Pengunjung menikmati sajian legendaris di warung Mie Kocok Karapitan Bandung (07/11/2025) (Foto: Mohammad Raihan Assidiqqi) (Foto: Mohammad Raihan Assidiqqi)

Ayo Netizen

Empat Dekade Menjaga Rasa: Kisah Kuliner Bandung yang Tak Pernah Sepi Pengunjung

Selasa 25 Nov 2025, 16:02 WIB

Hangatnya uap yang naik dari rebusankaki sapi itu menyatu dengan wangi bumbu yang lembut, menciptakan aroma khas yang hanya ditemukan di sebuah kedai tua Mie Kocok Karapitan di Jalan Karapitan No. 90 (belakang), Cikawao, Lengkong, Bandung. Di tempat inilah cita rasa dirawattiga generasi terus disajikan, Jumat (7/11/2025).

Teknik memasak turun-temurun dan pemilihan bahan yang telitimembuat hidangan ini tetap memiliki cita rasa khas meski trenkuliner terus berubah. Popularitasnya pun meningkat setelahbanyak pengunjung membagikan pengalaman mereka di media sosial, menjadikan kedai ini salah satu kuliner yang tak pernahsepi.

Pemilik Mie Kocok Karapitan sedang melayani pembeli di warungnya di Jalan Karapitan, Bandung. (7/11/2025) (Foto: Mohammad Raihan Assidiqqi) (Foto: Mohammad Raihan Assidiqqi)

Iing Maharja selaku pemilik Mie Kocok Karapitan generasiketiga, melanjutkan usaha yang telah berdiri sejak 1979 tersebutsetelah sebelumnya dikelola oleh orang tuanya (Pak Umar). Iamengatakan bahwa keluarganya mempertahankan cara masaktradisional agar rasa kuah tetap sama seperti puluhan tahun lalu.

“Kami merebus kaki sapi selama berjam-jam tanpa bahan tambahan apa pun supaya rasa gurihnya tetap alami,” ungkapnya.

Usaha yang bermula dari tenda sederhana sebelum pindah kelokasi permanen pada 2007 itu kini menjadi salah satu kulinerikonik yang selalu ramai oleh warga Bandung maupunwisatawan. Setiap hari, pelanggan datang silih berganti untukmenikmati semangkuk mie kocok dengan kikil empuk denganaroma harum dari sum-sum tulang kaki yang menjadi ciri khaskedai ini. Pemilik usaha itu menjelaskan bahwa konsistensi dalammenjaga bahan baku menjadi hal yang paling dijaga keluarganya.

“Kami tetap memakai kaki sapi pilihan agar tekstur kikilnya lembut dan kaldunya keluar sendiri,” Ia menjelaskan.

Selain mie kocok, menu nasi soto kaki sapi juga menjadi favorit, terutama bagi pekerja kantoran pada jam makan siang. Harga per porsi mulai Rp38.000 hingga Rp53.000 tergantung topping.Popularitas kedai ini semakin meningkat setelah banyak ulasanpositif dari food vlogger dan wisatawan yang membagikanpengalaman mereka di media sosial. Kondisi itu membuat kedaiini semakin dikenal luas tanpa harus melakukan promosi besar.

“Saya ingin menjaga kedai ini tetapapa adanya supaya pelanggan merasakan suasana dan rasanyaseperti dulu,” ungkap Iing Maharja.

Hingga kini, Mie Kocok Karapitan tetap menjadi destinasi kulineryang tidak pernah sepi pengunjung. Cita rasa otentik yang diwariskan lintas generasi menjadikan kedai ini sebagai bagianpenting dari sejarah kuliner Sunda di Bandung. (*)

Tags:
UMKM BandungMie Kocok Karapitankuliner Bandung

raihan assidiqqi

Reporter

Aris Abdulsalam

Editor