AYOBANDUNG.ID — Bagi warga Kota Bandung, Jalan Soekarno-Hatta bukan sekadar jalan arteri terpanjang yang membentang sejauh 18,46 kilometer. Jalur ini adalah urat nadi sekaligus "jalur tengkorak" yang setiap jengkal aspalnya seolah menyimpan cerita duka. Hampir setiap pekan, kabar mengenai tubuh yang tergeletak di tengah jalan ini tersiar, memperpanjang daftar panjang korban di jalur maut milik pemerintah pusat tersebut.

Deretan Tragedi
Riuh rendah deru mesin kendaraan dan klason di Jalan Soekarno Hatta seakan tiba-tiba berhenti pada Selasa, 16 Juni 2026. Tergeletak di aspal, seorang pelajar berusia 14 tahun, yang meregang nyawa. Pelajar asal Arcamanik ini terlibat kecelakaan dengan truk Hino Tractor Head di depan PT TAKA. Berdasarkan penyelidikan polisi, korban yang saat itu bersepeda melaju dari jalur lambat dan mencoba berbelok ke jalur cepat. Namun, maut menjemputnya saat truk yang dikemudikan JS (52) melintas di lajur yang sama.
Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung, AKP Fiekry Adi Perdana, mengungkapkan bahwa faktor manusia menjadi dugaan utama. "Berdasarkan keterangan saksi dan olah TKP, bahwa pesepeda DPM pada saat berbelok tidak mengamati situasi arus lalu lintas dari arah depan dan samping kanan sehingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas," jelas Fiekry. Ia pun menambahkan, "Pesepeda angin diduga lalai, dengan tidak berperilaku tertib".
Kematian DPM hanyalah satu fragmen dari rangkaian tragedi di jalur ini. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya di depan bangunan No. 767 Kelurahan Jatisari, seorang pengendara motor berinisial APS (29) tewas mengenaskan setelah terlindas truk box. Kejadian bermula saat motor yang dikendarai IN (20) menabrak bagian belakang motor APS di jalur lambat, menyebabkannya terpelanting ke jalur cepat dan masuk ke kolong truk.
Tak hanya itu, kelalaian dalam bentuk parkir sembarangan juga terbukti fatal. Seorang warga berusia 69 tahun, berinisial D, meninggal dunia setelah menabrak bagian belakang truk tronton yang sedang parkir di bahu jalan depan PT Usaha Tangguh Mandiri. Fiekry menegaskan, "Penyebab lakalantas ini karena kelalaian manusia atau pengemudi truk tronton yang parkir sembarangan".

Kondisi yang tak kunjung membaik memicu kemarahan komunitas. Sabtu pagi, 20 Juni 2026, komunitas Bike to Work (B2W) Bandung menggelar aksi Ride in Peace dan memasang Ghost Bike—sebuah sepeda putih sebagai memorial—di Jalan Soekarno-Hatta.
Ketua B2W Bandung, Mochamad Andi Nurfauzi, menegaskan bahwa aksi ini adalah pengingat bagi penguasa. "Ini menjadi sebuah gerakan untuk memunculkan sense of urgency bahwa Jalan Soekarno-Hatta ini ternyata dari tahun ke tahun kondisinya tidak berubah dan selalu memakan korban," tegas Andi. Ia mengkritik keras status "lajur" sepeda yang hanya berupa marka tanpa perlindungan fisik. "Kenapa di Bandung masih belum aman? Karena kami belum mendapatkan jalur yang terproteksi. Lajur yang ada pun kondisinya rusak, terkena overlay [pengaspalan ulang], dijadikan parkir liar, hingga minim penerangan dan berlubang".

Keluhan senada datang dari mereka yang setiap hari mencari nafkah di aspal tersebut. Da’an Darmawan (42), seorang pengemudi ojek online, menyoroti minimnya cahaya saat malam tiba. “Lumayan sering, kalau malam jarang sih, tapi kalau siang, di perempatannya saja macet, kalau malam penerangannya kurang terang,” ujarnya.
Minimnya Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) juga memaksa pejalan kaki bertaruh nyawa dengan menyeberang langsung di badan jalan yang arusnya sangat kencang. Di sepanjang jalan yang sangat panjang itu, tercatat hanya ada satu JPO yang layak di depan Kompleks Margahayu Raya. Andi Mawardi (26), pengemudi ojol lainnya, menambahkan bahwa kondisi JPO yang ada pun sudah sangat mengkhawatirkan. “Iya, itu kalau kan berkarat itu kalau ada angin kenceng juga, si karatnya kan otomatis jatuh ke bawah dan itu bisa membahayakan,” tuturnya.
Kepala Dinas Perhubungan Pemkot Bandung, Rasdian Setiadi, mengakui bahwa penerangan jalan sering kali terhalang oleh vegetasi. "Walaupun ada penerangan jalan umumnya, tapi posisinya kan di median tengah jalan... Jadi terhalang oleh pohon-pohon besar".


Perlu Bypass Birokrasi
Persoalan utama yang membuat perbaikan terasa lamban adalah status Jalan Soekarno-Hatta sebagai jalan nasional. Hal ini menciptakan labirin birokrasi di mana pemerintah daerah tidak bisa bertindak sembarangan. Kepala Dinas Perhubungan Jabar, Dhani Gumelar, menegaskan, "Jalan Soekarno-Hatta masuk kewenangan pemerintah pusat".
Meskipun komunikasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) diklaim lancar melalui izin via telepon, namun realisasinya tetap memerlukan proses administratif yang panjang. Pemkot Bandung sendiri baru berencana menambah 126 titik PJU setinggi 9 meter di jalur turunan Flyover Kopo hingga Batununggal, sementara jalur maut Samsat hingga Cibiru kemungkinan baru digarap di Triwulan IV 2026 oleh Dishub Jabar.

Ketidakpastian ini memancing reaksi dari legislatif. Anggota Komisi IV DPRD Jabar, Daddy Rohanady, mendesak agar Kementerian Pekerjaan Umum melakukan kontrol rutin. "Saya tentu tidak ingin jalan rusak dibiarkan, apalagi sampai terjadi kecelakaan. Satker Kementerian PU mestinya kontrol itu dan laporkan secepatnya".
Bagi warga Bandung, setiap detik keterlambatan dalam membenahi infrastruktur ini berarti satu langkah lebih dekat menuju kecelakaan berikutnya. Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.