Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung kembali memiliki peluang untuk bersinar. Setelah sempat kehilangan sebagian besar penerbangan jet komersial akibat pengalihan layanan ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, kini Bandara Husein kembali membuka peluang konektivitas udara yang lebih dekat dengan pusat aktivitas masyarakat. Namun, ada pekerjaan penting yang perlu dipikirkan bersama, yakni menghadirkan tiket pesawat yang terjangkau sekaligus menjaga agar penerbangan tetap ramai dan berkelanjutan.
Perlu inisiatif dan inovasi dari pengelola bandara bersama maskapai, pemerintah, serta pelaku pariwisata. Bandara tidak cukup hanya memiliki landasan pacu dan terminal yang memadai. Harus ada model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Tiket Murah, Daya Tarik Utama
Sebelum pandemi Covid-19, harga tiket pada sejumlah rute penerbangan domestik relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan kondisi pada periode tertentu setelah pandemi. Masyarakat tentu berharap penerbangan langsung dari Bandung menuju kota-kota besar kembali menawarkan harga yang kompetitif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa sepanjang 2025 jumlah penumpang angkutan udara domestik Indonesia mencapai 59,8 juta orang, turun 5,82 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, penumpang internasional mencapai 20,5 juta orang, meningkat 8,14 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pasar penerbangan domestik masih menghadapi tantangan untuk tumbuh lebih kuat.
Bagi Bandung, persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya penerbangan, melainkan apakah masyarakat memperoleh pilihan jadwal, tujuan, dan harga yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Salah satu langkah yang layak dipertimbangkan adalah pemberian insentif jasa kebandarudaraan bagi maskapai yang membuka rute baru atau menambah frekuensi penerbangan. Insentif dapat berupa potongan biaya pendaratan, parkir pesawat, maupun layanan tertentu dalam periode promosi yang terukur.
Skema tersebut perlu dirancang secara transparan, memiliki batas waktu, dan dievaluasi berdasarkan jumlah penumpang serta keberlanjutan rute. Potongan biaya bandara tidak otomatis membuat tiket menjadi murah karena harga juga dipengaruhi bahan bakar, biaya pesawat, pajak, tingkat keterisian, dan strategi maskapai. Karena itu, insentif harus disertai komitmen maskapai untuk menawarkan tarif promosi yang benar-benar dirasakan penumpang.

Belajar dari Kertajati dan Bandara Lain
Pengalaman Bandara Kertajati di Majalengka memberikan pelajaran penting. Bandara berkapasitas besar tidak otomatis ramai apabila akses menuju terminal, frekuensi penerbangan, dan kebutuhan perjalanan masyarakat belum bertemu dalam satu ekosistem yang efisien.
Kertajati tetap memiliki peran strategis bagi Jawa Barat. Pada September 2026, misalnya, pengelola memperkuat konektivitas antar moda melalui trayek DAMRI Bandung–Kertajati–Indramayu dengan tarif yang diumumkan sebesar Rp60.000. Bandara ini juga menyiapkan dukungan untuk penerbangan internasional dan kegiatan kargo.
Namun, bagi warga Bandung, biaya perjalanan menuju bandara di Majalengka perlu dihitung bersama harga tiket pesawat. Tiket yang terlihat murah belum tentu menghasilkan biaya perjalanan keseluruhan yang rendah apabila penumpang harus mengeluarkan ongkos tambahan dan waktu lebih panjang untuk mencapai terminal.
Di sinilah Bandara Husein mempunyai keunggulan geografis. Lokasinya di dalam Kota Bandung membuatnya lebih dekat dengan kawasan perkantoran, pendidikan, hotel, pusat perdagangan, dan destinasi wisata perkotaan. Keunggulan ini dapat diterjemahkan menjadi penghematan waktu dan biaya akses bagi penumpang.
Perbandingannya dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga menarik. Bandara utama tersebut memiliki jaringan penerbangan luas dan jumlah penumpang besar sehingga dapat menarik berbagai maskapai serta mendukung konektivitas lanjutan. Bandara Husein memang tidak perlu meniru skala Soekarno-Hatta. Strategi yang lebih realistis adalah memilih rute dengan permintaan kuat, menjaga ketepatan jadwal, dan menawarkan pengalaman perjalanan yang praktis.
Sementara itu, pengalaman bandara regional seperti Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga, Ngloram di Blora, dan Wiriadinata di Tasikmalaya mengingatkan kita bahwa infrastruktur penerbangan membutuhkan permintaan yang nyata. Ketika jadwal reguler terbatas atau tidak tersedia, masyarakat cenderung kembali menggunakan moda transportasi lain. Status penerbangan setiap bandara dapat berubah, sehingga kondisi operasionalnya perlu diperiksa berdasarkan jadwal resmi terbaru, bukan hanya pengalaman masa lalu.

Bandara Bukan Sekadar Tempat Pesawat
PT Angkasa Pura Indonesia, yang beroperasi dengan merek InJourney Airports, terbentuk melalui penggabungan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II pada September 2024. Perusahaan ini mengelola jaringan bandara dan mendorong pengembangan bisnis penerbangan maupun nonpenerbangan.
Model bisnis bandara modern tidak hanya mengandalkan pendapatan dari layanan pesawat. Pendapatan non-aeronautika dapat berasal dari penyewaan ruang usaha, restoran, gerai ritel, periklanan, parkir, layanan transportasi, pergudangan, hingga pengembangan properti di kawasan bandara. Dengan model ini, aktivitas ekonomi dapat tetap berkembang melalui beragam layanan pendukung.
Bandara Husein bisa mengembangkan konsep tersebut secara bertahap. Area komersialnya dapat dirancang untuk menampung produk UMKM Bandung, kuliner khas Sunda, gerai oleh-oleh, serta layanan perjalanan yang terintegrasi. Namun, pengembangan komersial harus mengikuti kebutuhan pengguna dan tidak membebani biaya operasional yang akhirnya dibebankan kepada penumpang.
Bandara juga dapat menjadi pintu masuk paket wisata Bandung Raya. Kerjasama dengan hotel, biro perjalanan, pengelola destinasi, penyelenggara pameran, dan pelaku ekonomi kreatif dapat menghasilkan paket penerbangan sekaligus akomodasi, transportasi, serta tiket atraksi wisata.
Dalam psikologi ekonomi, terdapat gagasan bahwa aktivitas yang telah ramai cenderung menarik lebih banyak orang. Prinsip ini kerap dijelaskan melalui efek jejaring dan aglomerasi: semakin banyak pengguna dan kegiatan ekonomi berkumpul, semakin besar peluang munculnya layanan baru dan aktivitas tambahan.
Bagi Bandara Husein, gagasan tersebut dapat diterapkan melalui pengembangan permintaan secara bersamaan. Penerbangan langsung yang terjadwal menarik wisatawan dan pelaku bisnis. Kedatangan mereka menghidupkan hotel, restoran, transportasi lokal, dan destinasi wisata. Aktivitas ekonomi yang meningkat kemudian memperkuat alasan bagi maskapai untuk mempertahankan rute.
Pemerintah Kota Bandung dan pemerintah daerah di Bandung Raya dapat membantu melalui kalender acara yang terintegrasi dengan jadwal penerbangan. Festival kuliner, agenda budaya, pameran perdagangan, konferensi, serta kegiatan olahraga dapat dipromosikan sebagai paket perjalanan. Kementerian Pariwisata dan pihak terkait juga perlu mendorong promosi destinasi yang terhubung langsung dengan rute penerbangan.
Tentu saja, strategi tersebut tidak boleh berhenti pada seremoni pembukaan rute. Ukuran keberhasilannya harus jelas: keterisian kursi, konsistensi jadwal, perkembangan harga tiket, pertumbuhan jumlah penumpang, serta keberlanjutan rute setelah masa promosi berakhir.

Menemukan Model yang Berkelanjutan
Bandara Husein mempunyai peluang untuk berkembang bukan dengan bersaing dalam segala hal, melainkan dengan memanfaatkan keunggulan lokasinya. Penerbangan langsung yang tepat sasaran, insentif yang terukur, akses transportasi yang mudah, dan kerjasama pariwisata dapat menjadi pondasi untuk membangun kembali pasar penerbangan Bandung.
Tiket murah memang penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Yang dibutuhkan ialah keseimbangan antara kepentingan penumpang, kelayakan bisnis maskapai, pendapatan pengelola bandara, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Mungkinkah Bandara Husein menjadi pilihan utama warga Bandung untuk terbang dengan harga terjangkau? Sangat mungkin, sepanjang inovasi tidak hanya berorientasi pada pembukaan rute, tetapi juga membangun ekosistem yang membuat orang ingin datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi. Pada akhirnya, bandara yang ramai bukan sekadar tempat pesawat datang dan pergi, melainkan simpul ekonomi yang hidup bersama masyarakat di sekitarnya. (SRI)