AYOBANDUNG.ID - Di era digital, kehadiran media tidak lagi selalu identik dengan gedung kantor megah atau portal berita yang rumit. Tren homeless media—media yang hidup dan bertumbuh di platform media sosial—kian menjamur. Salah satunya adalah akun Instagram @beritabandungraya_com, sebuah platform yang lahir dari tangan wartawan yang telah berkiprah sejak 2011, Ahmad Taopik.
Bagi Taopik, jurnalis yang telah malang melintang selama 15 tahun dengan pengalaman di koran cetak hingga televisi lokal, membangun @beritabandungraya_com sejak November 2024 menjadi caranya menciptakan “ruang bermain” yang lebih personal. Bersama rekannya, Raka, ia menjalankan media ini dengan format yang sangat ramping: hanya dua orang.
Memilah Viralitas di Layar Instagram
Sebagai homeless media yang berfokus di Instagram, Taopik dituntut jeli membedakan karakter konten. Baginya, tidak semua informasi harus masuk ke feed. Ada strategi kurasi yang dijalankan demi menjaga kualitas dan engagement.
“Ada berita yang masuk ke online, ada yang cukup di medsos saja. Kalau yang isunya lagi kuat, seperti longsor, itu masuk ke portal. Tapi kalau yang receh-receh, video lucu yang viewers-nya wah, sudah kita ambil buat di medsos (Instagram) saja,” jelas Taopik.
Meski tetap mengejar traffic melalui konten viral, Taopik menerapkan filter yang ketat. Keunikan @beritabandungraya_com terletak pada prinsip “Good News is Good News”. Di tengah tren konten yang kerap menyudutkan pihak tertentu demi angka penonton, ia memilih jalur berbeda.
“Kontennya itu, pertama, tidak menyudutkan orang. Aku menjaga itu. Kita juga tidak terlalu mengejar isu-isu sensitif. Karena kalau aku mau ‘hajar-menghajar’, ada di media sebelah (tempat kerja utama), ada ruangnya sendiri,” tambahnya, menekankan pentingnya etika meski bermain di platform media sosial.

Baca Juga: Saat Homeless Media jadi Rujukan Warga, Cerita di Balik Admin Akun Instagram info.sekeloa
Jurnalisme “Barter” dan Tantangan Dua Personel
Mengelola media sosial hanya berdua tentu bukan perkara mudah. Pembagian tugas dilakukan tegas: Taopik fokus pada penulisan dan relasi, sementara Raka menjadi motor penggerak visual sebagai content creator. Namun, keterbatasan sumber daya manusia kerap menjadi tantangan.
“Tantangannya, kita cuma berdua. Kadang dua-duanya sama-sama sibuk, jadi kurang memantau media sosial dan akhirnya ketinggalan momentum,” ungkap Taopik jujur.
Keterbatasan ini pula yang membuatnya enggan membuka kanal laporan warga secara terbuka. Ia khawatir respons yang lambat (slow response) justru dapat merusak kredibilitas merek yang sedang dibangun.
Menariknya, sebagai media independen yang masih merangkak, @beritabandungraya_com menerapkan sistem ekonomi yang fleksibel. Selain memiliki rate card untuk unggahan feed atau story dengan kisaran Rp100.000 hingga Rp200.000, mereka juga kerap menggunakan sistem barter.
“Kadang ada yang barter juga. Jadi sistemnya bukan bayar pakai uang, tapi ditukar dengan produk,” kata Taopik.
Baca Juga: Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung
Strategi “Dua Bendera” di Lapangan
Keunikan lain dari @beritabandungraya_com terletak pada strategi branding Ahmad Taopik. Ia memanfaatkan posisinya sebagai wartawan di media besar untuk memperkenalkan “bayi” medianya kepada sesama media, perusahaan, hingga instansi pemerintahan di Bandung.
“Kalau ada undangan liputan dari media tempat aku kerja, aku ajak juga tim dari @beritabandungraya_com. Tapi aku konfirmasi dulu, supaya tidak seronok. Respons humas-humas di Kota Bandung sejauh ini bagus. Mereka tidak mempermasalahkan aku dari media apa, karena relasinya sudah terbentuk,” pungkasnya.
Melalui langkah-langkah gerilya yang santun dan pengelolaan konten Instagram yang terkurasi, Ahmad Taopik membuktikan bahwa jejak langkah wartawan lawas tetap relevan di dunia homeless media. Baginya, @beritabandungraya_com bukan sekadar platform digital, melainkan etalase informasi yang positif dan menyenangkan bagi warga Bandung.