AYOBANDUNG.ID – Dua bulan lalu, saya duduk di samping A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. Di kantor lembaga pemberdayaan UMKM yang berada di bawah naungan Bank BRI itu, Radinal tengah memaparkan sistem klasifikasi UMKM binaan mereka.
Dia mendeskripsikan UMKM terbagi dalam empat kelas, masing-masing dengan indikator yang berbeda dan tangga yang harus dinaiki satu per satu. Saya mendengarkan, lalu mengajukan satu pertanyaan, siapa saja yang ada di puncak, di Kelas 4?
Radinal tidak berpikir lama. Pasalnya, UMKM yang ada di kelas itu memang langka, sehingga jawabannya tak akan pelak.
"Untuk UMKM Kelas 4 di Bandung ini cuma ada satu, Dama Kara," ungkapnya sore itu, Jumat, 10 April 2026.
Satu nama, dari lebih dari 12 ribu UMKM yang tergabung di Rumah BUMN Bandung. Dari ribuan pelaku usaha yang datang dengan mimpi masing-masing, hanya satu yang berdiri di tangga tertinggi. Sebuah brand batik lokal yang lahir dari modal Rp15 juta dan motivasi bisnis yang tidak mulus.
Untuk memahami bagaimana Dama Kara bisa sampai di sana, kita perlu mundur ke titik di mana impian founder-nya justru hampir berakhir. Demi menjelajah kembara niaga, saya pun datang ke salah satu store Damakara di Jalan Gandapura, Kota Bandung.
"Dama Kara mulainya dengan modal Rp15 juta. Tapi dengan modal itu kita terus konsisten untuk membuat dan berinovasi. Konsisten untuk meningkatkan skala produksi, konsisten untuk menebar kebermanfaatan, konsisten untuk melakukan aktivasi dan campaign," tutur Dini membuka obrolannya pada Selasa, 23 Juni 2026.
Nurdini Prihastiti, perempuan kelahiran 1990 yang akrab disapa Dini, sebelumnya menjalankan bisnis konveksi bersama suaminya, Bheben Oscar. Bisnis itu menjanjikan. Pesanan datang, produksi berjalan, pengiriman dijadwalkan. Sampai suatu hari, kiriman seragam dan suvenir ke Kalimantan gagal. Kapal pengangkutnya terbakar di tengah laut. Dalam sekejap, kerugian besar menghantam, dan bisnis yang mereka rintis goyah.
Dini berada di persimpangan. Tapi alih-alih memulai ulang bisnis yang sama, ia justru berhenti dan bertanya kepada dirinya sendiri: bisnis seperti apa yang benar-benar ingin ia bangun? Lantas sebuah kunjungan ke Solo memberinya sebagian jawaban. Di sana, ia menyaksikan para pengrajin batik yang sudah sepuh, bekerja sunyi tanpa banyak generasi muda yang mau meneruskan. Kegelisahan itu ia bawa pulang, dan bertemu dengan pertanyaan lain yang sudah lama mengendap, mengapa batik hanya dipakai saat kondangan?
Data mendukung intuisinya. Sebanyak 62% orang Indonesia mengaku suka memakai batik, namun mayoritas hanya mengenakannnya di momen-momen tertentu. Dini melihat celah yang besar di sana bahwa batik yang bisa hadir dalam keseharian, yang relevan untuk perempuan aktif modern dan tidak terasa berat atau seremonial.

Maka pada 2020, di tengah pandemi, Dama Kara lahir. Modalnya Rp15 juta itu.
Nama "Dama Kara" berarti mendukung kebajikan dan kebermanfaatan. Dan untuk mewujudkan kebajikan itu, Dini tahu bisnisnya harus berdiri di atas fondasi yang kokoh terlebih dahulu, sebelum bisa memberi manfaat ke luar.
"Sebenarnya kalau harus mulai dari mana, sebenarnya start dari apa yang bisa kita lakukan saat ini. Start from small, tapi dengan mimpi yang besar dan growing mindset untuk bisa terus bertumbuh," lanjutnya.
Konsistensinya bukan cuma slogan. Dama Kara membangun produknya tak hanya mengejar tren, tetapi menggali kebutuhan nyata konsumen. Salah satu contohnya adalah koleksi Sekar Arunika, lini batik berbahan katun yang dirancang khusus agar tidak mudah lecek, menyasar perempuan yang aktif bekerja dan butuh tampilan batik yang tetap rapi sepanjang hari.
Kini, Dama Kara beroperasi dengan tiga store di Bandung, masing-masing di Jalan Gandapura, Jalan Ciliwung, dan Cihapit, ditambah gudang di Padasuka. Enam puluh orang bekerja di sana, mulai dari tim store, gudang, marketing, back office, hingga tim Research and Development internal yang menangani desain.
"Alhamdulillah Dama Kara selalu bertumbuh, baik omzet maupun penerimaan, di online dan offline. Pertumbuhan jumlah followers maupun jumlah orang yang mengetahui Dama Kara sejauh ini terus mengalami pertumbuhan," kata Dini.
Apa Makna Menjadi UMKM Kelas 4?
Pertumbuhan Dama Kara tidak terjadi di atas kertas semata. Di balik perkembangan bisnis mereka ada ekosistem pembinaan yang terstruktur, salah satunya melalui Rumah BUMN Bandung di bawah naungan Bank BRI.
Rumah BUMN Bandung berdiri sejak 2017 dan kini menaungi lebih dari 12 ribu UMKM dari Bandung dan sekitarnya, termasuk Cimahi, Subang, Garut, hingga Sumedang. Lembaga ini adalah bagian dari jaringan 54 Rumah BUMN BRI yang tersebar di seluruh Indonesia, yang hingga pertengahan 2025 telah menyelenggarakan lebih dari 16 ribu pelatihan bagi para pelaku usaha.
Radinal menjelaskan bahwa Rumah BUMN bukan lembaga pinjaman, melainkan lembaga pemberdayaan.
"Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya," tegasnya.

Sistem empat kelas yang diterapkan dirancang agar indikator naik kelas benar-benar terukur, bukan sekadar klaim. Radinal pun merinci prosesnya.
"Kalau masih basic, kelas 1, dia belum punya laporan keuangan, kita ajarin bikin laporan keuangan. Lalu misalnya dia kelas 2 karena ternyata sudah punya akun digital, lalu naik ke kelas 3 karena dia sudah bisa jualan melalui sarana digital tersebut. Kalau kelas 4, itu sudah siap ekspor," jelasnya.
Selain itu, naik kelas bukan hanya soal prestise. Ada konsekuensi nyata yang mengikutinya.
"Salah satu benefit dari naik kelas ini adalah jadi referensi untuk expo. Kita pasti akan mengundang yang sudah proper. Tema-tema masing-masing expo itu berbeda, nanti kita akan cari yang kelasnya sudah mumpuni. Tidak mungkin kelas 1 kita terjunkan ke expo skala internasional," imbuh Radinal.
Pada April 2026, Dini membawa Dama Kara ke Osaka dan Kobe, Jepang, untuk fashion show sekaligus pameran. Berselang beberapa waktu, mereka kembali hadir dalam sebuah exhibition di Singapura. Dua agenda internasional dalam rentang waktu yang berdekatan, hanyalah beberapa dari sekian banyak, buah dari perjalanan panjang yang dimulai dari modal Rp15 juta.
Siska Putri, pelanggan setia Dama Kara, merasakan sendiri bagaimana brand ini tumbuh dan bertahan.
"Sebagai orang yang suka produk lokal, saya juga berharap semakin banyak yang seperti Dama Kara. Daripada beli jauh-jauh, sebenarnya produk lokal itu sudah bagus-bagus. Terutama produk lokal Bandung, saat merantau ke Jakarta pun saya tetap mencarinya balik lagi ke Bandung," kata Siska.

Kepercayaan seperti itu yang menjadi bahan bakar Dama Kara untuk terus melangkah. Tren batik global pun sedang berpihak. Pasar dunia makin bergerak menuju produk yang bernilai budaya dan autentik, dua hal yang memang sudah menjadi DNA Dama Kara.
"Tren ke depan, batik bisa punya potensi yang sangat besar karena memang trennya mengarah ke sesuatu yang lebih culture, wellness, yang semacam ke sana. Tinggal bagaimana kita berinovasi agar motif-motif batik yang sudah sangat baik maknanya itu bisa ditransfer ke dalam motif yang lebih modern dan kontemporer," ujar Dini.

Di tengah daya beli yang tertekan akibat efisiensi anggaran pemerintah, Radinal mengakui kondisi ekonomi sedang tidak mudah bagi banyak UMKM. Oleh karena itu, Rumah BUMN tidak tinggal diam.
"Kita ajarkan ke mereka strategi bisnis mencari peluang yang bisa dimaksimalkan, yang menyesuaikan target pasar. Misalnya harga bajunya biasanya Rp500 ribu, mereka bisa membuat klasifikasi produk yang lebih rendah harganya, tapi tetap kena ciri khas modelnya. Mulai bikin sub-kategori produk jualan biar banyak yang beli lagi," tutur Radinal.
Dama Kara sendiri sudah lama belajar bahwa bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit bukanlah harus ikut arus. Memilih peluang yang punya dampak bermanfaat, kadang malah membawa profit lebih banyak.
"Untuk teman-teman UMKM yang lain, jangan lupa untuk terus memberikan kebermanfaatan dari bisnis yang kita jalankan. Kalau fokusnya sekadar profit, bisnis mungkin hanya berjalan selama tren itu ada. Tapi kalau kita fokus pada kebermanfaatan, langkahnya akan lebih mudah dan lebih panjang," tutup Dini. (*)