AYOBANDUNG.ID -- Bandung sebagai kota kreatif dan pusat gaya hidup urban terus menunjukkan dinamika baru dalam industri ritel modern. Mall di kota ini tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial.
Fenomena ini terlihat jelas dari langkah 23 Paskal yang menghadirkan “Great Christmas Deals” sepanjang Desember 2025, sebuah terobosan yang menggeser tradisi lama midnight sale menjadi perayaan belanja yang lebih modern, nyaman, dan penuh atraksi. Transformasi ini sejalan dengan tren konsumsi masyarakat yang semakin mencari pengalaman holistik.
Data Badan Pusat Statistik Jawa Barat menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah pada 2025, dengan kontribusi lebih dari 55 persen terhadap PDRB. Angka ini menegaskan bahwa mall berperan sebagai kanal penting dalam distribusi konsumsi, sekaligus menjadi ruang yang membentuk pola belanja baru di kalangan masyarakat urban.
23 Paskal sendiri telah menegaskan diri sebagai lifestyle destination dengan lebih dari 271 tenant, meningkat dari 185 tenant sebelumnya. Kehadiran tenant internasional, zona anak, hingga area kuliner terbuka menjadikan mall ini bukan hanya ruang belanja, tetapi juga ruang rekreasi keluarga dan komunitas.
Leasing & TCR Manager 23 Paskal, Ilham Arif Akbar, menegaskan bahwa customer kini mencari pengalaman terlebih dahulu sebelum berbelanja. Karenanya, kata dia, mall di Bandung harus terus berinovasi agar relevan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
“Experience ini yang secara konsisten kami terus kembangkan, kami terus tumbuhkan. Apalagi, dunia mall bisnisnya kan cukup dinamis. Kebiasaan customer juga perubahannya cukup signifikan makanya kami juga harus selalu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan,” ujarnya.
Konsep ini pun sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat Bandung yang kini dinilai datang ke mall bukan hanya untuk membeli barang, melainkan untuk merasakan ambience, musik, kenyamanan parkir, hingga atraksi hiburan yang membangun pengalaman menyeluruh.
Ilham mencontohkan, event internasional seperti Pokémon Play Lab, Lego Christmas Tree dari Denmark, hingga Skyward Project menjadi magnet baru yang memperkuat citra Bandung sebagai kota dengan mall yang berani tampil berbeda. Kehadiran program tematik mancanegara ini, kata Ilham, bukan hanya memperkaya pengalaman belanja, tetapi juga memperkuat posisi Bandung sebagai destinasi wisata urban yang mampu bersaing dengan kota besar lain di Indonesia.
Senada, Campaign Manager 23 Paskal, Indra, menambahkan bahwa angka kunjungan saat peak season di mall ini mencapai rata-rata 60 ribu orang per hari, bahkan pernah menembus 74 ribu. Pasalnya, lanjut Indra, mall kini diposisikan sebagai ruang ketiga setelah rumah dan kantor, tempat masyarakat mencari pengalaman sosial sekaligus hiburan.
“As a third space, sebenarnya balik lagi kita selalu ingin menjadi the iconic mall di Bandung. Yang artinya di mana kita ingin menjadi ruang experience penuh bagi orang yang datang untuk bisa merasakan pengalaman yang berbeda,” ujarnya.
Strategi 23 Paskal ini juga memperlihatkan bagaimana mall menjadi ruang diferensiasi di tengah persaingan tenant yang relatif serupa. Indra menekankan pentingnya strategi “always being different” dengan menghadirkan tenant eksklusif seperti Popmart yang hanya tersedia di 23 Paskal. Diferensiasi ini menjadi kunci daya tarik bagi generasi muda Bandung yang mencari eksklusivitas dan pengalaman unik.
Tak hanya itu, kehadiran mall sebagai ruang publik juga memperkuat ekosistem industri kreatif kota. Dari konser, pameran, dan kolaborasi komunitas yang rutin digelar di 23 Paskal memperlihatkan bagaimana mall dapat menjadi wadah bagi ekspresi kreatif sekaligus memperkuat identitas Bandung sebagai kota kreatif.
Mall tidak lagi sekadar ruang komersial, tetapi juga ruang budaya yang menyatukan masyarakat. Dengan lokasi strategis di Paskal Hypersquare, 23 Paskal menjadi pintu gerbang wisatawan yang datang ke Bandung. Tak hanya sebagai ruang belanja, strategi destinasi wisata urban ini juga memperkuat citra kota sebagai pusat gaya hidup.
Hal ini sejalan dengan data BPS Kota Bandung yang mencatat peningkatan signifikan kunjungan wisatawan domestik pada 2025, yang secara langsung berdampak pada lonjakan konsumsi di sektor ritel dan hospitality.
Generasi muda Bandung, khususnya Gen Z, menunjukkan preferensi yang kuat terhadap mall yang menawarkan ruang interaktif, hiburan tematik, dan tenant eksklusif yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Tren ini mendorong mall untuk terus berinovasi agar mampu menjadi trendsetter dalam industri ritel.
“Karena ternyata orang-orang yang datang ke 23 Paskal misalnya, itu mereka mencari experience dulu, mereka merasakan dulu ambience, musiknya, parkirnya, dan lain-lain yang sifatnya experience itu, yang akhirnya mengmbuat mereka impulsif untuk belanja. Dan ini yang diharapkan sama 23 Paskal dan industri mall yang lain,” ujar Ilham.
Alternatif produk UMKM Fesyen atau serupa: