Buku masih tersebar, layar laptop masih berpendar, padahal jarum jam sudah berdampingan dengan angka 12, menatap prihatin saat ini. Tugas yang harus dikumpulkan beberapa jam lagi, dan antrean beberapa tugas lagi yang menunggu untuk dikerjakan. Cemilan dan kopi sudah di sisi ulang berkali kali, tapi tugas belum juga selesai. Situasi seperti ini tampaknya tidak asing bagi para mahasiswa, Sistem Kebut Semalam (SKS) sering menjadi pilihan ketika tenggat waktu sudah di depan mata.
SKS ini biasanya dipandang negatif sebagai kebiasaan buruk yang terjadi karena mahasiswa terus mengulur waktu, malas, ataupun tidak mampu mengatur waktu. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun apakah SKS memang sesederhana itu? Saat tugas, kegiatan akademik maupun non akademik datang hampir bersamaan, apa yang harus dilakukan? Terkadang, untuk menghadapi tekanan untuk menyelesaikan semuanya, maka SKS bisa menjadi cara untuk bertahan.
Antara Menunda dan Bertahan
Untuk memahami fenomena ini, maka dilakukan survei awal melalui Google Forms yang melibatkan 30 responden secara anonim pada 5-10 Oktober 2026. Survei ini berisi pertanyaan tentang kebiasaan mengerjakan tugas para mahasiswa, alasan menunda tugas, pengaruh pada beban tugas, serta pandangan mahasiswa terhadap Sistem Kebut Semalam.
Hasil dari survei menunjukkan bahwa kebiasaan SKS juga perlu dilihat dari dampaknya. Dari 30 responden, 21 orang atau 70% memberikan penilaian 4-5 pada skala frekuensi SKS. Artinya, sebagian besar responden melaporkan bahwa mereka cukup sering melakukan SKS.
Temuan ini menunjukkan bahwa SKS bukan sekedar pengalaman sesekali bagi sebagian besar responden survei. Meski demikian, data tersebut belum dapat menjelaskan apakah kebiasaan itu terutama disebabkan oleh kemalasan, kesulitan mengatur waktu atau banyaknya tuntutan akademik.

Salah satu responden menjelaskan alasan menunda pengerjaan tugas dengan mengatakan, “Karna banyak tugas lainnya yang perlu dikerjakan juga.”
Jawaban tersebut memperlihatkan bahwa penundaan tidak selalu berdiri sendiri. Mahasiswa dapat memiliki berapa tugas yang harus diselesaikan sekaligus, sementara mereka juga harus membagi waktu untuk kegiatan lain. Ketika berbagai tuntunan bertemu dalam waktu yang berdekatan, mahasiswa harus menentukan tugas mana yang akan didahulukan.
Responden lain menggambarkan SKS sebagai “cara mahasiswa bertahan menghadapi tuntutan kuliah”.
Pernyataan tersebut menarik karena menunjukkan sudut pandang yang berbeda. SKS memang dapat menjadi kebiasaan yang merugikan, tetapi bagi sebagian mahasiswa, kebiasaan tersebut mungkin juga menjadi respons terhadap tekanan yang mereka rasakan. Dengan kata lain, memahami SKS membutuhkan lebih dari sekadar menyalahkan mahasiswa karena menunda pekerjaan.
Ketika Deadline Menjadi Motivasi
Sebagian mahasiswa merasa lebih mudah berkonsentrasi ketika tenggat waktu semakin dekat. Tekanan waktu dapat mendorong mereka untuk segera memulai dan menyelesaikan tugas. Namun, kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat tidak selalu berarti mahasiswa memahami materi secara mendalam atau menghasilkan pekerjaan terbaik.
Dalam kajiannya mengenai stres akademik, manajemen waktu, dan prokrastinasi akademik, Pertiwi (2020) membahas keterkaitan faktor-faktor tersebut dalam konteks mahasiswa. Kajian ini relevan untuk memahami bahwa kebiasaan menunda pekerjaan tidak dapat dilepaskan dari persoalan pengelolaan waktu dan tekanan akademik.
Dampak SKS juga terlihat dalam hasil survei penulis. Sebanyak 24 dari 30 responden atau 80% melaporkan bahwa kualitas tugas mereka mengalami penurunan dalam tingkat tertentu ketika mengerjakan tugas dengan SKS. Rinciannya, tujuh responden menyatakan kualitas tugas sedikit menurun, 14 menyatakan cukup menurun, dan tiga menyatakan sangat menurun. Sementara itu, tiga responden merasa kualitas tugasnya tidak terpengaruh dan tiga lainnya menyatakan kualitas tugasnya justru lebih baik.
Data tersebut memperlihatkan bahwa dampak SKS tidak dirasakan secara seragam. Meskipun demikian, jumlah responden yang melaporkan penurunan kualitas tugas jauh lebih besar daripada jumlah responden yang merasa kualitas tugasnya meningkat.

Data tersebut tidak membuktikan bahwa SKS selalu menyebabkan penurunan kualitas tugas. Namun, hasilnya memberikan alasan untuk mempertanyakan apakah menyelesaikan tugas di bawah tekanan waktu merupakan strategi yang baik jika dilakukan berulang kali.
Tugas kuliah bukan hanya tentang mengumpulkan pekerjaan sebelum tenggat waktu. Mahasiswa juga perlu memahami materi, menyusun argumen, dan memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Ketika waktu pengerjaan terlalu sempit, proses-proses tersebut berisiko mendapatkan perhatian yang lebih sedikit.
Harga yang Dibayar: Waktu Tidur dan Pemahaman Materi
Salah satu hal yang sering dianggap biasa dalam SKS adalah berkurangnya waktu tidur. Mahasiswa mungkin merasa bahwa mengorbankan waktu istirahat merupakan pilihan yang masuk akal ketika tugas harus segera dikumpulkan. Akan tetapi, jika hal tersebut menjadi kebiasaan, mahasiswa perlu mempertimbangkan kembali cara mereka mengelola pekerjaan.
Hasil survei menunjukkan bahwa 25 dari 30 responden atau sekitar 83,3% memberikan skor 4–5 pada penilaian mengenai berkurangnya waktu tidur akibat SKS. Temuan ini menunjukkan bahwa pengurangan waktu tidur menjadi dampak yang cukup menonjol di antara responden.

Angka tersebut patut diperhatikan karena waktu istirahat merupakan bagian penting dari kehidupan mahasiswa, bukan sekadar waktu yang dapat selalu dikorbankan untuk menyelesaikan tugas. Apabila mahasiswa terus-menerus mengandalkan pengerjaan tugas pada menit-menit terakhir, mereka berisiko terjebak dalam pola yang mengutamakan penyelesaian tugas jangka pendek daripada kebiasaan belajar yang berkelanjutan.
Di sisi lain, data survei ini merupakan laporan dari responden mengenai pengalaman mereka sendiri. Data tersebut tidak mengukur secara langsung kondisi kesehatan atau tingkat pemahaman materi setiap mahasiswa. Oleh karena itu, hasilnya lebih tepat digunakan untuk menunjukkan adanya persoalan yang perlu diperhatikan, bukan sebagai bukti bahwa semua mahasiswa yang melakukan SKS pasti mengalami dampak yang sama.
Apakah Semua Ini Hanya Kesalahan Mahasiswa?
Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk mengatur waktu dan menyelesaikan tugasnya. Menunda pekerjaan tanpa mempertimbangkan tenggat waktu dapat membuat beban terasa lebih berat. Karena itu, membangun kebiasaan mencicil tugas, membuat daftar prioritas, dan memulai pekerjaan lebih awal merupakan langkah yang masuk akal.
Namun, tanggung jawab mahasiswa tidak berarti bahwa faktor lain harus diabaikan. Salah satu responden menyampaikan pendapat berikut:
“Sebenernya sks itu buruk, karna kita tidak tau seberapa sulit dan seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen.”
Pernyataan tersebut menyoroti persoalan yang juga layak dibahas: mahasiswa tidak selalu dapat memperkirakan beban pengerjaan tugas dengan tepat, terutama jika instruksi atau perkiraan waktu pengerjaan belum jelas. Ketika beberapa tugas diberikan dengan tenggat yang berdekatan, mahasiswa harus membagi waktu di antara berbagai tuntutan.
Dalam konteks ini, dosen dan institusi pendidikan juga dapat berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih teratur. Instruksi yang jelas, tenggat waktu yang realistis, serta koordinasi jadwal tugas antarmata kuliah dapat membantu mahasiswa menyusun prioritas.
Penelitian Firmansyah, Umar, dan Rahayu (2018) membahas dampak Sistem Kebut Semalam terhadap tingkat plagiarisme tugas mahasiswa IKIP Siliwangi. Kajian tersebut relevan untuk mengingatkan bahwa pengerjaan tugas dalam waktu yang sangat terbatas dapat menimbulkan persoalan akademik yang perlu diperhatikan.
Meski demikian, hal itu tidak berarti semua mahasiswa yang melakukan SKS pasti melakukan plagiarisme. Penelitian tersebut berfokus pada persoalan tertentu, sehingga kesimpulannya tidak boleh digunakan untuk memberikan label yang sama kepada seluruh mahasiswa.
Dengan demikian, persoalan SKS perlu dilihat secara seimbang. Mahasiswa perlu memperbaiki kebiasaan belajarnya, sementara dosen dan institusi dapat mengevaluasi kejelasan instruksi serta pengaturan beban tugas. Menganggap SKS sepenuhnya sebagai kesalahan mahasiswa berisiko mengabaikan faktor lain yang turut membentuk kebiasaan tersebut.
Bukan Sekadar Menyelesaikan Tugas
Mengurangi kebiasaan SKS membutuhkan usaha dari mahasiswa sekaligus dukungan lingkungan akademik.
Mahasiswa dapat mulai dengan membagi tugas besar menjadi beberapa bagian kecil, mencatat semua tenggat waktu, dan menentukan waktu pengerjaan berdasarkan tingkat kesulitan serta prioritas. Memulai tugas lebih awal juga memberikan kesempatan untuk bertanya ketika ada instruksi yang belum dipahami dan memperbaiki hasil pekerjaan sebelum dikumpulkan.
Sementara itu, dosen dapat membantu dengan menyampaikan instruksi yang jelas dan memberikan waktu pengerjaan yang sesuai dengan tuntutan tugas. Koordinasi jadwal pengumpulan antar mata kuliah juga layak diperhatikan agar mahasiswa dapat mengatur pekerjaan secara lebih realistis.
Solusi tersebut bukan berarti mahasiswa harus selalu bebas dari tekanan. Tuntutan akademik tetap menjadi bagian dari proses belajar. Namun, tekanan tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan mahasiswa mulai bekerja. Sistem belajar yang baik semestinya memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami materi, menyelesaikan tugas dengan bertanggung jawab, dan menjaga keseimbangan aktivitasnya.
Mengubah Kebiasaan, Bukan Sekadar Menyalahkan
Lalu, apakah SKS merupakan kebiasaan buruk atau mekanisme bertahan mahasiswa? Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.
Hasil survei awal terhadap 30 responden menunjukkan bahwa 70% memberikan skor tinggi pada frekuensi melakukan SKS. Selain itu, 80% melaporkan penurunan kualitas tugas dalam tingkat tertentu, sedangkan sekitar 83,3% memberikan skor tinggi pada penilaian mengenai berkurangnya waktu tidur akibat SKS. Temuan ini memperlihatkan bahwa kebiasaan tersebut layak mendapat perhatian, terutama karena berkaitan dengan kualitas pengerjaan tugas dan waktu istirahat.
Namun, angka-angka tersebut juga perlu dibaca secara hati-hati. Survei ini melibatkan jumlah responden yang terbatas dan tidak mewakili seluruh mahasiswa. Hasilnya tidak cukup untuk menentukan satu penyebab utama SKS ataupun membuktikan hubungan sebab-akibat. Meskipun demikian, jawaban responden memberikan gambaran tentang bagaimana kebiasaan tersebut dialami oleh sebagian mahasiswa.
SKS dapat menjadi kebiasaan yang merugikan ketika penundaan terus berulang dan pengerjaan tugas hanya berorientasi pada tenggat waktu. Pada saat yang sama, kebiasaan ini juga dapat mencerminkan upaya mahasiswa menghadapi tuntutan akademik yang dirasakan berat.
Karena itu, perubahan tidak cukup dilakukan dengan meminta mahasiswa berhenti menunda pekerjaan. Mahasiswa perlu membangun manajemen waktu yang lebih baik, sedangkan lingkungan akademik perlu mendukung pembagian beban kerja yang lebih terencana.
Pada akhirnya, tujuan belajar bukan hanya mengumpulkan tugas tepat waktu, melainkan juga memahami apa yang dipelajari. Jika SKS sudah menjadi cara bertahan yang umum digunakan, pertanyaan pentingnya bukan sekadar mengapa mahasiswa terus melakukannya, tetapi juga bagaimana menciptakan kebiasaan belajar yang membuat mereka tidak harus selalu bergantung pada tekanan di akhir waktu.
Dalam proses penyusunan artikel ini, AI digunakan sebagai alat bantu untuk mengembangkan struktur tulisan, dan merapikan penyampaian argumen. Pemilihan topik, pengumpulan data survei melalui Google Forms, peninjauan sumber, serta pemeriksaan akhir isi artikel tetap menjadi tanggung jawab penulis. Data survei bersumber dari jawaban responden, sedangkan referensi akademik diperiksa kembali melalui sumber aslinya sebelum digunakan. AI digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti penilaian kritis dan tanggung jawab akademik penulis. (*)
Daftar Pustaka
- Firmansyah, D., Umar, W. R., & Rahayu, A. S. (2018). Dampak Sistem Kebut Semalam terhadap tingkat plagiarisme tugas mahasiswa IKIP Siliwangi. Parole: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1(4), 497–502.
- Pertiwi, G. A. (2020). Pengaruh stres akademik dan manajemen waktu terhadap prokrastinasi akademik. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(4), 738–749.
- Survei awal penulis. (2026, 7–10 Oktober). Survei tentang kebiasaan Sistem Kebut Semalam (SKS) pada mahasiswa [Google Forms].