Bau khas kuah bakmi berpadu gurih bawang menyapa begitu pintu pagar kecil dibuka di sebuah rumah sederhana. Suasana hangat segera terasa, seolah pengunjung tengah bertamu ke rumah seorang sahabat lama, bukan sekadar mampir makan siang. Dari teras rumah inilah kisah Kedai Bakmi Pesona dimulai, kisah ketekunan seorang perantau yang menjadikan hobi memasak sebagai sumber penghidupan sekaligus ikatan dengan mahasiswa Telkom University, di Perumahan Pesona Bali Blok B4 Nomor 19, Jalan Lengkong Tengah No.19 RT.002/RW.018, Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Selasa 4 November 2025)
Koh Ferry, owner sekaligus peracik Kedai Bakmi Pesona, memulai usahanya pada tahun 2018 berawal dari hobi memasak dan kecintaannya terhadap mie. Ia mengenang masa awal berjualan yang masih dilakukan lewat sistem pre-order dengan jumlah terbatas.
“Awalnya saya cuma buka pre-order, satu kali buka paling 20 sampai 30 porsi,” ujarnya
Usaha kecil itu perlahan berkembang berkat promosi dari mulut ke mulut dan rasa penasaran warga sekitar yang berujung menjadi pelanggan setia. Koh Ferry yang berasal dari Jakarta telah menetap di Bandung sejak 2008 dan mengaku belum menemukan bakmi dengan cita rasa yang sesuai lidahnya, hingga akhirnya meracik resep sendiri. Bakmi Pesona dikenal dengan cita rasa original tanpa banyak tambahan topping.
“Saya ingin rasa bakminya yang menonjol, bukan topping-nya,” tegasnya.
Kini menu yang disajikan semakin beragam, mulai dari bakmi original, bakmi ayam, bakmi bakso, hingga pangsit, dengan harga mulai Rp18.000 hingga Rp27.000 per porsi. Tekstur mie buatan sendiri yang kenyal dan kuah gurih ringan menjadi ciri khas yang membuat pelanggan kembali.

Dalam pemasarannya, Koh Ferry memanfaatkan platform GoFood dan penandaan lokasi di Google Maps agar pelanggan mudah menemukan kedainya. Meski jarang aktif di media sosial, promosi justru datang dari mahasiswa Telkom University yang kerap mengunggah pengalaman mereka ke TikTok dan Instagram.
Kedekatan lokasi dengan kampus membuat Bakmi Pesona cepat populer di kalangan mahasiswa. Antusiasme pelanggan muda itu menjadi dorongan tersendiri bagi Koh Ferry untuk terus menjaga kualitas dan konsistensi rasa.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan tempat. Kedai yang menempati teras rumah hanya mampu menampung beberapa pengunjung dalam satu waktu. Meski sederhana, suasananya tetap hangat dan akrab, menciptakan kesan makan di rumah sendiri.
Dalam sehari, Koh Ferry bisa menjual hingga 50 porsi bakmi original, mayoritas dibeli oleh mahasiswa. Ke depannya, ia berharap dapat memperluas area makan, menambah variasi menu, dan membuka cabang di sekitar kampus lain seperti Universitas Pasundan.
“Dalam bisnis, pahami dulu apa yang kamu kerjakan. Jangan bergantung pada siapa pun. Kalau kamu bisa kerja sendiri, kamu akan lebih menghargai orang lain,” pesannya.
Dari teras rumah sederhana di Bojongsoang, Kedai Bakmi Pesona bukan sekadar warung makan. Ia menjadi ruang hangat yang mempertemukan cita rasa, ketulusan, dan semangat mahasiswa dalam satu mangkuk bakmi yang penuh cerita. (*)