Ayo Biz

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Oleh: Aris Abdulsalam Sabtu 09 Mei 2026, 17:10 WIB
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Kain batik beraneka motif itu tergantung rapi di dekat pintu masuk kantor Rumah BUMN Bandung. Posisinya strategis, siapa pun yang masuk langsung melihatnya. Bukan kebetulan. Itu adalah karya para penyandang disabilitas dari Kampung Kreatif Batik Difabel, Cimahi, yang sengaja dipajang di sana sebagai bentuk dukungan paling sederhana yang bisa diberikan: visibilitas.

Tapi bagi Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), visibilitas saja belum cukup. Di balik kain-kain indah yang terpajang itu, ada ruang produksi yang semakin sepi pesanan, sarana yang butuh diperbaiki, dan mesin jahit yang masih harus ditunggu kehadirannya.

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna itu bermula.

Mimpi yang Terbentur Anggaran

GHD bukan pemain baru dalam dunia pemberdayaan difabel. Sejak 2021, Kampung Kreatif Batik Difabel telah membina lebih dari 120 peserta dari berbagai penjuru Jawa Barat. Batiknya pernah dikenakan personel TWICE, pernah dibawa sebagai suvenir ke Italia. Nama GHD sudah melampaui batas Cimahi, bahkan melampaui batas negara.

Namun Andina menyimpan mimpi yang lebih besar dari sekadar viral di media sosial. Ia ingin Kampung Kreatif Batik Difabel benar-benar menjadi destinasi wisata edukasi. Tempat di mana turis lokal maupun mancanegara bisa datang, belajar membatik langsung dari tangan para difabel, dan pulang membawa cerita serta kain yang mereka buat sendiri.

"Kampung Kreatif Batik Difabel ini supaya bisa menjadi sarana wisata kalau turis-turis datang ke sini," buka Andina pada 10 April 2026.

Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan sarana yang memadai. Ruang yang representatif. Fasilitas yang layak. Dan tentu saja, alat produksi yang mencukupi, termasuk mesin jahit dan komponen pendukungnya yang hingga kini masih menjadi kebutuhan mendesak.

“Anak-anak ini harusnya dapat toolkit. Jadi yang menjahit dapatnya mesin jahit dan juga komponen pelengkapnya. Tetapi, modalnya tidak ada. Nah, bisa, dong BRI masuk untuk modal mereka,” harap Andina sembari tersenyum.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Bantuan dari BUMN lain sebenarnya sudah pernah datang melalui program CSR. Tapi kebijakan efisiensi anggaran membuat bantuan itu tidak bisa maksimal. Ahlasil beberapa program tertunda, beberapa kebutuhan terpaksa digeser ke daftar tunggu yang entah kapan giliran dipenuhi.

"Sekarang karena efisiensi, kendala terberatnya pemasaran. Pesanan berkurang setengahnya. Kita harus sosialisasi lagi, promosi lagi," lanjut Andina, menggambarkan situasi yang dihadapi GHD hari ini.

Di tengah situasi itu, harapan Andina kepada BRI cukup jelas: ia ingin ada CSR dari BRI yang masuk langsung ke Kampung Kreatif Batik Difabel. Bukan sekadar pelatihan (meski pelatihan sudah sangat membantu) tapi dukungan yang menyentuh sisi fisik dan permodalan secara nyata.

Rumah BUMN: Katalis UMKM untuk ‘Naik Kelas’

A. Radinal Pramudha Sirat memahami betul posisi Rumah BUMN Bandung dalam ekosistem ini. Sebagai CEO lembaga yang lahir dari inisiatif BRI, ia tidak bisa menjanjikan CSR langsung ataupun tidak bisa mencairkan kredit, dan tidak bisa menjadi pengganti anggaran pemerintah yang menyusut. Tetapi Rumah BUMN punya peran yang strategis untuk pengembangan bisnis, agar dapat lebih kredibel “naik kelas”-nya ketika ditinjau oleh pihak bank. Pun membuka peluang melebarkan sayap bisnis sampai ke mancanegara.

“Rumah BUMN Bandung ini sudah ada dari tahun 2017, inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini," jelas Radinal.

Dalam konteks Kampung Kreatif Batik Difabel, Rumah BUMN sudah hadir melalui jalur yang paling bisa ia berikan: pelatihan digital marketing, pelatihan berbasis kecerdasan buatan, hingga pendampingan manajemen. Ini bukan hal kecil bagi komunitas yang sebelumnya hampir sepenuhnya mengandalkan pesanan langsung dan pameran tatap muka.

“Pelatihannya itu kita kerja sama dengan berbagai pihak, dengan universitas, ataupun startup dan lai sebagainya, pemerintahan juga, untuk memberikan pelatihan kepada UMKM kita. Kalau mau jadi anggota, tinggal daftar gratis. Tidak hanya pelaku UMKM saja, jadi untuk anak-anak muda yang mau belajar bisnis itu bisa daftar di sini sebagai anggota,” lanjutnya.

Adapun tentang konsep “UMKM naik kelas”, Radinal pun mengajarkannya cukup rinci.

“Syarat untuk jadi anggota (Rumah BUMN) tinggal daftar saja di-link yang sudah ada, gratis, dan nanti ikut disurvei maksudnya agar kita tahu ini usahanya di ‘kelas’ mana. Kalau dari Kementerian BUMN kita tetapkan ada 4 kelas, biar indikator ‘UMKM naik kelas’ benar-benar ada. Kalau masih basic kelas 1 itu, dia belum punya laporan keuangan, kita ajarin bikin laporan keuangan. Lalu misalnya dia kelas 2 (karena) dia ternyata sudah punya akun digital, lalu naik ke kelas 3 karena dia sudah bisa jualan melalui sarana digital tersebut. Kalau kelas 4 itu sudah siap ekspor,” tegasnya.

A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tapi Radinal juga jujur soal batas kewenangannya. Ketika Andina berharap ada kredit modal usaha untuk membeli mesin jahit dan memperbaiki sarana, Radinal tidak bisa mengiyakan begitu saja, karena itu bukan ranah Rumah BUMN. Apa yang bisa ia lakukan adalah memandu UMKM agar profesionalitasnya bisa dibuktikan secara aksi, sertifikasi, dan membuka peluang untuk mengikuti expo internasional.

“Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya. Salah satu benefit dari ‘naik kelas’ ini adalah jadi referensi untuk expo, kita pasti akan mengundang yang sudah proper. Tema-tema masing-masing expo itu berbeda, nanti kita akan cari yang kelasnya sudah mumpuni, tidak mungkin kelas 1 kita terjunkan ke expo skala internasional,” imbuhnya.

Dua Harapan yang Mencari Titik Temu

Ada jarak yang sebetulnya bisa teratasi antara apa yang Andina butuhkan dan apa yang Radinal bisa berikan hari ini. Andina butuh CSR, butuh modal, butuh sarana fisik. Radinal menawarkan pelatihan, pendampingan, dan panduan “naik kelas”.

Jarak itu bukan kegagalan sistem. Ia adalah gambaran nyata tentang bagaimana ekosistem pemberdayaan bekerja atau seharusnya bekerja. Tidak ada satu pihak yang bisa menanggung segalanya. Jadi apa yang dibutuhkan adalah setiap pihak hadir sesuai kapasitasnya, dan kapasitas itu saling menyambung.

Rumah BUMN membangun fondasi: kapasitas, kepercayaan, dan koneksi. BRI sebagai institusi induk membuka akses permodalan bagi yang sudah siap. Pemerintah daerah menyediakan regulasi dan ruang. Masyarakat hadir sebagai konsumen yang sadar pilihan.

Ketika salah satu simpul melemah, seperti ketika efisiensi anggaran memotong peran pemerintah, simpul lain tidak bisa hanya diam. Di sinilah relevansi kehadiran Rumah BUMN menjadi paling terasa bukan sebagai pengganti, tapi sebagai penopang yang tidak absen.

“Ekonomi (sedang) kurang baik. Dari tahun lalu kita dilanda daya beli dari efisiensi pemerintahan. Tetapi kita ajarkan ke mereka (para pelaku UMKM) strategi bisnis mencari peluang-peluang yang bisa mereka maksimalkan, yang menyesuaikan target pasar. Misalnya harga bajunya biasanya Rp500 ribu, mereka bisa membuat klasifikasi (produk) yang lebih rendah lagi harganya, tetapi tetap kena ciri khas modelnya dengan kualitas agak berbeda. Mulai bikin sub kategori produk jualan biar banyak yang beli lagi,” tutur Radinal.

***

Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Andina menutup obrolannya dengan nada yang sama seperti cara ia memimpin GHD, penuh harapan dan terukur.

"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali. Kita ikut pelatihan AI, kemudian juga tentang manajemen. Dari BRI pelatihannya sangat bermanfaat sekali," ujarnya. 

"Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga."

Di ruang produksi GHD, para pembatik masih datang setiap hari. Canting masih bergerak, motif masih lahir, kain masih dijemur. Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka butuh ekosistem yang bekerja, di mana setiap pihak hadir sesuai perannya, dan tidak ada yang memilih absen hanya karena situasi sedang sulit.

Kain batik di dekat pintu masuk Rumah BUMN Bandung itu masih tergantung di sana. Menunggu lebih banyak orang yang melihatnya; dan lebih banyak pihak yang mau melakukan lebih dari sekadar memandang. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam