Kembara Niaga Dama Kara Menjadi Satu-satunya UMKM Kelas 4 di Bandung

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Salah satu sudut toko Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Salah satu sudut toko Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Dua bulan lalu, saya duduk di samping A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. Di kantor lembaga pemberdayaan UMKM yang berada di bawah naungan Bank BRI itu, Radinal tengah memaparkan sistem klasifikasi UMKM binaan mereka.

Dia mendeskripsikan UMKM terbagi dalam empat kelas, masing-masing dengan indikator yang berbeda dan tangga yang harus dinaiki satu per satu. Saya mendengarkan, lalu mengajukan satu pertanyaan, siapa saja yang ada di puncak, di Kelas 4?

Radinal tidak berpikir lama. Pasalnya, UMKM yang ada di kelas itu memang langka, sehingga jawabannya tak akan pelak.

"Untuk UMKM Kelas 4 di Bandung ini cuma ada satu, Dama Kara," ungkapnya sore itu, Jumat, 10 April 2026. 

Satu nama, dari lebih dari 12 ribu UMKM yang tergabung di Rumah BUMN Bandung. Dari ribuan pelaku usaha yang datang dengan mimpi masing-masing, hanya satu yang berdiri di tangga tertinggi. Sebuah brand batik lokal yang lahir dari modal Rp15 juta dan motivasi bisnis yang tidak mulus. 

Untuk memahami bagaimana Dama Kara bisa sampai di sana, kita perlu mundur ke titik di mana impian founder-nya justru hampir berakhir. Demi menjelajah kembara niaga, saya pun datang ke salah satu store Damakara di Jalan Gandapura, Kota Bandung.

"Dama Kara mulainya dengan modal Rp15 juta. Tapi dengan modal itu kita terus konsisten untuk membuat dan berinovasi. Konsisten untuk meningkatkan skala produksi, konsisten untuk menebar kebermanfaatan, konsisten untuk melakukan aktivasi dan campaign," tutur Dini membuka obrolannya pada Selasa, 23 Juni 2026.

Nurdini Prihastiti, perempuan kelahiran 1990 yang akrab disapa Dini, sebelumnya menjalankan bisnis konveksi bersama suaminya, Bheben Oscar. Bisnis itu menjanjikan. Pesanan datang, produksi berjalan, pengiriman dijadwalkan. Sampai suatu hari, kiriman seragam dan suvenir ke Kalimantan gagal. Kapal pengangkutnya terbakar di tengah laut. Dalam sekejap, kerugian besar menghantam, dan bisnis yang mereka rintis goyah.

Dini berada di persimpangan. Tapi alih-alih memulai ulang bisnis yang sama, ia justru berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri: bisnis seperti apa yang benar-benar ingin ia bangun? Lantas sebuah kunjungan ke Solo memberinya sebagian jawaban. Di sana, ia menyaksikan para pengrajin batik yang sudah sepuh, bekerja sunyi tanpa banyak generasi muda yang mau meneruskan. Kegelisahan itu ia bawa pulang, dan bertemu dengan pertanyaan lain yang sudah lama mengendap, mengapa batik hanya dipakai saat kondangan?

Data mendukung intuisinya. Sebanyak 62% orang Indonesia mengaku suka memakai batik, namun mayoritas hanya mengenakannnya di momen-momen tertentu. Dini melihat celah yang besar di sana bahwa batik yang bisa hadir dalam keseharian, yang relevan untuk perempuan aktif modern dan tidak terasa berat atau seremonial.

Nurdini Prihastiti, founder Dama Kara, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nurdini Prihastiti, founder Dama Kara, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Maka pada 2020, di tengah pandemi, Dama Kara lahir. Modalnya Rp15 juta itu.

Nama "Dama Kara" berarti mendukung kebajikan dan kebermanfaatan. Dan untuk mewujudkan kebajikan itu, Dini tahu bisnisnya harus berdiri di atas fondasi yang kokoh terlebih dahulu, sebelum bisa memberi manfaat ke luar.

"Sebenarnya kalau harus mulai dari mana, sebenarnya start dari apa yang bisa kita lakukan saat ini. Start from small, tapi dengan mimpi yang besar dan growing mindset untuk bisa terus bertumbuh," lanjutnya.

Konsistensinya bukan cuma slogan. Dama Kara membangun produknya tak hanya mengejar tren, tetapi menggali kebutuhan nyata konsumen. Salah satu contohnya adalah koleksi Sekar Arunika, lini batik berbahan katun yang dirancang khusus agar tidak mudah lecek, menyasar perempuan yang aktif bekerja dan butuh tampilan batik yang tetap rapi sepanjang hari.

Kini, Dama Kara beroperasi dengan tiga store di Bandung, masing-masing di Jalan Gandapura, Jalan Ciliwung, dan Cihapit, ditambah gudang di Padasuka. Enam puluh orang bekerja di sana, mulai dari tim store, gudang, marketing, back office, hingga tim Research and Development internal yang menangani desain.

"Alhamdulillah Dama Kara selalu bertumbuh, baik omzet maupun penerimaan, di online dan offline. Pertumbuhan jumlah followers maupun jumlah orang yang mengetahui Dama Kara sejauh ini terus mengalami pertumbuhan," kata Dini.

Apa Makna Menjadi UMKM Kelas 4?

Pertumbuhan Dama Kara tidak terjadi di atas kertas semata. Di balik perkembangan bisnis mereka ada ekosistem pembinaan yang terstruktur, salah satunya melalui Rumah BUMN Bandung di bawah naungan Bank BRI.

Rumah BUMN Bandung berdiri sejak 2017 dan kini menaungi lebih dari 12 ribu UMKM dari Bandung dan sekitarnya, termasuk Cimahi, Subang, Garut, hingga Sumedang. Lembaga ini adalah bagian dari jaringan 54 Rumah BUMN BRI yang tersebar di seluruh Indonesia, yang hingga pertengahan 2025 telah menyelenggarakan lebih dari 16 ribu pelatihan bagi para pelaku usaha.

Radinal menjelaskan bahwa Rumah BUMN bukan lembaga pinjaman, melainkan lembaga pemberdayaan.

"Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya," tegasnya.

CEO Rumah BUMN Bandung, A. Radinal Pramudha Sirat, di Jalan Dr Djunjunan 50, Pasteur, Kota Bandung, (10/4/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
CEO Rumah BUMN Bandung, A. Radinal Pramudha Sirat, di Jalan Dr Djunjunan 50, Pasteur, Kota Bandung, (10/4/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sistem empat kelas yang diterapkan dirancang agar indikator naik kelas benar-benar terukur, bukan sekadar klaim. Radinal pun merinci prosesnya.

"Kalau masih basic, kelas 1, dia belum punya laporan keuangan, kita ajarin bikin laporan keuangan. Lalu misalnya dia kelas 2 karena ternyata sudah punya akun digital, lalu naik ke kelas 3 karena dia sudah bisa jualan melalui sarana digital tersebut. Kalau kelas 4, itu sudah siap ekspor," jelasnya.

Selain itu, naik kelas bukan hanya soal prestise. Ada konsekuensi nyata yang mengikutinya.

"Salah satu benefit dari naik kelas ini adalah jadi referensi untuk expo. Kita pasti akan mengundang yang sudah proper. Tema-tema masing-masing expo itu berbeda, nanti kita akan cari yang kelasnya sudah mumpuni. Tidak mungkin kelas 1 kita terjunkan ke expo skala internasional," imbuh Radinal.

Pada April 2026, Dini membawa Dama Kara ke Osaka dan Kobe, Jepang, untuk fashion show sekaligus pameran. Berselang beberapa waktu, mereka kembali hadir dalam sebuah exhibition di Singapura. Dua agenda internasional dalam rentang waktu yang berdekatan, hanyalah beberapa dari sekian banyak, buah dari perjalanan panjang yang dimulai dari modal Rp15 juta.

Siska Putri, pelanggan setia Dama Kara, merasakan sendiri bagaimana brand ini tumbuh dan bertahan.

"Sebagai orang yang suka produk lokal, saya juga berharap semakin banyak yang seperti Dama Kara. Daripada beli jauh-jauh, sebenarnya produk lokal itu sudah bagus-bagus. Terutama produk lokal Bandung, saat merantau ke Jakarta pun saya tetap mencarinya balik lagi ke Bandung," kata Siska.

Siska Putri, salah satu pelanggan setia Dama Kara, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Siska Putri, salah satu pelanggan setia Dama Kara, di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kepercayaan seperti itu yang menjadi bahan bakar Dama Kara untuk terus melangkah. Tren batik global pun sedang berpihak. Pasar dunia makin bergerak menuju produk yang bernilai budaya dan autentik, dua hal yang memang sudah menjadi DNA Dama Kara.

"Tren ke depan, batik bisa punya potensi yang sangat besar karena memang trennya mengarah ke sesuatu yang lebih culture, wellness, yang semacam ke sana. Tinggal bagaimana kita berinovasi agar motif-motif batik yang sudah sangat baik maknanya itu bisa ditransfer ke dalam motif yang lebih modern dan kontemporer," ujar Dini.

Di tengah daya beli yang tertekan akibat efisiensi anggaran pemerintah, Radinal mengakui kondisi ekonomi sedang tidak mudah bagi banyak UMKM. Oleh karena itu, Rumah BUMN tidak tinggal diam.

"Kita ajarkan ke mereka strategi bisnis mencari peluang yang bisa dimaksimalkan, yang menyesuaikan target pasar. Misalnya harga bajunya biasanya Rp500 ribu, mereka bisa membuat klasifikasi produk yang lebih rendah harganya, tapi tetap kena ciri khas modelnya. Mulai bikin sub-kategori produk jualan biar banyak yang beli lagi," tutur Radinal.

Dama Kara sendiri sudah lama belajar bahwa bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit bukanlah harus ikut arus. Memilih peluang yang punya dampak bermanfaat, kadang malah membawa profit lebih banyak.

"Untuk teman-teman UMKM yang lain, jangan lupa untuk terus memberikan kebermanfaatan dari bisnis yang kita jalankan. Kalau fokusnya sekadar profit, bisnis mungkin hanya berjalan selama tren itu ada. Tapi kalau kita fokus pada kebermanfaatan, langkahnya akan lebih mudah dan lebih panjang," tutup Dini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jun 2026, 11:39

Literasi, Fabel, dan Al-Razi

Rasanya asyik sekali ketika menemukan bacaan yang penuh dengan hikmah.

Aa Akil bergaya dengan buku Serunya Dunia Fabel, karya Kelas V Al-Razi SD Islam Al-Amanah, penerbit Dandelion Publisher,  cetakan pertama Mei 2026, editor Utrujah Alesha. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 25 Jun 2026, 11:23

Panduan Berkunjung ke Museum Geologi Bandung: Menjelajahi 4,5 Miliar Tahun Sejarah Bumi dengan Tiket Rp5.000

Museum Geologi Bandung menyimpan lebih dari 250.000 koleksi batuan dan 60.000 fosil. Simak harga tiket, koleksi unggulan, dan panduan berkunjung.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Biz 25 Jun 2026, 10:34

Kembara Niaga Dama Kara Menjadi Satu-satunya UMKM Kelas 4 di Bandung

UMKM yang ada di kelas itu memang langka, tetapi bagaimana cara sampai di sana?

Salah satu sudut toko Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 09:56

Batujajar dan Militer: 'Mesra' sejak Masa Kolonial

Menilik secara historis bagaimana Batujajar dan militer hidup secara berdampingan sejak masa kolonial.

Jembatan Batujajar pada tahun 1925 (Sumber: KITLV)
Beranda 25 Jun 2026, 09:11

Kimung, Anak Ujungberung yang Tak Pernah Meninggalkan Musik

Kimung tak pernah benar-benar meninggalkan musik. Dari Burgerkill, Ujungberung Rebels, hingga Karinding Attacks, ia terus merawat kultur musik dari Bandung.

Di Atap Class, Kimung terus merawat arsip, pengetahuan, dan regenerasi komunitas kreatif lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:47

Budaya Self-reward dan Hubungannya dengan Konsumerisme Gen Z

Self-reward yang awalnya bertujuan sebagai bentuk apresiasi diri setelah mencapai target atau melewati masa sulit sering kali berubah menjadi alasan untuk berbelanja secara berlebihan.

Ilustrasi belanja. (Sumber: Pexels | Foto: Max Fischer)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:34

Unjuk Rasa Mahasiswa, Sinar Asta Cita dan Suguhan Humor Segar

Jika segala aspek masalah ketenagakerjaan bisa ditangani dengan baik, niscaya 60 persen masalah bangsa ini kelar.

Unjuk rasa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 18:45

Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

Mengkritisi kesenjangan antara ambisi transformasi digital Indonesia dan rapuhnya fondasi infrastruktur energi.

Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 17:57

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Tantangan berat sektor pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen.

Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 13:04

Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:49

Radio Nirom Rancaekek, Saksi Hidup Siaran Radio Hindia Belanda

NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschaapij) merupakan siaran radio swasta yang didirikan pada tahun 1928.

Stasiun Malabar Di gunung Puntang (Sumber: muspen.komdigi.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:08

Menelusuri Jejak Masa Lalu Rumah Indis dan Pabrik Gula Sewugalur

Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar.

kondisi pabrik gula sewugalur pada masa masih beroprasi tahun 1917. (KITLV/kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 11:59

Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

Perjalanan para eksil Orde Baru dalam mendirikan Restaurant Indonesia pada 1982.

Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 11:22

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket, Wahana, dan Koleksi Satwa

Gembira Loka Zoo Yogyakarta menawarkan ratusan koleksi satwa, wahana keluarga, Zona Cakar, hingga Kereta Taring. Simak panduan lengkap sebelum berkunjung.

Gembira Loka Zoo Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 10:43

Analisis Konteks Historis Dibalik Pembuatan Film Kuldesak 1998

Artike lini membahas tentang latar belakang historis dari pembuatan Film Kuldesak 1998

Cuplikan adegan aktor Ryan Hidayat dan Iwa K dalam film Kuldesak 1998. (Sumber: Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia, Facebook. facebook.com)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 09:28

Ayobandung sebagai Inspirasi Literasi di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi, apakah literasi semakin bagus atau kian redup.

Ilustrasi website Ayobandung.id. (Sumber: Pexels/gravity cut)