AYOBANDUNG.ID - Malam belum sepenuhnya berganti dini hari ketika suara tawa dan obrolan terdengar dari sebuah lahan parkir yang luas. Di tempat itulah anak-anak muda Sekeloa Selatan biasa berkumpul sebelum memulai tradisi bangunin sahur.
Beberapa anggota duduk melingkar, saling menimpali jawaban satu sama lain. Di tengah suasana santai itu, Fajar Tresna (28), salah satu penggiat Sekeloa Selatan, menjadi sosok yang paling banyak menjelaskan tentang kegiatan yang mereka jalankan setiap Ramadan.
Menurut Fajar, tradisi bangunin sahur di wilayahnya bukanlah hal baru.
“Sudah ada sejak 2007. Jadi ini bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul karena sekarang viral. Dulu, waktu saya masih kecil, sudah diajak ikut sama kakak-kakak angkatan sebelumnya. Sekarang kami cuma meneruskan saja. Nanti adik-adik yang sekarang ikut juga akan jadi generasi berikutnya,” ujar Fajar.
Baca Juga: Ulin Barong Sekeloa, Tarian Tua yang Hidup Kembali di Tangan Generasi Z Bandung
Kegiatan biasanya dimulai sekitar pukul 02.15 dini hari. Mereka tidak hanya sekali berkeliling kampung, melainkan dua putaran.
“Putaran pertama biasanya untuk membangunkan orang tuanya dulu, supaya mereka bisa menyiapkan sahur. Habis itu kami istirahat sekitar 10 sampai 15 menit. Setelah itu lanjut lagi putaran kedua, sekalian mengajak anak-anaknya agar ikut bangun dan merasakan suasananya. Biasanya selesai sekitar jam 03.45,” jelasnya.
Setelah rampung, mereka kembali ke balai untuk beristirahat sejenak sebelum waktu Subuh tiba.
Lebih dari Sekadar Membangunkan Sahur
Bagi Fajar dan kawan-kawannya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan.
“Kalau ditanya tujuannya apa, ya banyak. Tradisi, iya. Cari amal, iya. Hiburan juga iya. Tapi yang paling terasa itu silaturahmi. Karena di luar Ramadan jarang sekali bisa kumpul seramai ini. Ada yang kerja, ada yang sekolah, masing-masing punya kesibukan,” katanya.
Ia mengaku, kadang justru warga yang mempertanyakan jika rombongan mereka tidak melewati satu gang.
“Pernah ada yang bilang, ‘kok kelewat rumah saya?’ Jadi sebenarnya, bagi sebagian warga, ini sudah jadi bagian dari suasana Ramadan. Bukan cuma kami yang merasakan,” ujarnya sambil tersenyum.
Jumlah peserta setiap malam bisa mencapai puluhan orang, tanpa batasan usia.
“Tidak ada batasan umur. Anak kecil boleh, yang sudah kerja juga boleh. Soalnya kalau tidak dibiasakan dari sekarang, nanti bisa padam. Kami tidak mau tradisi ini hilang,” kata Fajar.

Respons Warga dan Batasan
Meski berlangsung pada dini hari, Fajar menyebut hingga kini belum ada komplain serius dari warga. Namun, mereka tetap menjaga etika.
“Kalau ada warga yang sedang sakit atau berduka, biasanya kami diberi tahu. Nah, itu kami lewat saja tanpa ribut. Kami harus tahu diri. Jangan sampai niatnya baik malah bikin tidak nyaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika suatu hari ada keberatan dari warga, mereka siap berdiskusi.
“Kalau ada yang protes, pasti kami kumpul dulu dan dibicarakan baik-baik. Karena ini kampung sendiri juga. Harus saling menghargai,” ujarnya.
Baca Juga: Saat Homeless Media jadi Rujukan Warga, Cerita di Balik Admin Akun Instagram info.sekeloa
Viral Bukan Tujuan Awal
Nama Sekeloa Selatan mulai ramai diperbincangkan setelah video bangunin sahur mereka tersebar di media sosial. Namun Fajar menegaskan, viral bukanlah tujuan utama.
“Awalnya cuma iseng divideokan. Tidak langsung ramai juga. Beberapa hari biasa saja, lalu tiba-tiba naik. Jadi memang bukan dari awal niat cari viral,” katanya.
Sejak itu, mereka menjadi lebih berhati-hati, terutama dalam memilih lagu.
“Pernah ada kejadian soal lagu yang ternyata punya hak cipta. Dari situ kami belajar. Sekarang lebih hati-hati supaya tidak jadi masalah,” ujar Fajar.
Baginya, media sosial hanyalah dampak, bukan alasan utama mereka bergerak.
“Konten itu bonus. Yang penting ada wadah dulu buat barudak berkarya. Di luar Ramadan juga kami bikin film pendek, podcast, dan kegiatan lain,” katanya menutup obrolan.