Kamp Konsentrasi Jepang di Lembang

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Nisan para korban kekejaman Jepang (dari Kamp Lembang) yang berlokasi di Ereveld Ancol, Jakarta. (Foto: Anggara)
Nisan para korban kekejaman Jepang (dari Kamp Lembang) yang berlokasi di Ereveld Ancol, Jakarta. (Foto: Anggara)

Kamp konsentrasi Jepang atau kamp interniran adalah tempat penahanan yang didirikan oleh tentara Kekaisaran Jepang pada masa Perang Dunia II (1942–1945). Di Pulau Jawa khususnya adalah periode sangat sulit bagi orang-orang yang berkebangsaan musuh dari Kekaisaran Jepang. Kehidupan mereka menjadi buruk ketika pemerintahan Dai Nippon mengharuskan mereka masuk ke dalam kamp-kamp interniran.

Kehidupan di dalam kamp sangatlah berbanding terbalik dengan kehidupan warga Eropa khususnya dalam masa normal (sebelum Jepang datang). Kondisi para tahanan tersebut sangatlah buruk, mereka rentan terkena penyakit karena kondisi kamp yang sangat memprihatinkan. Hal itu diperparah dengan asupan makanan mereka yang sangat minim gizi dan tidak higienis. Dengan kondisi seperti itu sudah barang tentu angka kematian di kamp-kamp interniran atau konsentrasi Jepang di Pulau Jawa khususnya sangatlah tinggi.

Tidak terpenuhinya kebutuhan primer para tawanan kamp interniran atau konsentrasi Jepang merupakan salah satu cerminan kondisi Jepang yang saat itu berangsur-angsur terdesak dengan gempuran dari Sekutu, sehingga kebutuhan akomodasi seperti makanan dan obat-obatan tersedot ke para prajurit Jepang itu sendiri, sehingga bisa dibayangkan bagaimana mirisnya kondisi di dalam kamp.

Belum lagi para tahanan kamp interniran atau konsentrasi Jepang ini bergulat dengan akomodasi yang carut marut, mereka juga harus berjuang agar mental mereka tetap stabil. Dua kata yang terlintas dari beberapa narasumber saya yang mengalami langsung hidup di dalam kamp interniran adalah “membingungkan dan mengerikan”, kondisi ini akan terus membekas di dalam benak mereka.

Penyiksaan demi penyiksaan pun kerap terjadi di dalam kamp, terutama kamp laki-laki dewasa. Mode interogasi Kempeitai atau polisi militer Jepang adalah meliputi metode Waterboarding (penggenangan air ke saluran pernapasan), penyetruman, pencabutan kuku, hingga pemukulan secara brutal.

Selain itu sebagian dari para tahanan itu dipaksa untuk menjadi Romusha. Mereka membangun infrastruktur militer tanpa alat pelindung dan kerap mendapatkan siksaan para mandor. Yang paling mengenaskan adalah pembangunan jalur kereta api Burma-Thailand yang menewaskan ribuan tawanan perang.

Hal yang paling sering terjadi adalah hukuman disiplin yang ekstrem, seperti karena kesalahan-kesalahan kecil, salah satunya terlambat melakukan upacara Seikerei (membungkuk menghormati kaisar Jepang ke arah matahari terbit). Biasanya hukumannya adalah dijemur berjam-jam di bawah sinar matahari langsung. Yang paling terkenal adalah kejahatan seksual yang dilakukan para tentara Jepang kepada para wanita, untuk dijadikan Comfort Woman atau Jugun Ianfu.

Di Pulau Jawa, kamp interniran atau konsentrasi Jepang yang paling mengerikan adalah kamp konsentrasi Cideng yang ada di Jakarta Pusat. Kamp tersebut dipimpin oleh kapten Kenichi Sonei yang terkenal sangat sadis. Dan kamp Cideng ini adalah kamp khusus bagi para wanita dan anak-anak. Kamp ini sangat sesak, bayangkan sebuah lahan yang tidak terlalu besar harus menampung 10.000 tahanan wanita dan anak-anak.

Buku yang mencatat dengan rinci tentang kamp interniran Jepang di Lembang. (Sumber: Istimewa)
Buku yang mencatat dengan rinci tentang kamp interniran Jepang di Lembang. (Sumber: Istimewa)

Di Bandung, kamp interniran atau konsentrasi Jepang terbesar khusus anak-anak dan wanita adalah Blomenkamp yang ada di kawasan Cihapit, setali tiga uang dengan kamp Cideng, mereka juga harus tinggal dalam lokasi perumahan yang tidak memadai.

Hingga akhirnya saya menemukan data bahwa di Lembang dalam periode pendudukan Jepang pun ternyata terdapat kamp interniran atau konsentrasi Jepang. Saya mendapatkan informasi ini bertahap dalam masa riset di 2009 hingga 2022. Terdapat dua orang narasumber yang pernah tinggal di kamp interniran atau konsentrasi Jepang di Lembang. Mereka saat itu baru berusia sekitar 9 tahun (seorang anak keturunan Belanda), dan yang satu lagi adalah anak pribumi yang saat itu berusia 12 tahun yang bertugas di kebun-kebun sayur sekitar kamp.

Dari dua narasumber ini diketahui bahwa kamp interniran atau konsentrasi Jepang di Lembang berada di kawasan N.V. Baroe Adjak. Tepatnya di 4 gedung utama (berjajar 3 rumah setelah kawasan Piknik Kopi Lembang sekarang), sayangnya salah satu gedung telah roboh sekarang.

Data lainnya saya dapatkan dari sebuah buku yang berjudul “Geillustreerde Atlas Van de Bersiapkampen in Nederlands-Indie 1945–1947”. Dari buku ini diketahui bahwa di Lembang terdapat beberapa rumah atau gedung dalam satu kawasan peternakan dan pertanian yang dijadikan satu buah kamp interniran. Kamp Lembang ini menahan hampir semua warga Eropa yang bermukim di Lembang, dan disatukan antara anak-anak, lelaki dan wanita dalam satu kamp, dan kamp tersebut dipimpin oleh seorang Jepang yang jarang berbicara. Sumber dalam buku ini menuliskan bahwa sumber informasi ini didapat dari laporan mingguan NEFIS pada tanggal 1 bulan April 1946, CAD, AA11 (narapidana ke pabrik kertas Padalarang), Quack, R.B. Laporan Rapwi, Bandung, NIOD, Ic 05493-054946, halaman 64–67.

Dalam buku tersebut mendeskripsikan kesamaan data lisan yang saya dapat dengan kedua narasumber yang saya temui di lapangan. Bahwa keadaan Kamp Lembang saat itu penuh sesak, bahkan ada yang tertidur di pinggiran teras dan kedinginan. Lahan gedung-gedung Baru Ajak tersebut ditutup oleh bilik dan kawat berduri, dan dijaga ketat oleh banyak militer Jepang yang berjaga. Hingga banyak dari para tahanan tersebut yang harus meregang nyawa akibat penyiksaan dan pembunuhan massal di dalam kamp tersebut. Hingga data yang mencengangkan pun saya temui bahwa lahan tempat eksekusi massal itu berada di kawasan peneropongan bintang.

Salah satu sahabat saya yang berdomisili di Jakarta mengunjungi Ereveld Ancol dalam sebuah kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, dan ia menemukan makam-makam dari para korban yang dieksekusi di kawasan peneropongan bintang, Lembang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)