KALAU diibaratkan, Jawa Barat itu seperti "rumah besar” yang terus kedatangan tamu. Tamunya, ada yang sudah lama tinggal, ada yang baru pindah karena kerjaan, sekolah, atau ikut keluarga.
Nah, di “rumah” itu, bahasa Sunda-lah yang paling sering terdengar. Tapi, tentu, bukan berarti semua orang di dalam “rumah” itu hanya bisa atau harus berbahasa Sunda.
Sensus Penduduk 2010 mencatat sekitar 71,87 persen penduduk Jawa Barat berasal dari suku Sunda. Angka itu memang sudah lama. Badan Pusat Statistik kemudian menerbitkan publikasi bertajuk Profil Suku dan Keragaman Bahasa Daerah Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 pada Desember 2024, yang antara lain mengulas profil suku Sunda dan penggunaan bahasa daerah dalam keluarga serta masyarakat.
Data yang lebih anyar ini penting, sebab besarnya populasi Sunda tidak dengan sendirinya menunjukkan seberapa kuat bahasa Sunda diwariskan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Persoalannya bukan cuma seberapa banyak orang Sunda pituin yang tinggal di Jawa Barat, melainkan juga seberapa jauh bahasa Sunda tetap hidup di tengah perubahan penduduk dan mobilitas sosial.
Hitam-putih
Peta bahasa di Jawa Barat tidak hitam-putih. Bahasa Sunda dominan di banyak wilayah Priangan. Tapi, di pesisir utara, khususnya Indramayu, Cirebon, dan sebagian Karawang-Subang, bahasa Jawa (dengan dialek lokalnya) sudah lama dipakai.
Di wilayah dekat Jakarta seperti Bekasi dan Depok, bahasa Betawi dan campuran ikut mewarnai. Ditambah lagi bahasa-bahasa pendatang yang hidup di komunitas-komunitas kecil. Ini fakta geografis dan historis.
Sejumlah sumber menaksir, jumlah penutur bahasa Sunda di Indonesia diperkirakan antara 32 hingga 42 juta orang. Ini menjadikannya bahasa Sunda sebagai bahasa daerah terbesar kedua setelah bahasa Jawa.
Sebagian besar penutur bahasa Sunda memang berada di Jawa Barat. Tapi, jumlah penutur besar tidak otomatis membuat bahasa itu aman dari pergeseran. Beberapa kajian menunjukkan penggunaan bahasa Sunda di kalangan generasi muda cenderung menurun, terutama di kota-kota besar. Banyak anak muda lebih nyaman memakai bahasa Indonesia atau bahasa gado-gado.
Kebudayaan bersama
Pelestarian bahasa daerah akan lebih kuat jika dijalankan sebagai kekayaan kebudayaan bersama, bukan sebagai alat untuk menentukan siapa yang lebih pantas disebut warga Jawa Barat. Kalau bahasa Sunda diperlakukan seperti kartu keanggotaan, yang tidak bisa berbahasa Sunda otomatis merasa berada di luar. Padahal, orang yang lahir dan besar di Cirebon atau Bekasi juga warga Jawa Barat yang sah.
Penelitian sosiolinguistik sudah lama menunjukkan bahwa bahasa hidup ketika ia berguna dan dihargai, bukan ketika ia dipaksakan.
Ahli sosiolinguistik Joshua Fishman (1991) menekankan bahwa keberlangsungan bahasa sangat bergantung pada pewarisan antargenerasi, terutama melalui keluarga dan komunitas. Bahasa tidak cukup dipertahankan melalui pelajaran sekolah, upacara resmi, atau slogan pelestarian yang muluk.
Secara demikian bahasa harus tetap digunakan dalam percakapan sehari-hari, di rumah, di lingkungan tetangga, di pasar, dan di ruang sosial lainnya. Kegiatan formal tetap penting, tetapi akan terbatas hasilnya jika anak-anak tidak lagi memperoleh dan menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan eksklusif justru bisa kontraproduktif. Ketika kebijakan bahasa terasa seperti ujian kesetiaan etnis, orang yang berasal dari latar berbeda cenderung menjauh. Padahal, data menunjukkan bahwa banyak pendatang di Jawa Barat justru ingin beradaptasi.
Faktanya, tak sedikit dari mereka yang berupaya belajar kata-kata Sunda dasar, ikut kegiatan budaya lokal, dan menyekolahkan anak di lingkungan yang ada pelajaran bahasa Sundanya. Proses itu lebih mudah terjadi jika suasananya terbuka.
Sebaliknya, ada risiko jika pelestarian bahasa hanya digantungkan pada kelompok etnis tertentu. Bahasa bisa berubah menjadi identitas yang kaku, sementara generasi muda yang tumbuh di lingkungan campuran merasa tidak punya tempat. Beberapa survei lokal menunjukkan bahwa sebagian anak muda di kota besar merasa “kurang Sunda” hanya karena tidak fasih berbahasa Sunda.
Ilmu perencanaan bahasa (language planning) membedakan, antara lain, status planning dan corpus planning. Yang pertama bertalian dengan kedudukan, fungsi, dan ranah penggunaan bahasa dalam masyarakat. Yang kedua menyangkut pengembangan bahasa itu sendiri, mulai dari ejaan, tata bahasa, dan kosakata hingga pembakuan istilah serta penyediaan bahan ajar. Keduanya perlu dirancang dengan memperhatikan realitas demografi, pola penggunaan bahasa, dan kebutuhan masyarakat.
Di Jawa Barat, kedudukan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah utama di banyak wilayah memberikan alasan kuat bagi pemerintah untuk mendukung pelestarian dan penggunaannya.
Namun, penguatan bahasa Sunda tidak harus dilakukan dengan mengurangi ruang bagi bahasa daerah lain yang juga hidup di tengah masyarakat. Tantangannya ialah bagaimana membangun kebijakan bahasa yang mengakui posisi historis dan sosial bahasa Sunda sekaligus menghormati keragaman penduduk di Jawa Barat.
Contoh praktis sudah ada. Misalnya, dalam hal penerapan program “Rebo Nyunda” atau hari khusus berbahasa Sunda di sekolah dan kantor. Program seperti itu bagus selama tidak berubah menjadi ajang “penghukuman” bagi yang belum/tidak fasih bahasa Sunda. Festival Tunas Bahasa Ibu yang digelar di tingkat kabupaten hingga provinsi juga bagus dalam upaya membuka ruang ekspresi. Tinggal yang perlu dijaga adalah agar ruang itu tetap inklusif, bukan eksklusif.
Bahasa daerah menjadi warna
Sekarang, mari kita bayangkan di sebuah angkot di Bandung, penumpang dari berbagai latar saling sapa. Ada yang bilang “punten”, ada yang mengucap “permisi”, ada yang berkata “nuwun sewu”. Dan semua bisa saling mengerti.
Bahasa daerah memberi warna pada kehidupan kita, sedangkan bahasa Indonesia memungkinkan kita saling memahami. Kita tidak perlu meninggalkan bahasa sendiri untuk bisa duduk berdampingan dan menempuh perjalanan yang sama.
Tantangan terbesar kini justru ada di generasi muda. Mereka hidup di dua dunia sekaligus, yakni digital global dan digital lokal. Bahasa Sunda akan lebih menarik bagi mereka jika hadir di media yang mereka konsumsi sehari-hari, bukan hanya di buku pelajaran yang terasa kaku.
Beberapa kreator konten sudah mulai melakukan itu. Mereka membuat konten-konten lucu, podcast, atau lagu dalam bahasa Sunda yang terdengar natural. Itu bentuk pelestarian yang lebih hidup dan selaras kemajuan zaman.
Di tingkat komunitas, banyak contoh bagus. Keluarga campur yang tetap mempertahankan bahasa ibu masing-masing sambil memakai bahasa Indonesia di rumah.Itu bukan tanda lemahnya identitas, melainkan tanda kemampuan beradaptasi.
Kebijakan publik perlu mendukung realitas ini. Muatan lokal bahasa Sunda di sekolah penting, terutama di wilayah yang penuturnya masih kuat. Tapi di wilayah yang secara historis berbahasa Jawa atau Betawi, pendekatan bisa disesuaikan. Tidak harus seragam. Ilmu bahasa daerah sudah menunjukkan bahwa dialek dan variasi lokal juga memiliki nilai.
Ada juga aspek psikologis yang perlu mendapat perhatian. Ketika seseorang merasa bahasanya dihargai, ia lebih mudah menghargai bahasa orang lain. Sebaliknya, jika merasa bahasanya terancam atau diabaikan, reaksi defensif lebih mudah muncul. Di Jawa Barat yang heterogen, menjaga rasa saling menghargai lebih penting daripada memperebutkan posisi “paling asli”.
Pengalaman negara lain menunjukkan hal serupa. Di wilayah dengan banyak bahasa regional, pendekatan inklusif biasanya menghasilkan vitalitas bahasa yang lebih baik dalam jangka panjang. Bahasa yang diperlakukan sebagai milik bersama cenderung lebih tahan terhadap tekanan globalisasi.
Kekayaan bersama
Bahasa Sunda bakal tetap hidup jika ia terus dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Bukan cuma di acara seremonial, tapi di warung, di grup WhatsApp keluarga, di lagu yang dinyanyikan anak-anak, dan di percakapan santai antar tetangga. Semakin banyak orang yang merasa nyaman menggunakannya, semakin kuat posisinya.
Menjadikan bahasa Sunda sebagai kekayaan bersama bukan berarti mengabaikan sejarah atau menghapus kekhasannya. Justru sebaliknya. Dengan membuka ruang bagi semua warga Jawa Barat untuk ikut menjaga dan menikmatinya, bahasa Sunda punya peluang lebih besar untuk terus relevan.
Tidak perlu memaksa semua orang di Jawa Barar menjadi penutur fasih basa Sunda. Cukup membuat mereka merasa bahwa bahasa itu bagian dari “rumah” bersama, bukan milik eksklusif satu kelompok.
Itulah yang agaknya yang lebih masuk di akal. Tegasnya, melindungi bahasa Sunda sebagai bahasa daerah utama di banyak wilayah Jawa Barat, sambil tetap menghormati keragaman bahasa yang sudah lama hidup di tanah yang sama.
Tidak ada yang harus dikalahkan. Semuanya bisa tumbuh berdampingan, selama kita tidak mengubah bahasa menjadi pagar pembatas. (*)