Bandung Kota Jamu sesungguhnya bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Jauh sebelum minuman herbal dikemas modern dan disajikan di kafe, Kota Bandung telah memiliki jejak sejarah jamu melalui sosok Inggit Garnasih. Perempuan yang pernah mendampingi Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, itu dikenal bukan hanya karena perannya dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga karena keterampilan meracik jamu dan mengembangkan usaha rumahan.
Kisah Inggit Garnasih memperlihatkan bahwa jamu memiliki dua dimensi penting. Pertama, sebagai bagian dari tradisi pemeliharaan kesehatan masyarakat. Kedua, sebagai sumber penghidupan dan kekuatan ekonomi keluarga. Dari dapur dan peralatan sederhana, termasuk coet atau cobek untuk menumbuk bahan ramuan, usaha jamu menjadi bagian dari perjalanan hidup seorang perempuan yang turut menopang perjuangan bangsa.
Berbagai catatan biografis mengenai Inggit menyebutkan keterampilannya membuat ramuan tradisional, bedak dingin, dan produk perawatan tubuh. Ia juga menjahit serta meracik rokok kawung untuk menambah penghasilan keluarga. Ketika mendampingi Soekarno dalam masa perjuangan, termasuk saat pengasingan, kemampuan mengolah bahan-bahan tradisional menjadi bagian dari kecakapan hidup yang dimilikinya.
Peran tersebut layak dikenang dalam upaya membangun Bandung sebagai kota yang menghargai warisan jamu. Bukan sekadar menjadikannya simbol nostalgia, melainkan mengembangkan tradisi tersebut menjadi gerakan kebudayaan, kesehatan, dan ekonomi kreatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Jamu, Warisan Budaya yang Mendunia
Pengakuan internasional terhadap jamu semakin memperkuat alasan untuk mengembangkan potensi tersebut. Pada 2023, UNESCO menetapkan budaya kesehatan jamu Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak benda pada Daftar Representatif Warisan Budaya Tak benda Kemanusiaan.
Pengakuan ini bukan semata-mata penghargaan terhadap minuman herbal. Budaya jamu mencakup pengetahuan mengenai tanaman, keterampilan meracik, pewarisan tradisi antargenerasi, serta hubungan sosial antara peracik dan penggunanya. Dengan demikian, pelestarian jamu juga berarti menjaga pengetahuan lokal dan membuka peluang ekonomi bagi petani rempah, peracik, serta pelaku usaha kecil.
Bandung memiliki modal untuk mengembangkan ekosistem tersebut. Kota ini dikenal dengan kreativitas kuliner, budaya nongkrong, komunitas anak muda, dan tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jamu dapat masuk ke dalam kehidupan perkotaan tanpa harus kehilangan identitas tradisionalnya.
Paduan Rempah, Contoh Inovasi UMKM Bandung
Salah satu contoh inovasi tersebut ialah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya di Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Berangkat dari kecintaan terhadap jamu tradisional, usaha ini mengembangkan rempah menjadi minuman cair siap konsumsi dalam kemasan botol berukuran 250 mililiter dan satu liter. Pendekatan tersebut menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan minuman praktis tanpa harus menumbuk atau merebus rempah sendiri.
Paduan Rempah menawarkan delapan varian, antara lain Sereh Harum, Kuseja yang memadukan kunyit, serai, jahe, dan asam jawa, serta Rosella Bloom. Produk tersebut menggunakan madu sebagai pemanis dan dikembangkan dengan pendekatan kemasan modern.
Dalam sekitar delapan bulan sejak dirintis, Paduan Rempah dilaporkan telah memiliki 16 mitra di Bandung dan Cimahi. Usaha ini juga disebut meraih juara pertama kategori UMKM dalam rangkaian Hari Jadi Kota Bandung ke-216 pada 2026. Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan tradisional dapat dipadukan dengan kreativitas bisnis untuk memperluas pasar.
Meski demikian, klaim bahwa suatu minuman mampu melakukan detoksifikasi, menyembuhkan peradangan, atau memperbaiki fungsi organ tidak boleh hanya didasarkan pada komposisi rempahnya. Keberhasilan usaha dan manfaat kesehatan merupakan dua hal berbeda yang perlu dinilai dengan ukuran masing-masing.
Dari Jamu Gendong ke Kafe Herbal
Transformasi jamu juga terlihat dari perubahan cara penyajiannya. Jamu yang dahulu identik dengan penjual berkeliling dan minuman berwarna pekat kini hadir dalam kemasan modern, menu kafe, hingga berbagai kreasi minuman dingin.
Kafe Acaraki, yang dikenal mengembangkan penyajian jamu dengan teknik modern, merupakan salah satu contoh upaya memperkenalkan kembali minuman tradisional kepada konsumen perkotaan. Penyajian yang menarik, penjelasan mengenai bahan, dan pengalaman menikmati minuman menjadi bagian dari strategi membangun minat generasi muda.

Kreativitas bahkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara usaha jamu dan usaha kuliner lainnya. Jamu beras kencur, kunyit asam, atau temulawak, misalnya, dapat dieksplorasi sebagai bahan kreasi minuman maupun pendamping hidangan pencuci mulut. Perpaduan dengan es krim dapat menjadi inovasi menarik selama cita rasa, keamanan pangan, kandungan gula, dan karakter produk tetap diperhatikan.
Pendekatan ini dikenal sebagai co-creation, yakni penciptaan nilai melalui kolaborasi antarpelaku usaha. Dengan cara tersebut, jamu tidak harus bersaing dengan minuman modern, tetapi dapat masuk ke dalam tren kuliner baru dengan identitasnya sendiri.
Membaca Jamu dari Perspektif Ilmiah
Perkembangan jamu masa kini perlu berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan. Berbagai penelitian telah mengidentifikasi senyawa bioaktif dalam tanaman yang lazim digunakan sebagai bahan jamu, seperti kurkuminoid pada kunyit, gingerol pada jahe, serta senyawa fenolik pada rosela.
Sejumlah penelitian laboratorium dan praklinis menunjukkan potensi aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dari bahan-bahan tersebut. Namun, hasil penelitian pada sel atau hewan tidak otomatis membuktikan bahwa minuman jamu yang dikonsumsi sehari-hari memiliki khasiat klinis yang sama pada manusia.
Tinjauan sistematis mengenai jamu yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan adanya bukti farmakologis awal untuk sejumlah ramuan, tetapi menekankan bahwa penelitian klinis berkualitas tinggi dengan jumlah peserta yang memadai masih diperlukan. Komposisi, dosis, metode pengolahan, dan keamanan produk menjadi faktor penting dalam menilai manfaatnya.
Di Indonesia, pengembangan obat bahan alam mengenal tiga kategori penting, yakni jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Jamu bertumpu pada bukti empiris penggunaan tradisional, sedangkan OHT memerlukan standardisasi bahan baku dan bukti praklinis. Fitofarmaka memiliki persyaratan pembuktian klinis yang lebih tinggi. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi dan sains dapat saling melengkapi, tanpa harus mencampuradukkan tingkat bukti yang tersedia.
Karena itu, pelaku usaha jamu perlu memperhatikan kebersihan bahan, konsistensi formulasi, keamanan produksi, pelabelan, serta ketentuan perizinan yang berlaku. Konsumen pun perlu memahami bahwa bahan alami tidak selalu bebas risiko, terutama bagi orang yang memiliki penyakit tertentu atau sedang menggunakan obat medis.
Baca Juga: Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?
Menuju Bandung Kota Jamu
Mewujudkan Bandung Kota Jamu memerlukan kerja sama pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas budaya, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Pemerintah dapat mendorong pendataan pelaku usaha jamu, pelatihan keamanan pangan, penguatan pemasaran digital, serta kemitraan dengan petani rempah.
Perguruan tinggi dapat membantu menguji mutu produk, meneliti kandungan bahan, dan mengembangkan inovasi yang bertanggung jawab. Sementara itu, komunitas budaya dapat mendokumentasikan sejarah peracik jamu, termasuk warisan Inggit Garnasih, agar pengetahuan tersebut tidak terputus dari generasi muda.
Mewujudkan Bandung Kota Jamu bukan hanya tentang banyaknya kedai herbal atau ragam minuman yang dijual. Maknanya lebih dari itu, gagasan ini menyatukan pelestarian budaya, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan perempuan, dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Dari tangan Inggit Garnasih hingga kreativitas UMKM seperti Paduan Rempah, terdapat benang merah yang patut diteruskan. Keniscayaan, pengetahuan tradisional dapat menjadi kekuatan apabila dirawat, dikembangkan, dan dipertanggungjawabkan. Dengan greget tersebut, Bandung berpeluang menjadikan jamu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan kota yang sehat, kreatif, dan berdaya saing. (SRI)