Ayo Netizen

Persembahan untuk Lembang

Oleh: Malia Nur Alifa
Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)

Persentuhan pertama saya dengan Lembang adalah ketika harus mengikuti almarhumah ibu bekerja di salah satu balai pertanian di utara Lembang sejak 1981. Karena dahulu domisili kami sekeluarga adalah di jantung Kota Bandung, yaitu di kawasan perkampungan tua di barat Braga. Tatkala saat kecil aku tidak ada yang menjaga, akhirnya ibu membawa saya untuk ikut ke Lembang.

Saat itu jalur Bandung–Lembang belum sepadat sekarang, malahan terbilang sangat lengang. Apabila sekarang angkutan umum sering “ngetem” untuk mencari penumpang, dahulu di tahun 1990-an, kamilah yang berebut angkutan umum. Lumayan lama sekali menunggu kedatangan angkutan tersebut di kawasan Viaduct, Bandung, karena armadanya masih sangat sedikit, sedangkan penumpangnya banyak, maklumlah dahulu belum banyak ojek online dan warga masyarakat pun masih sedikit yang memiliki kendaraan bermotor.

Dalam perjalanan ke Lembang, terkadang angkutan umum tersebut berhenti sebentar di kawasan terminal Ledeng, untuk berganti sopir dan saya terkesima dengan bangunan Villa Isola yang megah dan memiliki arsitektur unik, yang ada di kepala saya sebagai anak-anak saat itu adalah, gedungnya seperti kue ulang tahun raksasa. Dalam perjalanan yang berkelok-kelok ke Lembang kami akan disuguhkan banyak bangunan tua peninggalan Belanda, seperti rumah-rumah indah yang berhalaman luas yang salah satunya dijadikan Hotel Abadi Asri.

Memasuki Lembang mata kita akan dimanjakan dengan keadaan kawasan pedesaan yang hening dan ramah. Bila kita beradu pandang dengan warga Lembang, senyum dan sapaan hangat adalah sebuah tradisi yang sangat lekat. Hawa dingin dan berkabut bahkan hingga pukul 9 pagi pada tahun 90-an, kabut masih sangat tebal, di ujung Jalan Raya Lembang banyak sekali penjual ketan dan jagung bakar, terkadang diselingi oleh penjual angklung yang terus memainkan lagu-lagu daerah, menambah kesan yang tak terlupakan.

Tahun 1994 saya dan keluarga resmi pindah ke Lembang, karena rumah kami di Braga mengalami musibah kebakaran, terkadang dalam benak ini berkata, apabila musibah kebakaran itu tidak pernah terjadi, mungkin saya tidak akan pernah menjadi warga Lembang. Memang selalu ada hikmah di balik setiap keadaan yang terkadang baru kita sadari setelah melewatinya cukup lama.

Saat itu saya bersekolah di SMPN 1 Lembang, sebuah sekolah menengah yang memakai gedung tua peninggalan Belanda. Sejak sekolah dasar memang saya selalu bersekolah di sekolah yang menempati bangunan tua, sekolah dasar saya adalah SDN Merdeka 5 Bandung, yang memang telah menjadi sekolah khusus pribumi sejak zaman penjajahan Belanda.

Lembang di masa remaja saya adalah sebuah tempat yang damai, dingin, hening dan sebuah tempat yang bangun lebih awal. Karena sejak pukul 3 pagi kawasan ini telah hidup oleh warganya yang menyambangi pasar tradisional untuk menjual hasil kebun mereka, oleh karena itu harga sayuran jauh lebih murah di Lembang. Selain itu para peternak sapi yang sejak sebelum terdengar suara adzan subuh telah membersihkan kandang-kandang sapi dan kambing mereka, dilanjutkan dengan menyetorkan susu hasil pemerahannya kepada mobil-mobil tangki susu yang telah menunggu di beberapa tempat penyetoran. Kebetulan di dekat rumah terdapat satu tempat penyetoran susu yang lumayan cukup besar. Pemandangan indah dan membumi ini yang mengiringi kehidupan remaja saya, yang sebelumnya terbiasa dengan hingar-bingar Braga, kini harus menetap di kawasan membumi yang hijau.

Apabila akhir pekan saya dan adik perempuan saya sering sekali menaiki kuda pacu di kawasan Baru Ajak. Kami berkeliling hingga kawasan peneropongan bintang Bosscha dan berakhir di Situ Umar yang sangat indah. Sepanjang mata memandang adalah kebun hijau, diselingi kandang-kandang sapi Baru Ajak, diselingi juga beberapa warga yang mulai memancing di Situ Umar. Ada beberapa warga yang menaiki rakit untuk membersihkan eceng gondok dan menangkap ikan. Situ Umar saat itu adalah kawasan indah dengan air yang jernih dan kabut tipis di atasnya.

Namun, kini setelah 32 tahun berlalu, Lembang semakin kehilangan jati dirinya. Warga yang sibuk lupa menyapa hangat, bahkan mereka berlomba dengan sepeda motornya, berderu dengan waktu yang terasa semakin cepat. Para warga semakin enggan menanam sayuran dan beternak karena anak turun mereka lebih memilih menjadi pengusaha atau kerja kantoran, pada akhirnya para warga pun menyerah akan keadaan zaman, dan mengubah kebun sayur dan kandang-kandang ternak mereka menjadi vila atau homestay bagi para pelancong. Situ Umar yang indah dan membumi kini berganti menjadi kawasan Floating Market Lembang, di mana merupakan pusat hiburan bagi warga luar Lembang, namun merenggut keindahan yang biasa dinikmati warga lokal. Kawasan tempat saya berkuda pun kini akan mulai dibangun perumahan bahkan kawasan Grand Hotel Lembang yang menenangkan kini akan bertransformasi untuk menjadi pusat otomotif terbesar di Asia Tenggara, Utopia Park.

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya. Kini, Lembang hanyalah kawasan yang sesak, kemacetan, banjir, kecelakaan lalu lintas, semua ada menjadi satu. Apakah terbersit untuk bertanya pada Lembang itu sendiri, apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu merindukan dirimu yang dahulu?

Sejak 2009 saya mulai meriset sejarah Lembang, dan kini telah tertuang dalam beberapa karya buku yang saya terbitkan sendiri secara independen dengan penerbitan saya sendiri yang dirintis sejak 2023, semoga Lembang lekas pulih dan kembali ke keadaan sedia kala, agar generasi muda dapat menikmati indahnya Lembang yang sesungguhnya. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam