Ayo Netizen

Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Oleh: Sri Maryati
Walikota Bandung M Farhan saat meresmikan RTH Pasirwangi. (Sumber: Bandung.go.id)

Peresmian Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pasirwangi di Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, pada Minggu, 18 Oktober 2026, menjadi kabar baik bagi warga Kota Bandung.

Di tengah pertumbuhan bangunan dan semakin terbatasnya ruang terbuka, kehadiran kawasan hijau seluas 11.000 meter persegi dengan 2.000 pohon yang telah ditanam memberikan harapan baru bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meresmikan kawasan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pengurangan risiko bencana. Kawasan yang dikembangkan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi ini diharapkan dapat membantu menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Namun, keberhasilan membangun RTH tidak cukup diukur dari luas lahan dan jumlah pohon yang ditanam. RTH yang benar-benar bermanfaat harus tumbuh menjadi ruang publik yang hidup, terawat, aman, nyaman, dan dapat dinikmati oleh semua kelompok masyarakat. Peresmian seharusnya menjadi awal dari tanggung jawab panjang untuk memastikan kawasan tersebut tetap berfungsi bagi generasi mendatang.

Ruang Bersama untuk Anak dan Lansia

Sebagai seorang perempuan yang melihat lingkungan dari dekat kehidupan keluarga, saya memandang RTH bukan sekadar hamparan pepohonan. Ruang terbuka hijau juga merupakan tempat anak-anak bermain, orang tua berjalan santai, para lansia berolahraga ringan, serta warga bertemu dan membangun hubungan sosial.

Karena itu, RTH Pasirwangi perlu dirancang ramah anak dan lansia. Jalur pejalan kaki harus rata, tidak licin, dan tidak terhalang akar pohon. Tempat duduk dengan sandaran perlu tersedia di sejumlah titik agar lansia dapat beristirahat. Jalur landai juga penting bagi pengguna kursi roda, warga yang menggunakan alat bantu berjalan, serta orang tua yang membawa kereta bayi.

Anak-anak membutuhkan area bermain yang aman dengan permukaan yang tidak mudah menyebabkan cedera. Peralatan bermain harus diperiksa secara berkala, sedangkan kawasan bermain perlu dijauhkan dari jalur kendaraan dan bagian lahan yang berisiko longsor. Penerangan yang memadai, tempat sampah, air bersih, serta toilet yang mudah diakses akan membuat RTH lebih nyaman digunakan keluarga.

Kenyamanan juga berkaitan dengan ketersediaan ruang yang teduh. Pepohonan yang tumbuh baik dapat mengurangi paparan panas, sedangkan taman dengan beragam vegetasi memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal alam secara langsung. RTH dengan demikian dapat berfungsi sebagai ruang rekreasi sekaligus tempat pendidikan lingkungan bagi masyarakat.

Situasi peresmian RTH Pasirwangi (Sumber: Bandung.go.id)

Jangan Biarkan Taman Menjadi Ruang yang Menakutkan

Ruang publik yang indah pada siang hari belum tentu aman pada malam hari. Kawasan hijau yang minim penerangan, jarang dikunjungi, atau memiliki sudut-sudut tersembunyi berpotensi menimbulkan rasa tidak aman. Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak awal agar RTH Pasirwangi tidak berubah menjadi tempat yang dihindari keluarga setelah matahari terbenam.

Penerangan perlu ditempatkan pada pintu masuk, jalur pejalan kaki, tempat duduk, dan titik yang berpotensi menjadi ruang tersembunyi. Penataan vegetasi juga harus memperhatikan jarak pandang. Pepohonan tetap perlu rindang, tetapi semak yang terlalu lebat di sekitar jalur dan fasilitas publik sebaiknya dipangkas secara teratur.

Pengelola dapat bekerja sama dengan pengurus RW, kelompok sadar keamanan, karang taruna, dan aparat keamanan untuk membangun pengawasan berbasis masyarakat. Jadwal patroli yang proporsional, kanal pengaduan yang mudah diakses, serta aturan penggunaan taman yang jelas akan membantu mencegah tindakan kriminal, perusakan fasilitas, dan perilaku yang mengganggu kenyamanan pengunjung.

Pengamanan tidak berarti menjadikan taman sebagai ruang yang kaku atau membatasi warga secara berlebihan. Prinsipnya adalah menciptakan lingkungan yang terbuka, mudah diawasi, dan ramai oleh kegiatan positif. Aktivitas olahraga, pertemuan warga, kelas lingkungan, serta kegiatan seni dapat membuat RTH tetap hidup tanpa mengganggu ketenangan masyarakat sekitar.

Memperkaya Tanaman, Menjaga Keanekaragaman Hayati

Dua ribu pohon yang telah ditanam merupakan modal ekologis yang berharga. Akan tetapi, keberhasilan penghijauan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon, melainkan juga oleh jenis, kesesuaian lokasi, tingkat kelangsungan hidup, dan pemeliharaannya.

RTH Pasirwangi perlu memiliki komposisi tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah, curah hujan, ketinggian tempat, serta fungsi ekologis kawasan. Pohon peneduh lokal, tanaman berbunga yang mendukung keberadaan serangga penyerbuk, semak yang tidak menghalangi pandangan, dan vegetasi penutup tanah dapat disusun dalam komposisi yang saling melengkapi.

Tanaman langka dan spesies lokal yang bernilai konservasi juga layak diperkenalkan. Penanamannya harus didasarkan pada identifikasi botani dan kesesuaian habitat, bukan semata-mata karena tanaman tersebut dianggap unik. Jenis yang terancam punah atau memiliki nilai konservasi tinggi perlu diperoleh melalui sumber pembibitan yang legal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Setiap kelompok tanaman dapat dilengkapi papan nama yang memuat nama lokal, nama ilmiah, asal, dan manfaat ekologisnya. Dengan cara ini, RTH Pasirwangi dapat berkembang menjadi taman pembelajaran keanekaragaman hayati. Anak-anak dan pelajar dapat mengenali kekayaan flora Indonesia, sementara warga memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya menjaga pepohonan dan habitat satwa.

Merawat RTH sebagai Investasi Jangka Panjang

Lokasi Pasirwangi yang memiliki kondisi topografi tertentu juga menuntut pengelolaan lingkungan yang cermat. Seperti diingatkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, warga yang tinggal di wilayah dengan kontur curam harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor, terutama ketika hujan turun.

Dalam konteks ini, RTH dapat membantu menjaga kualitas lingkungan melalui tutupan vegetasi, perlindungan tanah, dan pengaturan limpasan air hujan. Namun, pepohonan tidak dapat menggantikan kebutuhan akan kajian geologi, sistem drainase yang memadai, serta pemantauan lereng yang berisiko. Penanaman perlu disesuaikan dengan karakter tanah dan kondisi kemiringan lahan.

Pemerintah Kota Bandung perlu menetapkan pengelola yang jelas, jadwal pemeliharaan, anggaran perawatan, serta indikator keberhasilan yang dapat dipantau warga. Tingkat kelangsungan hidup pohon, kebersihan, kondisi fasilitas, keamanan pengunjung, dan jumlah kegiatan masyarakat dapat menjadi ukuran keberhasilan pengelolaan RTH.

Kerja sama Pemkot Bandung dengan BINUS University Bandung juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan program pendidikan lingkungan, pemantauan kesehatan tanaman, pemetaan vegetasi, dan pelibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Artikel ini saya tutup dengan kessimpulan bahwa RTH Pasirwangi bukan hanya proyek penghijauan, melainkan investasi sosial dan ekologis. Keberhasilannya bergantung pada kesediaan pemerintah dan masyarakat untuk merawatnya bersama. Ruang hijau yang baik adalah ruang yang membuat anak-anak merasa aman, lansia merasa nyaman, keluarga dapat berkumpul, keanekaragaman hayati terlindungi, dan warga memiliki kebanggaan terhadap lingkungannya. (SRI)

Reporter Sri Maryati
Editor Aris Abdulsalam