Ayo Netizen

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kabut air untuk ruang terbuka untuk atasi temperatur ekstrem (Sumber: foto: Pexels)

Bandung yang dahulu dikenal sebagai kota berhawa sejuk kini semakin sering menghadapi cuaca panas yang menyengat. Dalam beberapa hari terakhir, teriknya matahari terasa mengganggu aktivitas warga, terutama mereka yang bekerja atau beraktivitas di ruang terbuka. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kenyamanan kota tidak lagi cukup mengandalkan udara pegunungan dan pepohonan, tetapi juga membutuhkan inovasi untuk menghadapi perubahan iklim.

Data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu maksimum Kota Bandung diperkirakan mencapai 32 derajat Celcius pada 17 Oktober 2026 dan 33 derajat Celcius pada sejumlah hari berikutnya. Pada 20–21 Oktober, beberapa wilayah Kota Bandung bahkan diperkirakan mengalami suhu maksimum sekitar 31–34 derajat Celcius, bergantung pada kecamatan. Angka tersebut merupakan prakiraan suhu udara, bukan seluruhnya hasil pengukuran aktual di lapangan.

Pada skala yang lebih luas, BMKG melaporkan suhu maksimum mencapai 38,5 derajat Celcius di sejumlah wilayah Jawa Barat pada 17 Oktober 2026. Angka tersebut tidak mewakili suhu Kota Bandung, tetapi memperlihatkan betapa kuatnya kondisi panas yang melanda sebagian wilayah provinsi ini.

Cuaca panas tersebut berlangsung ketika Indonesia menghadapi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Dalam pemantauan awal Oktober 2026, BMKG mencatat anomali suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 mencapai positif 3,33 derajat Celcius dan indeks ENSO tiga bulanan sebesar positif 3,08. Bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD, kondisi ini berkontribusi terhadap berkurangnya potensi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

El Niño bukan satu-satunya faktor yang menentukan suhu di Bandung. Minimnya tutupan awan, intensitas radiasi matahari, kelembaban, serta karakter lingkungan perkotaan turut mempengaruhi rasa panas yang dialami masyarakat. Permukaan aspal dan beton menyerap serta menyimpan panas, sementara kawasan yang minim pepohonan memiliki lebih sedikit perlindungan dari paparan matahari langsung.

Situasi tersebut menuntut pemerintah kota untuk memikirkan langkah adaptasi yang konkret. Salah satu gagasan yang layak diuji adalah pemanfaatan teknologi kabut air atau water misting di sejumlah ruang publik.

Kabut Air untuk Ruang Publik

Sebagai Insinyur saya punya inisiatif atau usulan kepada Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara. Ketika butiran tersebut menguap, proses penguapan menyerap panas dari lingkungan sehingga berpotensi meningkatkan kenyamanan termal. Efektivitasnya dipengaruhi oleh kelembapan udara, suhu, pergerakan angin, ukuran butiran air, dan rancangan instalasi.

Di Kota Bandung, teknologi ini dapat diuji atau diterapkan pada lokasi yang tepat, seperti area tunggu terminal, pasar tradisional, halte, kawasan pedestrian, dan ruang terbuka yang memiliki naungan. Tempat-tempat tersebut sering digunakan warga untuk menunggu kendaraan, berbelanja, atau menjalankan aktivitas harian di tengah cuaca panas.

Penerapannya perlu dirancang dengan cermat. Sistem kabut air tidak otomatis membuat seluruh kawasan menjadi sejuk, terlebih ketika kelembaban tinggi atau angin membawa butiran air menjauh dari area sasaran. Karena itu, uji coba perlu disertai pengukuran suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan persepsi kenyamanan pengguna.

Pemerintah Kota Bandung dapat memulai proyek percontohan di satu atau dua titik yang ramai dikunjungi masyarakat. Sensor sederhana dapat digunakan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah sistem beroperasi. Evaluasi juga perlu mencakup konsumsi air dan listrik, biaya perawatan, kebersihan nozel, serta risiko genangan.

Keselamatan Tidak Boleh Diabaikan

Penggunaan kabut air di dekat jalan raya harus mempertimbangkan keselamatan pengguna jalan. Butiran air tidak boleh membuat permukaan jalan licin, mengganggu jarak pandang pengemudi, atau membasahi instalasi listrik. Karena itu, pemasangan sebaiknya diprioritaskan pada area tunggu pejalan kaki yang terpisah dari jalur kendaraan dan memiliki sistem drainase yang baik.

Di area parkir bawah tanah, pendekatannya harus berbeda. Ruang tertutup membutuhkan sirkulasi udara yang memadai, sistem pembuangan gas kendaraan, serta pemantauan karbon monoksida. Penyemprotan kabut air bukan solusi utama untuk mengatasi panas di tempat seperti ini karena dapat meningkatkan kelembaban, membasahi lantai, dan menimbulkan persoalan pada peralatan listrik. Ventilasi mekanis, kipas pembuangan, dan pengelolaan udara yang baik lebih penting.

Di pasar, terminal, dan stasiun, kabut air dapat dipadukan dengan kanopi, kipas, ventilasi silang, dan tempat duduk yang teduh. Pendekatan kombinasi akan lebih bermanfaat daripada mengandalkan satu teknologi saja.

Ilustrasi menata kota Bandung untuk mengatasi tenmperatur ekstrim (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Menata Kota yang Lebih Tahan Panas

Teknologi kabut air seharusnya menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk menghadapi peningkatan suhu perkotaan. Penanaman dan pemeliharaan pohon peneduh tetap penting karena tajuk pohon mengurangi paparan radiasi matahari, sedangkan proses evapotranspirasi membantu mendinginkan lingkungan. Trotoar yang teduh, atap bangunan yang memantulkan panas, ruang terbuka hijau, serta akses transportasi umum yang nyaman juga perlu menjadi prioritas.

Di tengah El Nino yang sangat kuat, pemkot perlu memperhatikan kelompok yang paling rentan terhadap panas, termasuk pekerja lapangan, pedagang, lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki keterbatasan akses terhadap ruang sejuk. Penyediaan air minum, tempat berteduh, informasi cuaca, serta himbauan untuk mengurangi aktivitas berat saat siang hari tetap diperlukan.

Gagasan kabut air bukanlah jawaban tunggal bagi persoalan panas di Bandung. Namun, apabila diuji secara terukur dan ditempatkan secara tepat, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kenyamanan ruang publik.

Pemkot Bandung perlu mempertahankan reputasinya sebagai kota yang nyaman melalui langkah nyata, bukan sekadar bernostalgia pada kesejukan masa lalu. Saat cuaca panas menjadi tantangan yang semakin serius, perpaduan teknologi, penghijauan, tata ruang yang bijaksana, dan perlindungan terhadap warga menjadi kunci membangun kota yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. (TS)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam