langsung dengan Kerajaan Sunda Galuh / Pajajaran.

Berikutnya, penelitian linguistik yang dilakukan oleh pakar dari Universitas Padjadjaran membuktikan bahwa struktur nama geografis menggunakan kata depan "Ci-" (artinya cai / air) tersebar masif di Banyumas bagian barat dan selatan.

Sebagai contoh, Cilongok adalah nama kecamatan dan desa di Banyumas. Daerah ini berbatasan dengan lereng Gunung Slamet yang kaya mata air. Cilongok dikaitkan dengan air yang mengalir atau tempat melongok sumber air.

Baca Juga: Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Di Kecamatan Lumbir, terdapat nama desa Cingebul dan Cingebul. Ci-ngebul berarti "air yang berasap/mengepul", konon ditemukan oleh pelarian prajurit Jawa-Sunda. Sementara itu, Ci-jurig berarti "air/sungai hantu".

Di Kecamatan Ajibarang terdapat desa Ciberung dan Cibangkong. yang pertama menunjukkan daerah basah/rawa kuno. Sementara, Ci-bangkong berarti "air/sungai tempat katak pohon".

Selain itu, masih terdapat belasan dusun kecil (grumbul) seperti Cikadu, Citunggul, Cimenyul, dan Ciwaras yang tersebar di wilayah perbukitan Banyumas sisi barat. Keberadaan toponimi ini memberi kita indikasi bahwa kawasan Banyumas adalah zona transisi bahasa (Sunda-Jawa) di mana masyarakatnya hidup berdampingan menggunakan Bahasa Sunda Kuno Banyumas sebagai bahasa tutur harian. Ternyata masih ada DNA Sunda di tanah Banyumas. (*)

Reporter mufti wibowo
Editor Aris Abdulsalam