Ayo Biz

Mencari Bumbu Rujak Ambu di Gang Tamansari, Menemukan Rasa yang Sudah Sampai ke Jepang

Oleh: Aris Abdulsalam
Bumbu Rujak Ambu dalam beragam varian produk dan kemasan, (25/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.IDMenemukan rumah produksi Bumbu Rujak Ambu bukan perkara mudah. Dari jalan besar di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, saya harus berbelok ke gang yang kian lama kian menyempit. Motor hanya bisa melaju pelan, berkelok mengikuti lekuk gang yang khas permukiman padat di pusat Kota Bandung. Beberapa kali saya harus berhenti, bertanya kepada warga setempat, memastikan arah yang benar.

Begitu sampai di alamat yang dituju, di Jalan Linggawastu Dalam, rasa penasaran saya justru makin menjadi. Rumahnya sederhana, tanpa papan nama besar ataupun gerbang pabrik yang meyakinkan. Sepintas tidak ada yang istimewa dari bangunan itu. Pertanyaan pun muncul di kepala saya: benarkah dari rumah sesederhana ini, bumbu rujak diproduksi dan dikirim hingga ke Jepang, Jeddah, dan Australia?

Begitu pintu terbuka, jawabannya langsung terlihat. Di dalam, beberapa ibu-ibu duduk berjejer, tangan mereka cekatan mengemas bumbu rujak satu per satu, menimbang, menyegel, menyusun ke dalam dus. Aroma gula aren bercampur di udara. Di balik kesederhanaan rumah itu, ternyata tersimpan wirausaha yang sudah merambah pasar dunia.

Resep Warisan Ibu

Siti Jamilah, pemilik Bumbu Rujak Ambu, di Linggawastu Dalam, Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, (25/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Siti Jamilah, pemilik sekaligus otak di balik jenama Bumbu Rujak Ambu, mengingat betul titik mula usahanya. Semua berawal dari sebuah perjalanan ke Masjid Kubah Emas pada 2013. Saat itu, ia membawa rujak buatan sendiri, resep yang diwariskan dari sang ibu yang sudah berjualan bakso dan rujak sejak tahun 2000-an di Soreang.

"Kebetulan kan mamah saya dagang di Soreang. Terus saya bawa rujak lah di bus, dicobain kepada para peserta, terus ternyata pada suka dan ingin pesan," kenangnya.

Dari situ tercetus ide sederhana namun menentukan, bagaimana jika bumbunya saja yang dikemas, dipisah dari buahnya? Ide itu terdengar mudah, tapi prosesnya tidak sesederhana itu. Siti harus berkeliling pasar mencari kemasan yang tepat, sebab saat itu belum banyak toko kemasan yang menjual untuk skala kecil. Pencarian itu membawanya ke Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung di Jalan Kawaluyaan. Di sanalah ia mendaftar sebagai pelaku UKM, bertemu sesama pelaku usaha, dan mendapat pendampingan mengurus sertifikasi halal serta izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) secara gratis.

Pemikirannya spontan, sejak awal merintis usaha ini, Siti sudah menanamkan cita-cita yang jauh melampaui skala rumahan tempat ia memulai. Baginya, mengemas bumbu rujak bukan sekadar cara baru berjualan, melainkan langkah pertama menuju mimpi yang lebih besar.

"Setelah itu cari-cari informasi, karena saat itu belum banyak toko kemasan, jadi saya cari-cari ke pasar dan susah dapatnya untuk mengemas bumbu rujak ini. Semua inspirasi itu diadaptasi banget oleh Rujak Ambu, dengan cita-cita dari awal bagaimana caranya bumbu rujak ini bisa tembus pasar ekspor. Jadi memang niat awal saya ingin ekspor," ujar Siti kepada ayobandung.id, (25/6/2026).

Tahun 2014 menjadi titik penting kedua. Setelah perizinan usahanya lengkap, Siti berkesempatan ikut pameran di Malaysia, mewakili UMKM Kota Bandung. Ia membawa dua varian Bumbu Rujak Ambu, original dan kecombrang. Di hari kedua pameran, varian kecombrang ludes terjual habis, sementara original masih bersisa. Dari situ ia mulai mengamati bagaimana standar kemasan dan produk untuk pasar ekspor.

Dua tahun berselang, pada 2016, kesempatan yang lebih besar datang lewat pameran Thailand World of Food Asia. Di sana, Siti berdiri sejajar dengan perusahaan perusahaan besar perwakilan Indonesia, seperti PT Bintang Tujuh dan Richeese. Meski usahanya saat itu masih murni UKM rumahan, bukan PT, bukan CV, perusahaan perusahaan besar itu justru banyak mengajarinya hal teknis yang belum pernah ia pahami, seperti tentang berapa isi kemasan yang pas dalam satu dus, serta berapa kapasitas untuk satu kontainer.

Di pameran itu pula ia bertemu calon buyer dari Taiwan yang meminta pasokan setara 1 kontainer (20 feet), jumlah yang jauh di luar kapasitasnya saat itu yang hanya sanggup membuat 100 buah per hari. Order sebesar itu terpaksa ia lepas karena ia belum memiliki pegawai dan belum siap menerima pesanan dalam skala kontainer. Namun pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga baginya.

"Itu jadi beneran acuan saya untuk jadi punya jaringan petani sendiri, jadi punya bahan baku kita siapkan banget dari tahun 2016," kata perempuan kelahiran 1982 itu.

Sepulang dari Thailand, ia langsung membangun kemitraan jangka panjang dengan petani gula aren di Cianjur Selatan dan petani kecombrang di Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. Ia bahkan menjadi pihak yang menyediakan bibit kecombrang agar ditanam oleh para petani tanpa pestisida. Langkah ini menjadi fondasi penting agar kualitas dan ketersediaan bahan baku tetap terjaga, andai suatu saat order besar benar-benar datang lagi.

Menemukan Support System

Para pegawai Bumbu Rujak Ambu, di Linggawastu Dalam, Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, (25/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kesiapan itu akhirnya teruji pada 2021, ketika PT Sewu Segar Nusantara, perusahaan di balik merek buah Sunpride, menghubungi Siti meminta sampel. Setelah proses panjang termasuk video call yang menegangkan untuk meyakinkan keaslian usahanya, Sunpride akhirnya menerbitkan pesanan pertama sebanyak 3.000 pieces, yang awalnya Siti kira akan dikerjakan dalam sebulan, ternyata diminta selesai dalam waktu seminggu.

"Itu aku ngerjain seminggu, belum tau alur produksi karena kita produksinya baru bisa 100 per hari. Setiap tempat di rumah ini penuh rujak, kecuali kamar mandi. Dan itu bikin aku stres, mau nangis liat rujak itu kayanya udah enggak mau," kenang Siti sambil tertawa kecil mengenang masa sulit itu.

Namun pesanan tetap berhasil dikirim tepat waktu. Dari pengalaman itu, Siti mengevaluasi total alur produksinya, dari yang semula mengerjakan semua tahap secara bertahap dan serentak, menjadi sistem yang lebih efisien per batch. Ia juga untuk pertama kalinya merekrut pegawai, sebanyak empat orang. Hasilnya signifikan, kapasitas produksi yang semula hanya 100 pieces per hari kini bisa mencapai ribuan pieces dalam sehari, bergantung pada volume pesanan. Sunpride pun menjadi mitra tetap sejak saat itu hingga sekarang.

Jika ditelusuri, perjalanan Bumbu Rujak Ambu tidak bisa dilepaskan dari peran Rumah BUMN Bandung, yang sejak 2017 berada di bawah naungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sebagai bagian dari komitmen BRI memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, Rumah BUMN Bandung menjadi ruang pendampingan gratis bagi UMKM, mulai dari pelatihan manajemen, pengemasan produk, pemasaran digital, hingga persiapan ekspor. Bumbu Rujak Ambu sudah menjadi bagian dari ekosistem ini sejak 2019, jauh sebelum namanya dikenal luas seperti sekarang.

Saat itu Siti baru belajar hal-hal dasar, seperti teknik foto produk. Memasuki 2021 dan 2022, ia kembali aktif mengikuti pelatihan yang lebih mendalam, mulai dari manajemen usaha, pencatatan keuangan yang rapi, hingga cara menyusun pitch deck dan company profile, bekal penting ketika ia mulai membutuhkan akses permodalan dan investor seiring kapasitas produksi yang terus tumbuh.

"Dampaknya ketika masuk ke Rumah BUMN itu dari manajemen, yang pertama awal itu pencatatan. Diajarkan banget cara pencatatan, asalnya mah enggak pernah dicatat," ujar Siti.

Puncak dari pendampingan itu terjadi pada 2025. Tim Rumah BUMN Bandung, mendampingi Arya Sinulingga, mendatangi langsung dapur produksi Bumbu Rujak Ambu. Saat itu Siti menunjukkan keterbatasan yang dihadapinya, ia belum memiliki mesin sterilisasi khusus untuk kemasan ekspor. Setelah kunjungan tersebut, bantuan berupa mesin senilai Rp 19 juta diberikan secara cuma cuma, hanya dengan satu kali tanda tangan saat serah terima.

Bagi Siti, kemudahan proses ini terasa sangat berbeda dibanding pengalamannya dengan instansi lain sebelumnya, yang pernah mendatanginya hingga lima kali kunjungan dan meminta belasan kali tanda tangan, namun bantuan yang dijanjikan tak kunjung terealisasi.

"Itu tahun 2024 kejadian, dari kementerian ke kami hampir 5 kali kunjungan, aku 12 kali tandatangan, tidak cair pada akhirnya. Beda sekali dengan pas dibantu Rumah BUMN Bandung, cuma satu kali tanda tangan, bantuan yang dibutuhkan beneran dikasih," ujarnya mengenang kekecewaan dan kebahagian itu.

Mesin itu kini terpakai aktif dalam produksi harian, bahkan turut mendukung pengiriman pesanan ke Jepang dan Jeddah. Tak berhenti di situ, Siti pun tengah menjajaki kerja sama riset dengan Universitas Padjajaran (UNPAD) di Jatinangor untuk mengembangkan teknologi retort, metode sterilisasi dengan suhu dan tekanan tinggi, demi memenuhi permintaan ketat buyer asal Jepang yang menginginkan produk tahan hingga 18 bulan tanpa bahan pengawet sama sekali.

Kadang Margin Tipis, Produksi Harus Tetap Jalan

Rumah produksi Bumbu Rujak Ambu, di Linggawastu Dalam, Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, (25/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Di balik cerita sukses menembus pasar ekspor, Siti tidak menutupi tantangan yang masih ia hadapi hingga kini, terutama soal harga bahan baku yang fluktuatif. Gula aren, asam jawa, cabai rawit, hingga terasi, semuanya komoditas yang harganya bisa naik turun mengikuti musim dan kondisi pasar. Kenaikan harga bahan baku otomatis berimbas pada biaya produksi, sementara harga jual produk tidak bisa serta merta dinaikkan mengikuti kenaikan tersebut.

"Harga bahan pokok itu kadang naik turun, biaya produksi juga ikut naik, jadi marginnya kadang tipis. Tapi produksi harus tetap jalan, karena kalau berhenti, ibu-ibu di sini juga enggak dapat penghasilan," ujar Siti.

Pernyataan itu menggambarkan bagaimana keputusan bisnis Siti tidak melulu soal untung rugi semata, melainkan juga mempertimbangkan keberlangsungan kerja bagi ibu-ibu yang menggantungkan penghasilan dari Bumbu Rujak Ambu. Sebagai siasat menjaga kesehatan usaha di tengah margin domestik yang tipis, Siti mengaku pasar ekspor justru menjadi penopang utama keuntungan.

"Lebih untung dijual ekspor, karena margin antara HPP (harga pokok produksi) dan harga jualnya itu lebih besar dibanding pasar dalam negeri," katanya.

Untuk pasar domestik, Siti tetap mempertahankan dua varian andalan, yakni original dan kecombrang, yang dijual secara daring dengan harga yang relatif terjangkau, mulai dari Rp8.000 untuk kemasan kecil hingga Rp20.000 untuk kemasan yang lebih besar. Harga yang bersahabat itu sengaja dijaga agar tetap bisa dinikmati oleh masyarakat luas, sembari pasar ekspor terus digarap sebagai sumber margin yang lebih sehat bagi keberlangsungan usaha.

Pun di balik pencapaian ekspor, dampak yang paling terasa justru ada di lingkup yang lebih dekat, yakni tetangga-tetangga Siti sendiri. Tergantung volume pesanan, ada delapan hingga dua belas ibu-ibu sekitar rumah yang dilibatkan dalam proses produksi, mulai dari mengolah bumbu, mengemas, hingga menyegel kemasan.

Kedekatan itu bahkan terasa dalam hal-hal kecil. Ketika listrik di rumah Siti padam, para tetangga yang masih memiliki aliran listrik akan menyambungkan kabel dari rumah ke rumah, saling membantu agar produksi tetap berjalan.

Lini Purnama, salah satu pegawai yang bergabung sejak 2023, merasakan langsung manfaat bekerja di lingkungan yang dekat dengan rumahnya sendiri.

"Dampak sosialnya otomatis kita dapat kerjaan dan dapat uang. Kita enggak mengeluarkan ongkos, karena kita kan gaji full otomatis full. Itu bagi ibu-ibu di sekitar lingkungan sangat bermanfaat sekali, membantu sekali, terutama waktu. Karena kita tempatnya dekat bertetangga, istirahat kita bisa pulang," tutur Lini.

Bagi Lini, bekerja di Bumbu Rujak Ambu bukan sekadar soal penghasilan tambahan. Lokasi yang dekat membuatnya tetap bisa mengurus rumah dan anak-anak di sela waktu istirahat. Suasana kerja pun terasa hangat, lebih mirip ajang silaturahmi ketimbang rutinitas pabrik.

"Jadi ajang silaturahmi juga karena kita berkumpul di sini, kenal, cerita, curhat, happy, ngobrol gitu. Kita tuh bekerja dan bahagia, rumah bisa terurus, anak-anak bisa terurus, dapat uang juga iya," katanya.

Harapan Lini sederhana namun mendalam, semoga makin banyak UMKM seperti Bumbu Rujak Ambu yang tumbuh dan mampu merekrut lebih banyak ibu-ibu di sekitarnya, terutama mereka yang berpendidikan terbatas dan kesulitan mencari pekerjaan formal.

"Harapannya UMKM di sekitar kita dapat berkembang lebih baik dan bisa memperkerjakan lagi, merekrut ibu-ibu di sekeliling dia, terutama menambah penghasilan mereka. Karena semakin ke sini cari kerja ibu-ibu tuh kurang, apalagi yang pendidikannya SMA, SMP. Otomatis ibu-ibu bisa berdaya dan mengurus anak-anaknya juga dengan tenang dan aman karena bisa terkontrol juga," ujarnya.

Siti sendiri menegaskan komitmennya untuk terus menyeimbangkan jumlah pegawai dengan volume pesanan yang masuk.

"Selama masih bisa dikerjakan segini, enggak mungkin saya pakai yang lain lagi, kecuali kalau udah lebih banyak lagi kan kita tambah. Seperti kemarin kan aku cuma 4 pegawai, sekarang semakin banyak pesanan pasti nambah. Jadi akan berbanding seimbang dengan banyaknya orderan, berarti akan semakin banyak juga pegawai yang kita rekrut," katanya.

Jejak Rasa yang Harus Mendunia

Bumbu Rujak Ambu dengan beragam varian produk dan kemasan, (25/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Di tengah kesibukannya mengelola produksi dan memenuhi permintaan ekspor, Siti juga tengah menempuh pendidikan S1 jurusan Administrasi Bisnis di International Women University (IWU) sejak 2022. Keputusan ini muncul dari kesadarannya bahwa ilmu bisnis yang ia praktikkan secara otodidak selama bertahun-tahun perlu dilengkapi dengan dasar akademis yang lebih kuat.

"Ternyata terbukti ketika kita ambil kuliah bisnis, aku sudah pernah menjalani semua itu, baru dapat ilmunya tuh lebih nyerap. Termasuk Riset Operasi Bisnis, Manajemen Operasi seperti apa, oh pelajaran ini harusnya aku terapkan ketika ada kasus ini di Rujak Ambu. Harusnya aku sudah tau ilmu ini dari awal, aku enggak akan seperti ini," ujarnya.

Ilmu ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah kini terasa sangat relevan dengan pengalaman nyata yang pernah ia hadapi, termasuk drama alur produksi saat menerima pesanan besar pertama dari Sunpride. Bahkan, rencana pemasaran kemasan baru berbahan PET can untuk pasar domestik kini ia jadikan bahan penelitian skripsinya.

Kala ditanya soal mimpinya untuk satu dekade mendatang, jawaban Siti datang tanpa ragu.

"Harapan saya Rujak Ambu 10 tahun ke depan adalah bisa merujakin dunia. Kita akan fokus di bumbu rujak, tapi pemasarannya itu di global. Kalau kimchi bisa mendunia, kenapa rujak tidak. Aku memang tukang rujak, tapi dengan level yang berbeda. Bumbu rujak tradisional Sunda ini bisa mendunia, itu harapan saya ke depannya," ucap Siti.

Reputasi Bumbu Rujak Ambu yang sudah merambah pasar mancanegara ternyata juga terdengar sampai ke telinga konsumen lokal. Amy, perempuan asal Cimekar, Kabupaten Bandung, mengaku sudah lama mendengar nama Bumbu Rujak Ambu sebelum akhirnya benar-benar mencicipinya.

"Saya sebelumnya memang udah sering dengar nama Rujak Ambu, katanya enak dan udah sampai ekspor segala. Jadi penasaran banget pengen coba langsung kayak gimana sih rasanya," ujar Amy.

Rasa penasaran itu terbayar begitu ia mencoba produknya. Bagi Amy, racikan bumbu rujak ini punya keseimbangan rasa yang pas, tidak berlebihan di satu sisi tertentu, sehingga nyaman dikonsumsi kapan saja.

"Pas dicoba, ternyata enak banget, sedap. Pedasnya juga enggak berlebihan, jadi pas buat dimakan kapan aja, bahkan kalau misalnya malam-malam tiba-tiba pengen ngerujak, ya tinggal buka aja, langsung jadi," katanya.

Selain soal rasa, satu hal yang menurut Amy paling berkesan adalah daya tahan produk meski kemasannya sudah dibuka. Menurutnya, ini menjadi nilai tambah penting bagi produk rumahan yang diklaim tanpa bahan pengawet kimia.

"Yang bikin saya salut itu daya tahannya. Walaupun bungkusnya udah dibuka, disimpan beberapa hari pun enggak gampang basi. Padahal kan biasanya kalau udah dibuka gitu suka cepat berubah rasa atau baunya," tutur Amy.

Dari gang sempit di Tamansari, jejak rasa Bumbu Rujak Ambu sudah sampai ke Jeddah, Jepang, Australia, hingga Hong Kong; dan di balik semua pencapaian itu, ada belasan ibu-ibu di sekitar Jalan Linggawastu Dalam yang ikut merasakan manisnya perjalanan ini. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam