Masyarakat sering kali menyamakan seluruh kisah masa lalu sebagai sebuah sejarah yang mutlak. Padahal, khazanah literatur Nusantara dan dunia mengenal beragam istilah tulisan masa lampau yang memiliki karakteristik unik. Sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda merupakan bentuk narasi yang merekam peristiwa, kepercayaan, hingga silsilah dengan cara penulisan yang sangat berbeda.
Perbedaan mendasar dari ketujuh istilah ini terletak pada kadar faktualitas, fungsi sosial dan unsur imajinatif di dalamnya. Jika sejarah dan tarikh bersandar kuat pada metodologi ilmiah serta bukti empiris, maka hikayat dan babad kerap mencampurkan fakta dengan sastra. Sementara itu, riwayat berfokus pada individu, sedangkan mitologi dan legenda bergerak di ranah lisan yang penuh simbolisme serta pelajaran moral.
Memahami persamaan dan perbedaan istilah-istilah ini sangat penting agar kita tidak keliru dalam memilah antara kebenaran objektif dan warisan budaya. Artikel ini akan mengupas tuntas karakteristik masing-masing genre penulisan tersebut. Dengan memahaminya, kita dapat menghargai bagaimana cara manusia dari berbagai era mendokumentasikan perjalanan hidup, keyakinan dan peradaban mereka.
Dalam studi keilmuan dan sastra, istilah-istilah seperti sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda sering kali saling berkaitan karena semuanya membahas peristiwa atau kisah masa lalu. Berikut adalah ringkasan persamaan dan perbedaan mendasar di antara ketiganya.
Persamaan Utama
- Fokus waktu, semuanya menceritakan atau mendokumentasikan kejadian, tokoh atau asal-usul yang terjadi di masa lampau.
- Fungsi sosial, semuanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan moral, nilai budaya, identitas kelompok atau pelajaran hidup bagi generasi penerus.
- Objek narasi, sebagian besar melibatkan tokoh (baik nyata maupun fiktif) dan perubahan dalam suatu masyarakat atau tempat.
Persamaan
Semua istilah di atas memiliki satu inti yang sama, yaitu merupakan cerita, catatan atau narasi tentang peristiwa dan kehidupan masa lampau. Semuanya berfungsi untuk menyampaikan nilai moral, asal-usul, identitas budaya dan menjadi cara masyarakat (baik tradisional maupun modern) dalam mendokumentasikan ingatan kolektif mereka.
Penjelasan Detail Setiap Istilah
Sejarah
- Pengertian, ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian masa lampau manusia.
- Ciri khas, wajib memiliki bukti empiris (prasasti, arsip, dokumen), menggunakan metode ilmiah, bersifat objektif dan dapat diuji kebenarannya.
Tarikh
- Pengertian, kata serapan dari bahasa Arab yang berarti penanggalan, waktu atau riwayat.
- Ciri khas, secara maknanya sama dengan sejarah, namun sering kali menekankan pada urutan kronologi waktu (kalender/penanggalan) atau digunakan dalam konteks sejarah Islam (contoh: Tarikh Islam).
Riwayat
- Pengertian, cerita tentang turun-temurunnya suatu hal atau riwayat hidup (biografi).
- Ciri khas, berfokus pada perjalanan hidup subjek tertentu (bisa individu, organisasi atau kota) dari awal hingga akhir, didasarkan pada ingatan atau catatan fakta.
Hikayat
- Pengertian, karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang dan silsilah.
- Ciri khas, bersifat istanasentris (berpusat pada kerajaan), penuh dengan kemustahilan, kesaktian tokoh-tokohnya dan bertujuan menghibur atau membangkitkan semangat juang.
Babad
- Pengertian, kisah sejarah tradisional yang berkembang di area Jawa, Sunda dan Bali.
- Ciri khas, menceritakan silsilah raja dan berdirinya sebuah kerajaan. Uniknya, babad mencampur fakta sejarah dengan mitos untuk melegitimasi (mengesahkan) kekuatan atau kesaktian seorang raja agar dihormati rakyatnya.
Mitologi
- Pengertian, kumpulan cerita rakyat yang berlatar masa lampau dan mengandung penafsiran tentang alam semesta.
- Ciri khas, tokoh utamanya adalah dewa, makhluk halus atau manusia setengah dewa. Ceritanya dianggap suci dan benar-benar terjadi oleh masyarakat pemilik cerita tersebut (contoh: Nyi Roro Kidul).
Legenda
- Pengertian, cerita rakyat kuno yang berkaitan dengan peristiwa dan asal-usul suatu tempat.
- Ciri khas, bersifat sekuler (keduniawian), tokohnya biasanya manusia yang memiliki kesaktian dan ceritanya dianggap pernah terjadi oleh masyarakat setempat, meskipun tidak memiliki bukti sejarah yang sah (contoh: Legenda Tangkuban Parahu).
Perbedaan
Dalam studi ilmu sosial dan sastra, istilah-istilah ini sering digunakan untuk menceritakan masa lalu, namun masing-masing memiliki fokus, metode penulisan dan tingkat kebenaran faktual yang berbeda. Perbedaan utama terletak pada metode verifikasi data, asal-usul bahasa dan unsur fiksi di dalamnya.
- Sejarah – Arab (Syajaratun = pohon) – Faktual, ilmiah, berbasis bukti empiris dan rekonstruksi kritis. Contoh: Sejarah Kemerdekaan Indonesia
- Tarikh – Arab (Tariikh = waktu/penanggalan) – Kronologis, fokus pada urutan waktu dan pencatatan penanggalan. Contoh: Tarikh Islam, Buku Tarikh
- Riwayat – Arab (Riwayah = cerita/laporan) – Biografis, menceritakan perjalanan hidup seseorang atau asal-usul sesuatu. Contoh: Riwayat Hidup (CV), Riwayat Nabi
- Hikayat – Melayu Klasik (Serapan Arab) – Sastra fiksi/semi-fiksi istana, penuh keajaiban dan kesaktian tokohnya. Contoh Hikayat Hang Tuah
- Babad – Jawa/Sunda – Campuran sejarah lokal dan mitos/legenda kerajaan daerah. Contoh: Babad Tanah Jawi
- Mitologi – Yunani (Mythos dan Logos) – Suci/sakral, melibatkan dewa-dewi atau makhluk halus, menjelaskan asal-usul alam semesta. Contoh: Mitologi Yunani.
Berikut adalah contoh judul karya, naskah atau cerita dari Jawa Barat yang mewakili masing-masing istilah tersebut, beserta penjelasan singkat mengenai persamaan dan perbedaannya.
Contoh Judul Karya dari Jawa Barat
- Sejarah: Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa dan Sejarah Sumedang
- Tarikh: Tarikh Galuh (catatan kronologis waktu/penanggalan kerajaan)
- Riwayat: Riwayat Perjuangan Otto Iskandardinata dan Riwayat Hidup Raden Dewi Sartika
- Hikayat: Hikayat Hasanuddin (sastra Kesultanan Banten/Cirebon yang dipengaruhi budaya Melayu)
- Babad: Babad Tanah Pasundan, Babad Cirebon, Babad Galuh dan Babad Purwakarta
- Mitologi: Mitologi Sanghyang Sri (Nyi Pohaci Sanghyang Sri, sebagai asal-usul padi)
- Legenda: Legenda Tangkuban Parahu (Sangkuriang) atau Legenda Situ Bagendit
Contoh Fakta di Lapangan
Pada awal mula Penulis meneliti dan menulis Sejarah Purwakarta, Penulis sering menemukan informasi, bahwa tokoh A adalah ahli sejarah Purwakarta dan tokoh B juga aalah ahli sejarah Purwakarta. Pada kenyataannya, ketika Penulis menemui tokoh A, ternyata ia menceriterakan, bahwa sejarah Purwakarta dimulai dari adanya Situ Buleud sebagai tempat berkubangnya (pangguyangan) badak putih, katanya. Ia hanya berceritera sebatas itu saja, tanpa tahu bagaimana kelanjutan seterusnya.
Pun, ketika Penulis menemui tokoh B, ternyata ia memberikan selembar silsilah keluarganya yang terhubung dengan Bupati Karawang sejak R.A.A. Singaperbangsa misalnya atau silsilah keluarganya yang terhubung dengan Prabu Siliwangi tanpa ada keterangan pelengkap, misalnya yang dikeluarkan oleh pihak Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Pajajaran.
Jadi, pada intinya banyak sekali tokoh yang mengaku bergelar “Raden” di Purwakarta tanpa selembar pun pengakuan/pengesahan silsilah nasab dari lembaga yang sah, seperti kelembagaan adat atau lainnya, semisal dari Karaton Sumdang Larang. Padahal hal itu sangat penting sebagai tanda legitimasi yang tak terbantahkan.
Kesimpulannya, meskipun sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda sama-sama menceritakan masa lalu, ketujuhnya memiliki karakteristik unik. Sejarah, tarikh dan riwayat bersandar kuat pada fakta dan metodologi ilmiah. Sementara itu, hikayat, babad, mitologi dan legenda lebih banyak berbaur dengan unsur sastra, budaya, keyakinan dan imajinasi kolektif masyarakat.
Perbedaan mendasar ini terletak pada tingkat kebenaran faktual dan fungsi penyampaiannya di masyarakat. Sejarah dan kronik mendokumentasikan kebenaran peristiwa secara objektif demi ilmu pengetahuan. Di sisi lain, hikayat hingga mitologi berfungsi sebagai sarana legitimasi kekuasaan, penyebar nilai moral, hiburan tradisional dan penjelasan asal-usul teologis suatu bangsa.
Memahami persamaan dan perbedaan seluruh istilah ini sangat penting bagi kita. Hal ini membantu kita memilah mana peristiwa yang benar-benar terjadi dan mana cerita rakyat yang bersifat simbolis. Dengan menghargai keduanya, kita dapat memperluas wawasan ilmu pengetahuan sekaligus menjaga kekayaan warisan budaya dan tradisi tutur leluhur kita. (*)