Ayo Netizen

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Oleh: Angga Marditama Sultan Sufanir
Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Ketika memilih tempat tinggal, masyarakat umumnya mempertimbangkan harga rumah, keamanan lingkungan, kelengkapan fasilitas, akses pendidikan, dan kedekatan dengan pusat kegiatan. Namun, ada satu aspek yang tidak kalah penting, yaitu kemudahan penghuni dalam melakukan perjalanan sehari-hari. Rumah yang nyaman belum tentu mendukung mobilitas yang efisien apabila penghuninya harus selalu menggunakan kendaraan pribadi untuk bekerja, bersekolah, berbelanja, atau mengakses layanan publik.

Karena itu, kualitas kawasan hunian tidak cukup dinilai dari bangunan dan fasilitas yang tersedia. Perlu diperhatikan pula bagaimana tata ruang dan sistem transportasinya memungkinkan masyarakat bergerak dengan aman, nyaman, dan efisien.

Kota Baru Parahyangan (KBP) di Kabupaten Bandung Barat dapat menjadi salah satu contoh untuk membahas hubungan antara pengembangan kawasan hunian dan mobilitas berkelanjutan. Perkembangan kawasan ini mendapat apresiasi dari sebagian masyarakat. KBP bahkan kerap disebut sebagai “kota yang dikelola oleh swasta”, sebuah ungkapan yang menggambarkan besarnya peran pengembang dalam membangun dan mengelola kawasan beserta fasilitas pendukungnya.

Kesan positif tersebut dapat menjadi titik awal untuk melihat lebih jauh bagaimana sebuah kawasan hunian dirancang. Namun, apresiasi terhadap fasilitas dan pengelolaan lingkungan perlu dilengkapi dengan penilaian mengenai kemudahan akses, pilihan moda transportasi, dan dampak perjalanan sehari-hari penghuninya.

Tata Ruang Menentukan Kebutuhan Perjalanan

Tata ruang berpengaruh terhadap jarak dan frekuensi perjalanan masyarakat. Ketika perumahan, sekolah, pusat perbelanjaan, tempat kerja, dan fasilitas publik berada berjauhan tanpa dukungan transportasi yang memadai, penghuni cenderung bergantung pada kendaraan pribadi. Sebaliknya, penataan yang mempertimbangkan kedekatan antarfungsi, konektivitas jalan, dan akses terhadap angkutan umum dapat membuka lebih banyak pilihan perjalanan.

Kawasan hunian yang tertata juga perlu menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman. Ketertiban lalu lintas, pengelolaan parkir, serta keberadaan jalur pejalan kaki yang layak merupakan bagian dari kualitas lingkungan, bukan sekadar pelengkap estetika kawasan.

Dalam pengamatan terhadap suatu kawasan, kondisi parkir yang tertib dan tidak didominasi praktik perparkiran liar dapat turut membentuk rasa nyaman. Meski demikian, kenyamanan tidak hanya ditentukan oleh tertib atau tidaknya parkir. Pejalan kaki juga membutuhkan jalur yang tidak terhalang kendaraan, penyeberangan yang aman, penerangan yang memadai, dan akses yang ramah bagi anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas.

Dengan demikian, perencanaan kawasan hunian perlu menghubungkan kualitas ruang dengan kebutuhan mobilitas penghuninya. Lingkungan yang tertata seharusnya tidak hanya nyaman ketika berada di dalam kawasan, tetapi juga memudahkan penghuni mencapai tujuan di luar kawasan.

Jalur pejalan kaki yang mendukung kenyamanan, keselamatan, dan aksesibilitas penghuni kawasan. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Menghubungkan Berjalan Kaki, Bersepeda, dan Angkutan Umum

Mobilitas berkelanjutan tidak berarti menghilangkan kendaraan pribadi. Tujuannya adalah menyediakan pilihan perjalanan yang aman, layak, dan efisien sehingga masyarakat tidak selalu harus mengandalkan mobil atau sepeda motor.

Berjalan kaki dan bersepeda dapat digunakan untuk perjalanan jarak dekat apabila tersedia jalur yang saling terhubung, aman, dan nyaman. Sementara itu, angkutan umum berperan penting untuk perjalanan yang lebih jauh. Ketiga pilihan ini perlu dirancang sebagai satu kesatuan, bukan sebagai fasilitas yang berdiri sendiri.

Layanan free shuttle KBP yang menghubungkan kawasan hunian dengan Stasiun Padalarang untuk mendukung integrasi antarmoda transportasi. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Salah satu aspek penting dalam pengembangan kawasan hunian adalah keterhubungan dengan jaringan transportasi umum. KBP memiliki beberapa pilihan layanan angkutan umum yang menghubungkannya dengan wilayah lain. Di antaranya adalah layanan free shuttle yang menghubungkan kawasan hunian dengan Stasiun Padalarang, serta layanan bus DAMRI dan Metro Jabar Trans yang melayani perjalanan antara KBP dan Kota Bandung.

Keberadaan shuttle menuju Stasiun Padalarang memberikan alternatif bagi penghuni untuk mengakses layanan kereta cepat Whoosh. Sementara itu, DAMRI melayani rute KBP–Alun alun Bandung melalui Tol Pasteur. Metro Jabar Trans juga memiliki Koridor 2 yang menghubungkan KBP-Alun alun Bandung dengan melintasi wilayah Kota Cimahi. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kawasan hunian tidak sepenuhnya terisolasi dari jaringan transportasi umum regional.

Namun, tersedianya beberapa layanan angkutan umum belum otomatis menjamin mobilitas yang berkelanjutan. Kemudahan menjangkau titik keberangkatan, kepastian jadwal, waktu tunggu, kapasitas kendaraan, tarif, serta kesesuaian jam operasional dengan kebutuhan perjalanan merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Penghuni juga perlu memperoleh informasi rute dan jadwal yang mudah diakses agar dapat merencanakan perjalanan dengan baik.

Bus Metro Jabar Trans Koridor 2 yang melayani perjalanan dari KBP menuju Alun-alun Bandung. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Selain itu, perjalanan dari rumah menuju halte atau titik penjemputan shuttle perlu didukung jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman. Hubungan antarlayanan juga perlu diperhatikan, terutama bagi pengguna yang harus berpindah dari bus ke kereta atau sebaliknya. Tanpa konektivitas yang baik pada tahap awal dan akhir perjalanan, masyarakat mungkin tetap memilih kendaraan pribadi karena dianggap lebih praktis.

Dengan demikian, layanan shuttle, DAMRI, dan Metro Jabar Trans perlu dipandang sebagai bagian dari sistem mobilitas yang lebih luas. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh keberadaan armada, tetapi juga oleh kemudahan akses, keandalan pelayanan, dan keterhubungannya dengan moda transportasi lain.

Mengukur Keberhasilan dari Perjalanan Penghuni

Kawasan hunian yang terlihat tertata dan memiliki fasilitas lengkap belum tentu telah mencapai mobilitas berkelanjutan. Keberhasilannya perlu dinilai berdasarkan pengalaman dan perilaku perjalanan penghuni, bukan semata-mata dari tampilan fisik atau jumlah fasilitas yang dibangun.

Penilaian dapat dilakukan melalui beberapa indikator, seperti proporsi perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda, dan berjalan kaki; kemudahan akses menuju fasilitas sehari-hari; kesinambungan jalur pejalan kaki dan sepeda; serta tingkat keselamatan dan kenyamanan pengguna. Untuk layanan shuttle, evaluasi juga perlu mencakup jumlah penumpang, ketepatan jadwal, waktu tunggu, dan sejauh mana layanan tersebut menggantikan perjalanan dengan kendaraan pribadi.

Fasilitas parkir sepeda umum sebagai pendukung mobilitas ramah lingkungan dan penggunaan sepeda di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)

Data tersebut penting untuk membedakan antara fasilitas yang sekadar tersedia dan fasilitas yang benar-benar dimanfaatkan. Hasil evaluasi juga dapat menjadi dasar untuk menentukan perbaikan, baik dalam penataan ruang, pengelolaan parkir, penyediaan jalur aktif, maupun pengembangan layanan angkutan umum.

Pengalaman KBP dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai peran pengembang swasta dalam membentuk lingkungan hunian. Namun, penilaian terhadap keberlanjutan kawasan perlu dilakukan secara menyeluruh dan berbasis data, tanpa hanya bertumpu pada kelengkapan fasilitas atau persepsi kenyamanan.

Pada akhirnya, kawasan hunian yang baik bukan hanya kawasan yang menyediakan rumah dan fasilitas yang menarik. Kawasan tersebut juga perlu memungkinkan penghuninya mencapai berbagai tujuan dengan aman, nyaman, dan efisien, melalui pilihan moda transportasi yang beragam. Perencanaan yang mengintegrasikan tata ruang dan transportasi sejak awal akan membantu menciptakan lingkungan hunian yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga mendukung mobilitas yang lebih berkelanjutan. (*)

Reporter Angga Marditama Sultan Sufanir
Editor Aris Abdulsalam