Ayo Biz

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Oleh: Aris Abdulsalam
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Menyoal dimsum, Ani Andriyani dahulu punya kebiasaan sederhana yang berulang. Dia sering menyantap favoritnya itu di restoran ternama, lalu pulang membawa pertanyaan yang senantiasa sama, tentang “mengapa makanan seenak ini harus mahal?”. 

Rasa penasaran itu, keinginan membuat dimsum versi ramah kantong, mendorongnya belajar mengolah kuliner. Pada 2017, dia mulai mengulik resep dimsum sendiri di rumah, tanpa bekal pendidikan tata boga sama sekali.

"Awalnya saya tertarik wirausaha ke dimsum karena saya makan ke salah satu restoran yang menurut saya mahal dan kok ini enak banget, ya? Saya suka banget makan dimsum, tapi saya gak mungkin sering ke sana dan saya juga gak mungkin sering bawa keluarga ke sana. Jadi saya pun ingin bagaimana caranya supaya dimsum seenak ini bisa dimakan oleh semua kalangan," kenang Ani kepada ayobandung.id, saat mengobrol di Cicadas, Kota Bandung, (12/5/2026).

Ia mengeksplorasi resep selama enam bulan, mencoba rasa, menyusun menu, dan meminta pendapat teman-temannya, sebelum akhirnya memberanikan diri berjualan online dari rumah dengan modal awal Rp5-10 juta. 

Dari eksplorasi itu, ia menciptakan tagline yang menjadi identitasnya hingga kini: "Rasa Mewah Harga Murah."

Bermula dari Gang Sempit

Berjualan dari sebuah gang kecil di Cicadas, Kota Bandung, membawa tantangan tersendiri bagi Ani. Salah satu yang paling terasa: para driver ojek online harus antre di depan rumahnya untuk mengambil pesanan.

"Dahulu saya belum punya uang buat bikin store. Akhirnya kita usaha di rumah, sedangkan rumah kita ini memang daerah gang. Memang dahulu yang ditakutkan itu tetangga komplain karena ada driver yang mungkin antre untuk ambil orderan, tetapi ya mau tak mau saya berpikir bahwa punya usaha itu tidak harus bikin tempat besar dulu. Jadi ketika mau bermimpi, bermimpi dulu yang kecil, nanti akan jadi besar," ujar Ani.

Untuk membangun basis pelanggan awal, Ani tidak langsung membidik warga sekitar Cicadas. Ia menyadari bahwa dengan harga dimsum saat itu, warga sekitar lebih memilih membeli nasi. Ia pun menerapkan strategi promo harga Rp10 di awal, sekadar agar calon pelanggan mengenal rasanya lebih dulu.

"Untuk ekosistem awal konsumennya ini justru saya tidak target lokal, karena untuk area lokal Cicadas itu tidak mungkin mereka mau beli dimsum yang harganya saat itu Rp13 ribu per porsi, mereka lebih baik beli nasi. Oleh karena itu pas awal itu kita promo area sekitar hanya Rp10, agar mereka tahu dulu tastenya," kata Ani.

Ani juga menekankan pentingnya legalitas usaha sejak dini. Ia mengurus Nomor Induk Berusaha, mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual ke Kemenkumham Kanwil Jawa Barat, dan mengantongi sertifikat halal MUI, dengan pendampingan uji mutu dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bandung. Ia beralasan, banyak UMKM melejit di awal lalu tenggelam karena mengabaikan manajemen risiko semacam ini.

Diferensiasi Lewat Saus Ubi Cilembu

Sampel menu Dimsum Inmons. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Salah satu terobosan yang paling diingat pelanggan Dimsum Inmons adalah penggunaan saus ubi Cilembu sebagai pendamping dimsum, sentuhan lokal yang membedakannya dari kompetitor. 

"Saya mempelajari apa sih kekurangan dari mayoritas pengusaha dimsum, apa kelemahan mereka yang harus saya tutupi? Ternyata dari kebanyakan mereka menunya itu tidak pernah lebih dari 10-15 varian. Dari situ, kelebihan kita punya lebih dari 80 varian. Selain itu, kita bikin daya tarik juga agar mereka mau memilih Dimsum Inmons, kita bikin sausnya dari ubi Cilembu, karena kita ingin menegaskan bahwa orang Bandung bisa bikin dimsum yang khas," ucap Ani.

Kerja keras itu membuahkan sejumlah pengakuan penting. Selama pandemi Covid-19, ketika banyak UMKM kuliner gulung tikar, Dimsum Inmons justru mencatat lonjakan omzet hingga 300 persen. Pada 2022, Dimsum Inmons meraih gelar Juara 1 UMKM Award Kota Bandung kategori kuliner, setelah menyisihkan sekitar 10.000 peserta hingga tersaring menjadi 5 besar.

Suami Ani turut bergabung mengelola operasional sebagai COO dan mengawasi kualitas produksi, dengan prinsip kekeluargaan yang mereka terapkan dalam manajemen tim.

Memasuki 2023-2026, Dimsum Inmons bukan lagi sekadar warung gang. Kapasitas produksinya tumbuh signifikan, mencapai 2.500 kilogram per bulan, dengan tim sekitar 37 orang yang menerima gaji bulanan, sesuatu yang tidak lazim di kebanyakan usaha kuliner sejenis.

Jaringan distribusinya pun meluas. Dimsum Inmons kini memiliki mitra dan reseller di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Di Bandung sendiri, Ani telah membuka enam gerai di berbagai titik, termasuk Karang Tinggal, Kiaracondong, dan Summarecon Pasar Sinpasa Gedebage. Varian menunya pun berkembang dari 6 menu di awal berdiri, melewati 60 menu pada 2023, hingga kini mencapai lebih dari 80 varian, mulai dari Dicoba (Dimsum Oncom Bandung), Drakor (Dimsum Rasa Korea), Siceba (Siomay Cengek Domba), hingga Dimsum Mentai.

Dampak Paten Digitalisasi UMKM

Sejak 2017, Dimsum Inmons mulai memanfaatkan kanal digital untuk memperluas pasar, termasuk Shopee, GoFood, GrabFood, dan Paxel Market, selain WhatsApp dan media sosial.

"Dimsum Inmons memanfaatkan beberapa kanal digital, termasuk Shopee, GoFood, GrabFood, Paxel Market, WhatsApp, dan media sosial, sejak tahun 2017. Marketplace mulai kami manfaatkan sebagai bagian dari strategi perluasan pasar, terutama untuk produk frozen food. Bagi kami, e-commerce bukan hanya tempat berjualan, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Dimsum Inmons kepada konsumen di luar wilayah Bandung," jelas Ani.

Bagi Dimsum Inmons, e-commerce menjadi satu dari sekian kanal dalam strategi penjualan omnichannel mereka, menyumbang sekitar 5-10 persen dari omzet bulanan, melengkapi kekuatan outlet offline, food delivery, reseller, HoReCa, dan distribusi konvensional yang telah lebih dulu mereka bangun.

"Saat ini kontribusi marketplace/e-commerce masih sekitar 5-10 persen dari total omzet bulanan, karena bisnis Dimsum Inmons masih ditopang oleh kombinasi outlet offline, food delivery, reseller, HoReCa, dan distribusi. Namun kami melihat e-commerce memiliki potensi pertumbuhan yang besar, khususnya untuk produk frozen food yang memiliki jangkauan pasar lebih luas dan tidak terlalu bergantung pada lokasi outlet," kata Ani.

Menurut Ani, konsumen produk makanan membutuhkan visual dan penjelasan sebelum memutuskan membeli. Karena itu, ia mengandalkan fitur yang menggabungkan konten dengan transaksi di marketplace.

"Yang paling membantu adalah fitur yang menggabungkan konten dengan transaksi, seperti live shopping, video, affiliate, voucher, dan interaksi langsung dengan calon pembeli. Untuk produk makanan, konsumen biasanya membutuhkan visual dan penjelasan sebelum membeli. Shopee sendiri menyediakan ekosistem seperti Shopee Live dan Affiliate yang memungkinkan produk ditemukan melalui konten sekaligus dibeli langsung oleh konsumen," ungkap Ani.

Momen yang paling berkesan baginya adalah ketika konsumen yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Dimsum Inmons mulai menemukan produknya lewat marketplace.

"Yang paling berkesan adalah ketika kami mulai melihat bahwa produk Dimsum Inmons bisa ditemukan oleh konsumen yang sebelumnya tidak mengenal brand kami secara langsung. Bagi kami, itu menjadi validasi bahwa digitalisasi mampu mengubah batas pasar. Kalau sebelumnya kekuatan kami sangat bergantung pada outlet dan pelanggan sekitar Bandung, melalui e-commerce produk frozen food memiliki kesempatan untuk menjangkau konsumen dari daerah lain," tutur Ani.

Namun digitalisasi juga membawa konsekuensi. Ani mengaku tantangan terbesar berjualan online justru ada pada hal-hal yang konsumen tidak lihat langsung: margin, biaya platform, promosi, logistik, hingga menjaga kualitas produk sampai ke tangan pembeli.

"Ada. Tantangan terbesar adalah margin, biaya platform, promosi, logistik, dan menjaga kualitas produk sampai ke tangan konsumen. Di toko offline, konsumen bisa langsung melihat, mencium, dan menikmati produk. Sementara di marketplace, kami harus menerjemahkan pengalaman tersebut melalui foto, video, deskripsi, review, dan pelayanan digital," jelas Ani.

Bagi Ani, online dan offline bukan dua kanal yang saling bersaing, melainkan saling menguatkan.

"Kami tidak melihat online dan offline sebagai dua kanal yang bersaing. Keduanya harus saling menguatkan. Offline membangun pengalaman dan loyalitas pelanggan, sedangkan digital membantu memperluas jangkauan pasar. Bagi Dimsum Inmons, digitalisasi bukan sekadar pindah tempat jualan ke marketplace. Ini adalah bagian dari transformasi bisnis, dari brand kuliner lokal menjadi brand yang siap memiliki pasar yang lebih luas," pungkas Ani.

Ketika Konten dan Transaksi Menyatu

Ani Andriyani (baju merah; pemilik Dimsum Inmons) bersama para karyawannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kisah Dimsum Inmons mencerminkan pergeseran yang lebih luas di ekonomi Indonesia. Sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, setara Rp9.580 triliun, dan menyerap sekitar 97 persen dari total tenaga kerja di Indonesia, menurut data yang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Koperasi dan UKM berulang kali publikasikan. Kementerian Komunikasi dan Digital juga mencatat tingkat konektivitas internet di wilayah berpenduduk Indonesia telah mencapai sekitar 98 persen pada 2026, sehingga fokus kebijakan pemerintah kini bergeser dari sekadar mendorong UMKM masuk ke ruang digital, menjadi bagaimana UMKM bisa naik kelas dan lebih kompetitif di pasar tersebut.

Pola belanja masyarakat memperlihatkan pergeseran itu dengan jelas, terutama untuk produk makanan seperti dimsum beku. Konsumen tidak lagi sekadar mencari produk lewat pencarian biasa, melainkan menemukannya lewat konten, video pendek, siaran langsung, hingga rekomendasi kreator yang mereka ikuti. Skema seperti Shopee Live dan program afiliasi, yang menurut Ani menjadi fitur paling membantu bagi Dimsum Inmons, mewakili tren yang sama: konten dan transaksi kini menyatu dalam satu ekosistem belanja daring.

Sepanjang 2023, lebih dari 500 ribu penjual UMKM baru bergabung dengan Shopee, sementara pendapatan penjual UMKM di platform tersebut tumbuh 30 persen secara tahunan pada periode 2020-2023. Dalam keterangan resminya, Shopee Indonesia juga memaparkan bahwa Program Ekspor Shopee telah mengantarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal terjual ke berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Amerika Latin, sejak program tersebut diluncurkan pada 2019.

Cerita Dimsum Inmons menunjukkan sisi lain dari data-data itu: bagi sebagian UMKM kuliner, marketplace belum tentu menjadi kanal utama, tetapi tetap memegang peran strategis, terutama untuk memperluas jangkauan produk berbasis frozen food yang tidak terikat lokasi gerai fisik. Kontribusi 5-10 persen dari omzet bulanan Dimsum Inmons mungkin terdengar kecil dibanding UMKM lain yang sudah bertumpu penuh pada e-commerce, tetapi angka itu justru mencerminkan realitas banyak pelaku usaha kuliner: digitalisasi berjalan beriringan dengan kanal konvensional, bukan menggantikannya.

Bersaing di Tengah 38 Kompetitor

Dulu, hanya Ani yang berjualan dimsum di gang sempit itu. Kini, sekitar 38 kompetitor berdiri di kawasan yang sama. Namun Ani tidak gentar, ia justru melihat munculnya kompetitor sebagai sinyal bahwa pasar terus tumbuh.

"Selama 9 tahun ini, dari yang awalnya di daerah sini hanya saya seorang pemain dimsum, sekarang sudah hampir ada 38 kompetitor. Tapi mau gak mau bisnis seperti itu dan kompetitor itu penting agar kita tidak terlena. Sekarang market kita harus makin luas, karena pesaing kita ialah orang-orang terdekat. Kita pun berpikir bagaimana caranya kompetitor tetap bermunculan, tetapi apa yang mereka cari? Ternyata mereka mencari supplier dan saya akhirnya merasa harus sustain di sini," tegas Ani.

Ani memiliki visi jangka panjang yang jelas: menjadikan Dimsum Inmons bukan sekadar brand lokal, melainkan pemain yang jangkauannya melampaui Bandung Raya.

"Secara personal, mungkin untuk 5 tahun ke depan, saya ingin B2B tidak hanya di Bandung, inginnya ada spot agent yang merambah sampai luar Bandung Raya," pungkas Ani.

Perjalanan Dimsum Inmons adalah cermin nyata bahwa usaha yang lahir dari gang sempit sekalipun, dengan modal riset mandiri dan keberanian menjajal kanal digital sejak dini, bisa tumbuh melampaui batas tempat ia lahir. Kini omzet Ani tidak kurang dari Rp350 juta per bulan. (*)

Reporter Aris Abdulsalam
Editor Aris Abdulsalam