Malam itu terasa gerah untuk daerah Cibiru dan sekitarnya. Bada salat Isya, Aa Akil, anak kedua yang kini duduk di kelas enam sekolah dasar, baru saja pulang dari pengajian. Saat asyik membaca koran kebanggaan urang Jabar, menghampiri, sembari menyiapkan buku-buku pelajaran untuk esok hari.
“Bah, sekarang acara Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa) di sekolah beda banget, ya?”
“Ku naon, Aa?” jawabku singkat.
“Kalau dulu Mabit-nya di sekolah, sekarang di Al-Jabbar. Pasti asyik, ya, Bah!” katanya dengan polos.
Rupanya, ada kegembiraan sederhana dalam teriakan Hore!. Bagi Akil, Mabit kali ini bukan sekadar kegiatan rutin sekolah. Pasalnya, ada tempat baru, suasana berbeda, dan pengalaman yang berharga dan menjadi kenangan tersendiri dalam perjalanan masa kecilnya.
Sambil tersenyum. Memang di usia bocil masih dipenuhi rasa ingin tahu, perpindahan tempat saja bisa menghadirkan antusiasme yang luar biasa. Ya, diam-diam terpikir, barangkali ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar berpindah lokasi, terutama ihwal bagaimana anak-anak belajar memahami iman, mengenali diri, dan bertumbuh subur melalui pengalaman keagamaan sendiri.
Sebelumnya, informasi mengenai kegiatan itu telah beredar di grup kelas. Sekolah Dasar Islam Al-Amanah Bandung menggelar Al-Amanah Spiritual Camp pada Jumat–Sabtu, 16–17 Oktober 2026, bertajuk “Menguatkan Iman dan Akhlak, Menumbuhkan Kemandirian Menuju Generasi yang Taat, Kuat, dan Manfaat”.
Namanya spiritual camp. Formatnya Mabit. Tempatnya Masjid Raya Al-Jabbar. Tiga istilah yang bertemu dalam satu acara dan sungguh menyimpan makna terdalam. Malam menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, perkemahan sarana menempa kemandirian, dan masjid sebagai ruang perjumpaan autentik bersama dalam merawat spiritualitas, menumbuhkan kesadaran diri sebagai seorang Muslim sejati.

Serunya Belajar di Dalam (Luar) Kelas
Selama ini, kita sering membayangkan pendidikan berlangsung di antara empat dinding kelas, di hadapan papan tulis, deretan buku pelajaran, dan ocehan penjelasan guru. Padahal, kehidupan menyediakan ruang belajar yang jauh lebih luas. Alam, kebersamaan, perjalanan, kesederhanaan bisa menjadi guru terbaik yang tak kalah berharganya.
Untuk kegiatan luar ruang, anak-anak tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi berhadapan langsung dengan pengalaman langsung. Ya, belajar mengurus kebutuhan sendiri, berbagi dengan teman, mengikuti aturan bersama, dan memahami urusan tidak semua persoalan dapat berjalan sesuai keinginan dan rencana awal.
Ingat, dalam kondisi ini pendidikan menemukan dimensi yang lebih utuh. Bukan semata-mata mengisi kepala dengan pengetahuan, melainkan membentuk sikap, membangun kebiasaan baik, dan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama.
Camping, mengajarkan soal kemandirian bukan sekadar kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Ya, kesediaan memikul tanggung jawab, menyelesaikan tugas, dan memahami arti hidup bersama yang menuntut kepedulian, berbagi.
Saat anak-anak (memasak) bersama, pada dasarnya mereka belajar tentang makanan tidak hadir begitu saja di atas meja. Ada proses, kerja sama, dan pembagian tugas di baliknya. Ketika merapikan perlengkapan sendiri, mereka belajar soal tanggung jawab dimulai dari hal-hal kecil dan remeh temeh. Waktu malam tiba dan saatnya berbagi cerita, ada kesempatan untuk mengenali perasaan, mendengarkan pengalaman orang lain, dan memahami arti kebersamaan.
Bila segala aktivitas ini tampak sederhana bagi orang dewasa, maka berbeda ceritanya untuk anak-anak, pengalaman kecil bisa menjadi fondasi karakter yang tumbuh perlahan-lahan dalam mengarungi kehidupan yang fana ini.

Malam Sunyi jadi Ruang Refleksi
Dalam buku Tarbiyah Ruhiyah dijelaskan Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa). Sekolah dapat mengadakan suatu kegiatan yang bertajuk “malam bina iman dan takwa (Mabit)” yang diikuti oleh seluruh peserta didik, guru, dan karyawan. Tujuannya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, baik peserta didik, guru, karyawan, maupun kepala sekolah.
Dengan beragam kegiatan yang dapat dilakukan pada program Mabit mulai dari shalat berjamaah, ceramah keagamaan, permainan, kultum, mujahadah, membaca al-Qur'an, qiyamul lail (shalat Tahajjud), muhasabah (renungan), sampai senam pagi.
Mabit dapat dilakukan di sekolah, masjid yang dapat menampung sejumlah peserta didik, guru, dan karyawan. Biasanya dimulai pada sore hari dan berakhir pagi hari. Diawali dengan shalat Ashar berjamaah, dilanjutkan dengan ceramah keagamaan.
Setelah itu, dapat diadakan semacam permainan (games) yang dapat membangun solidaritas dan kerja sama antarpeserta didik. Akan lebih menarik lagi jika semua guru dan karyawan terlibat dalam games tersebut. Kegiatan ini dilakukan hingga hampir masuk waktu maghrib.
Setelah tiba waktu maghrib, dilaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Kemudian, dilanjutkan pembacaan al-Qur'an hingga saat shalat Isya' tiba. Pasca itu, dapat dilaksanakan kegiatan Kultum (kuliah tujuh menit), kemudian dengan mujahadah.
Kegiatan mujahadah ini dilakukan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah Swt. agar peserta didik, kepala sekolah, guru, dan karyawan selalu diberikan keteguhan iman, sehingga dapat terhindar dari perilaku-perilaku negatif. Ketika bermujahadah memohon agar selalu diberikan kemudahan untuk menuntut ilmu.
Termasuk, bisa memohon agar senantiasa diberikan petunjuk untuk menjalani kehidupan sehari hari agar menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah, serta selalu mendapatkan ridha Allah Swt.
Baru setelah itu, peserta Mabit istirahat (tidur). Peserta didik dibangunkan pada sepertiga malam terakhir (sekitar pukul 03.00) untuk melaksanakan qiyamul lail (shalat Tahajjud) secara berjamaah.
Shalat Tahajjud memang sangat dianjurkan dalam Islam karena berpahala besar. Apalagi, doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam terakhir, Insya Allah, akan dikabulkan oleh Allah Swt. Kegiatan qiyamul lail ini dirangkai dengan muhasabah (renungan) dan doa bersama hingga waktu subuh tiba. Setelah shalat Subuh berjamaah, selesai dzikiran, bisa diselingi dengan kuliah subuh yang diisi oleh guru atau kepala sekolah. Setelah itu, kegiatan Mabit ditutup.
Uniknya, program Mabit banyak dilakukan oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Tujuannya untuk memberikan bekal ruhiyah bagi mahasiswa baru. Biasanya, kegiatan ini dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Rohis (keruhanian Islam). Kegiatan Mabit sangat besar manfaatnya bagi perkembangan ruhiyah peserta didik, sehingga bagus untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun tingkat lanjut. (Erwin Widiarsowo, 2020: 73-75)
Mari bandingkan dengan buku Cerita Kita (Kumpulan Cerpen G-26) yang terdapat tulisan Mabit di Sekolah karya Adilla Maika Putri Budi Darmo. Tak seperti hari-hari biasanya hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu karna hari ini ada kegiatan Mabit (malam bina Islam dan takwa) di sekolah. Sejak malam sudah mampersiapkan perlengkapan untuk acara mabit, sangat bersemangat sekali untuk acara mabit tersebut. Ada banyak kisah seru yang dialami pada hari mabit.
Setelah selesai belajar, pulang ke rumah untuk mandi dan mengambil barang yang sudah disiapkan untuk acara mabit. Buru-buru karena langit terlihat mendung seperti mau hujan dan karena waktu yang sedikit untuk mandi. Tetapi setelah sampai ke sekolah ternyata baru ada tiga orang teman yang hadir di kelas, rasanya tenang hati karena tidak telat sampai disekolah.
Sampainya di kelas bertemu Ica, “Adilla, kamu bawa cemilan apa saja?".
"Bawa chiki dan coklat" katanya.
Setelah itu, mengambil makanan ringan untuk dimakan di kelas sambil menunggu waktu acara dimulai. Menjelang maghrib acara dimulai dan seluruh siswa berkumpul ke ruang Aula sekolah. Di acara itu kami mendapat sambutan dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dan melakukan pembacaan Al-Quran dan Al-Ma'surat bersama-sama. Lalu kami melakukan salat maghrib berjamaah.
Selesai shalat, kita makan malam bersama. Makanannya sangat enak sekali. Selesai Salat kami kembali ke Aula untuk salat isya dan mendengarkan ceramah. Sedih mendengarkan ceramah tersebut karena tentang orang tua. Seluruh siswa-siswi menangis mendengar ceramah tersebut, kami teringat orang tua di rumah. Kami saling berpelukan.
Selesai acara inti mabit kami kembali ke kelas untuk beristirahat tidur, di kelas kami tidak langsung tidur tapi mengobrol dan makan camilan yang kami bawa dari rumah. Sangat seru karena kami sempat bermain UNO dan teka-teki, tidak terasa ternyata waktu sudah sangat malam akhirnya kami mencoba untuk tidur.
Subuh tiba, kami bangun pada jam tiga pagi dan melakukan salat tahajud dengan dilanjutkan salat subuh. Kami membicarakan tenang materi tadi malam dengan guru pembina, setelah itu kami senam dan dilanjutkan dengan sarapan pagi. Acara selesai dan kami pulang.
Sungguh sangat senang sekali dengan adanya acara mabit ini. Menambah pengalaman di sekolah dan bisa berkumpul dan tidur bersama teman-teman di sekolah. Rasanya sangat tidak sabar mengikuti mabit dilain kesempatan. (Siswa Siswi SDIT Thariq Bin Ziyad - Pondok Hijau Permai, 2025: 72-73)
Malam memiliki suasana yang berbeda. Saat aktivitas harian mulai mereda, seseorang (hamba) memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam dirinya, dan mendengarkan (relung) suara hati yang kerap tenggelam oleh hiruk-pikuk keseharian.
Mabit membawa kesempatan itu ke dalam dunia anak-anak. Apalagi waktu salat berjamaah, doa, tilawah, dan kegiatan refleksi, anak-anak diajak membangun kedekatan dengan Allah SWT. Iman tidak hanya dikenalkan sebagai pengetahuan yang dihafal, nasihat yang didengar, tetapi sebagai pengalaman yang dihidupi melalui kebiasaan dan tindakan nyata.
Tentunya, iman tidak tumbuh dalam satu malam. Akhlak, kepribadian, karakter tidak terbentuk hanya karena seseorang mengikuti satu kegiatan. Keduanya membutuhkan proses panjang, keteladanan, pendampingan, dan pembiasaan yang berkelanjutan yang dimulai dari rumah, keluarga.
Ya, setiap perjalanan selalu memiliki titik awal memulai. Terutama, bagi anak-anak, malam Mabit menjadi salah satu titik (fase) itu, saat belajar beribadah bersama teman-temannya, menahan rindu kepada rumah, mengurus keperluannya sendiri, menyadari untuk menjadi orang baik bukan hanya tentang dirinya, melainkan tentang bagaimana memperlakukan orang lain.
Dalam momentum berharga itu, pendidikan spiritual bertemu dengan pendidikan karakter. Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dan melengkapi satu sama lain.

Masjid, Ruang Perjumpaan Jadi Muslim Autentik
Pilihan Masjid Raya Al-Jabbar sebagai tempat menghadirkan (kerinduan) suasana yang berbeda dari Mabit di sekolah. Anak-anak tidak hanya menjalani aktivitas keagamaan di lingkungan yang akrab, tetapi berkesempatan merasakan atmosfer dari masjid raya yang menjadi salah satu ikon Kota Bandung dan Jawa Barat.
Ingat, pada hakikatnya, masjid, bukan hanya bangunan untuk menunaikan ibadah. Justru menjadi ruang perjumpaan, tempat orang-orang dari latar belakang berbeda berdiri dalam saf yang sama, menundukkan kepala dalam doa yang sama, dan mengingat kebesaran di hadapan Allah Swt, manusia tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya kedudukan duniawi.
Untuk anak-anak, pengalaman berada di masjid raya dapat membuka pemahaman tentang kehidupan beragama memiliki dimensi personal dan sosial. Ibadah mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta, dan akhlak menghubungkan manusia dengan sesamanya.
Waktu bermabit di Al-Jabbar, anak-anak dapat diajak memahami untuk menjadi Muslim bukan hanya soal rajin beribadah, melainkan tentang belajar jujur, menjaga kebersihan, menghormati orang lain, menepati janji, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Kesalehan yang tumbuh di dalam diri semestinya menemukan jalannya dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang terlihat dari tutur kata, pilihan tindakan, kesediaan membantu, maupun kemampuan menjaga amanah.
Masjid menjadi tempat untuk mengingat Allah. Perjalanan menuju dan selama berada di dalamnya dapat menjadi kesempatan untuk belajar arti pentingnya diri sendiri dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Aa Akil bercerita setelah selesai acara Mabit. “Bah ada yang bikin Aa senang banget waktu dapat materi motovasi dari Kak Abdillah!”
“Kunaon emang A! tanyaku.
“Ya, disela-sela materi disampaikan perjalanan kuliah Kak Abdillah itu S1 dari UIN, S2-nya dari Malaysia. Babah kenal ga?”
Sambil mencari foto Kak Abdillah di medsosnya. Pikiran melayang pada awal-awal pernikahan tahun 2008-an yang masih sering ngumupul bareng dengan mahasiswa, kongres (ngawangkong hente beres-beres) semalam suntuk dengan pejuang nilai, skripsi.
“Nu ieu sanes A!” jelasku.
"Iya, orangnya itu waktu ngisi motivasi, Aa ingin terus belajar dan sekolah yang tinggi ya Bah!"
“Muhun. Eta mah Kak Abdilah kantos sakosan waktu di Pa H! ucapku.
"Aa tidak ingat, Bah!"
"Nya pan masih alit, da nu sering diajak maen mah Kaka Fia!"

Memang pendidikan seharusnya dimulai dari rasa ingin tahu, pengalaman yang menggembirakan, dan kesempatan untuk menemukan makna sedikit demi sedikit.
Bila orang dewasa boleh berbicara panjang tentang visi pendidikan, pembangunan karakter, dan masa depan generasi. Maka untuk anak-anak, nilai-nilai itu perlu hadir dalam sesuatu yang dapat dialami secara langsung. Mulai dari salat yang dilakukan bersama, makanan yang disiapkan bersama, malam yang dilewati jauh dari rumah, sampai teman yang dibantu saat menghadapi kesulitan.
Walhasil, Mabit bukan sekadar bermalam. Camping tidak sekadar mendirikan tenda (berkegiatan) di luar ruang kelas. Al-Jabbar bukan sekadar tempat yang berbeda dari sekolah. Semuanya dapat menjadi bagian dari perjalanan (ruhani) belajar tentang iman, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Sungguh malam itu, di tengah-tengah udara Cibiru yang gerah, mari kita menyadari ihwal tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.
Baca Juga: Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon
Pasalnya, kita tidak sedang membesarkan anak-anak hanya agar kelak menjadi orang yang pintar. Justru sedang mendampingi mereka agar tumbuh menjadi manusia yang mengenal dirinya, Tuhannya, yang mampu berdiri di atas tanggung jawabnya sendiri, dan tidak lupa mengulurkan tangan peduli, berbagi terhadap sesama.
Bila suatu malam di Al-Jabbar kelak meninggalkan satu kenangan baik di hati anak, mudah-mudahan kenangan itu tumbuh subur menjadi sesuatu yang lebih besar daripada kegembiraan mengikuti kegiatan di luar sekolah (masjid).
Semoga aktivitas ini menjadi benih-benih kebaikan yang terus hidup, tumbuh. Pendidikan itu pekerjaan menanam benih. Tumbuhnya pohon membutuhkan waktu, kesabaran, dan perawatan. Dengan demikian, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang ke mana anak-anak pergi, melainkan tentang aktivitas (kebaikan) apa yang perlahan-lahan tumbuhkan dalam dirinya. (*)