Ayo Netizen

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Oleh: Kin Sanubary
Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)

Sebuah foto bisa berbicara lebih panjang daripada kata-kata. Ketika suara sebuah peristiwa telah lama menghilang, gambar justru mampu menghadirkan kembali suasana, wajah, dan momen yang membentuk perjalanan sejarah. Foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia karya Frans dan Alex Mendur menjadi salah satu bukti bagaimana sebuah gambar dapat melampaui zamannya dan menjaga ingatan kolektif bangsa.

Dari jejak visual kemerdekaan hingga perkembangan teknologi fotografi modern, gambar bukan sekadar hasil bidikan kamera. Di dalamnya terdapat proses, keberanian, kreativitas, dan tanggung jawab untuk merekam kenyataan. Perspektif inilah yang mengemuka dalam talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi” bersama Ray Bachtiar Dradjat, praktisi fotografi sekaligus pendiri Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI), di Museum Mandiri, kawasan Kota Tua, Jakarta.

Foto bersejarah karya Alex Mendur dan Frans Mendur yang mengabadikan momen pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Frans dan Alex Mendur menempati posisi penting sebagai fotografer yang mengabadikan momen Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Di tengah situasi yang penuh tantangan, mereka merekam peristiwa yang kelak menjadi tonggak lahirnya Indonesia sebagai bangsa merdeka.

Foto-foto tersebut bukan sekadar dokumentasi jurnalistik. Gambar-gambar itu menjadi bukti visual yang memungkinkan generasi berikutnya menyaksikan kembali salah satu momen paling menentukan dalam sejarah bangsa.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Frans Soemarta Mendur, yang lahir di Kawangkoan, Minahasa, pada 16 April 1913, dikenal sebagai fotografer jurnalistik. Bersama kakaknya, Alex Mendur, ia turut merekam berbagai peristiwa penting pada masa awal kemerdekaan.

Komitmen mereka terhadap dunia jurnalistik kemudian berlanjut melalui pendirian Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) pada 2 Oktober 1946 bersama sejumlah fotografer lainnya. Lembaga ini berperan dalam mendokumentasikan perjalanan bangsa sekaligus mendukung perkembangan fotografi jurnalistik di Indonesia.

Frans meninggal dunia pada 24 April 1971. Dedikasi Mendur Bersaudara memperoleh pengakuan negara melalui penganugerahan Bintang Jasa Utama pada 2009 dan Bintang Mahaputera Nararya pada 2010.

Kisah mereka menurut Ray Bachtiar menegaskan bahwa fotografi memiliki peran lebih besar daripada sekadar merekam kejadian. Sebuah foto dapat menjadi saksi sejarah, menyampaikan fakta, dan menjaga peristiwa agar tidak lenyap dari ingatan publik. Di balik gambar yang bertahan puluhan tahun, selalu ada fotografer yang bekerja dengan kepekaan, ketekunan, dan keberanian.

Menemukan Kembali Makna Fotografi Lewat Lubang Jarum

Semangat untuk memahami fotografi dari dasarnya juga menjadi perhatian Ray Bachtiar Dradjat. Melalui fotografi lubang jarum, ia mengajak masyarakat melihat proses penciptaan gambar dengan cara yang sederhana, tetapi sarat pembelajaran.

Berbeda dari kamera modern yang mengandalkan lensa dan sistem elektronik, kamera lubang jarum bekerja berdasarkan prinsip dasar cahaya yang masuk melalui sebuah lubang kecil untuk membentuk citra pada bidang peka cahaya. Teknik ini memperlihatkan bahwa sebuah gambar tidak selalu membutuhkan perangkat mahal atau teknologi rumit.

Justru dalam kesederhanaannya, fotografi lubang jarum mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan pemahaman terhadap cahaya. Prosesnya mendorong seseorang untuk tidak sekadar menekan tombol, tetapi juga memahami bagaimana sebuah gambar terbentuk.

Baca Juga: Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Bagi Ray, fotografi bukan semata-mata persoalan kecanggihan kamera. Ada proses berpikir, cara pandang, dan pengalaman yang ikut menentukan makna sebuah karya. Pendekatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi siapa pun untuk bereksperimen, belajar, dan menemukan kreativitas melalui perangkat sederhana.

Fotografi lubang jarum juga mengingatkan bahwa di balik kemajuan teknologi, prinsip dasar fotografi tetap bertumpu pada cahaya dan cara manusia menerjemahkan kenyataan menjadi gambar.

Dari Foto Diam Menuju Cerita Bergerak

Perjalanan teknologi visual kemudian berkembang dari fotografi yang merekam satu momen menjadi videografi yang menyusun rangkaian gambar bergerak. Kehadiran suara, gerak, dan durasi memungkinkan sebuah peristiwa disampaikan dengan pengalaman yang lebih utuh.

Perkembangan kamera digital dan telepon pintar semakin memudahkan masyarakat untuk membuat foto maupun video. Aktivitas yang dahulu membutuhkan perangkat khusus kini dapat dilakukan hampir siapa saja. Dokumentasi peristiwa, produksi karya kreatif, hingga penyebaran informasi berlangsung semakin cepat melalui berbagai platform digital.

Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Banyaknya gambar yang diproduksi dan dibagikan tidak selalu menjamin kedalaman cerita atau ketepatan informasi. Karena itu, kemampuan teknis perlu berjalan beriringan dengan kepekaan visual, pemahaman konteks, dan kesadaran akan tanggung jawab dalam merekam serta menyebarkan gambar.

Baca Juga: Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Foto dan video pada akhirnya bukan hanya produk teknologi. Keduanya merupakan medium untuk merekam perubahan zaman, menyampaikan pengalaman manusia, dan membangun pemahaman tentang peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Jika Mendur Bersaudara menggunakan kamera untuk mengabadikan momentum kemerdekaan, generasi sekarang memiliki beragam perangkat untuk merekam sejarah yang sedang berlangsung. Tantangannya tetap sama: menentukan apa yang layak direkam, bagaimana menyampaikan kenyataan, dan mengapa sebuah gambar penting untuk disimpan.

Museum Mandiri, Ruang Menelusuri Jejak Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)

Berbagai pemikiran tentang fotografi dan videografi tersebut menjadi bagian dari talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi” yang berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 13.00–14.00 WIB, di Aula Majapahit, lantai dasar Museum Mandiri. Diskusi menghadirkan Ray Bachtiar Dradjat dengan Agustin Saptono sebagai moderator.

Kegiatan ini mengajak pengunjung melihat perkembangan teknologi visual tidak hanya dari sisi perangkat, tetapi juga melalui hubungannya dengan seni, sejarah, dan kebudayaan. Fotografi dan videografi dipahami sebagai cara manusia merekam sekaligus menafsirkan perjalanan kehidupan.

Baca Juga: Relasi Santri dengan Indonesia

Rangkaian kegiatan tersebut berkaitan dengan pameran “Dalam Lensa dan Pita” yang dijadwalkan berlangsung pada 2–24 Oktober 2026 di Aula Sriwijaya, lantai satu Museum Mandiri. Pameran ini mengajak masyarakat menelusuri perjalanan fotografi dan videografi dari masa ke masa, dengan akses gratis bagi pengunjung.

Melalui pameran dan kegiatan diskusi, museum menjadi ruang belajar yang mempertemukan sejarah teknologi dengan pengalaman kreatif. Pengunjung tidak hanya diajak melihat perkembangan alat perekam gambar, tetapi juga memahami bagaimana teknologi visual ikut membentuk cara masyarakat menyimpan dan mewariskan ingatan.

Pada akhirnya, kamera boleh berubah, teknik boleh berkembang, dan gambar dapat hadir dalam beragam format. Namun, nilai sebuah karya visual tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang digunakan.

Karya Frans dan Alex Mendur membuktikan bahwa sebuah foto dapat menjadi saksi penting perjalanan bangsa. Sementara itu, pendekatan Ray Bachtiar melalui fotografi lubang jarum mengingatkan bahwa makna fotografi berawal dari pemahaman terhadap cahaya, proses, dan cara manusia memandang dunia.

Di antara foto diam dan gambar bergerak, satu hal tetap bertahan: kemampuan visual untuk merekam cerita, menjaga ingatan, dan membuat sebuah peristiwa terus berbicara kepada generasi demi generasi.***

Reporter Kin Sanubary
Editor Aris Abdulsalam